Selamat datang di ForSa! Forum diskusi seputar sains, teknologi dan pendidikan Indonesia.

Welcome to Forum Sains Indonesia. Please login or sign up.

Juni 27, 2022, 09:37:59 PM

Login with username, password and session length

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
  • Total Anggota: 26,754
  • Latest: sainsftw
Stats
  • Total Tulisan: 139,633
  • Total Topik: 10,390
  • Online today: 85
  • Online ever: 441
  • (Desember 17, 2011, 09:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 40
Total: 40

Aku Cinta ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Reaktor Nuklir untuk Tenaga Listrik

Dimulai oleh Mat Dillom, Juni 28, 2010, 03:18:30 AM

« sebelumnya - berikutnya »

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Mat Dillom

Ada yang membuat saya sedih ketika banyak masyarakat yang menolak dibangunnya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Artinya, masyarakat kita akan terus memiliki ketergantungan terhadap minyak bumi dan batu bara. Yang sudah tentu akan membawa kerusakan bagi lingkungan yang lebih banyak. Hingga pada suatu saat nanti, Indonesia akan mengalami krisis energi yang parah.

Pembangkit listrik tenaga nuklir sebenarnya adalah alternatif yang brilian. Biaya yang sedikit dan menghasilkan energi listrik yang besar yang sangat dibutuhkan masyarakat. Bayangkan saja, dengan 1 gram uranium akan dapat dihasilkan listrik sebesar 100 watt selama 15 tahun secara terus menerus. Terlebih, bumi Indonesia memiliki kandungan uranium yang luar biasa banyaknya.

Nuklir memang bisa dibuat bom yang sudah barang tentu akan merugikan masyarakat. Tetapi, nuklir untuk pembangkit listrik tenaga nuklir tidaklah mencukupi untuk dibuat bom. Jadi, alasan masyarakat ketakukan akan bahaya nuklir seperti yang terjadi di Cernobil atau di Nagasaki dan Hirosima merupakan penolakan yang tidak beralasan.

Bagaimana pembangkit listrik tenaga nuklir itu bekerja?. Video di youtube ini saya berharap akan memberikan gambaran buat masyarakat tentang pembangkit listrik tenaga nuklir itu sebenarnya.

http://www.youtube.com/watch?v=fjgdgAhOzXQ&feature=related

http://www.youtube.com/watch?v=cnjGYHOePu0&feature=related

http://www.youtube.com/watch?v=NW9qB2dN_o8&feature=related

http://www.youtube.com/watch?v=VrhzkoNU84g&feature=related

semut-ireng

Perlu pengkajian lebih mendalam,  bukan hanya dilihat dari efisiensi beaya 1 gram uranium bisa menghasilkan tenaga listrik yang besar selama sekian tahun  :

1.  Resiko kecelakaan seperti yang terjadi di Chernobil,  itu mungkin yang terbayang di benak masyarakat.   Kengerian seperti itu bisa dipahami,  lebih2 jika orang tahu bahwa tingkat kesadaran keselamatan kerja di Indonesia masih memprihatinkan.  Banyak contohnya,  ingat kebakaran tangki minyak di Semper Jakarta Utara yang lalu,  kebakaran kafe yang terjadi di Medan,  kebakaran restoran di Jakarta,  dan kemudian terulang lagi baru2 ini kebakaran kafe di Surabaya .......

2.   Dampak lainnya yang lebih besar,  karena dengan membangun instalasi listrik tenaga nuklir,  berarti kita membangun sumber radiasi baru  -  sumber radiasi terbesar buatan manusia  -  setelah sumber2 radiasi seperti kabel tegangan tinggi,  antena pemancar radio / tv  dsbnya .....

Kalau ngga salah,  ada beberapa negara bagian di AS yang udaranya sudah tercemar radiasi,  dan hal itu sangat dirahasiakan .........Dampaknya apa  ?  Merajalelanya penyakit infeksi.   Data statistik menunjukkan,  selama 100 tahun terakhir / abad-20,  korban meninggal akibat penyakit infeksi di AS adalah terbesar.  Korban meninggal akibat perang - yang dialami AS selama abad-20  - jumlahnya kurang dari 5 % dibandingkan korban meninggal akibat penyakit infeksi .............Hahaha,  dan mereka masih bilang virus itu berasal dari makhluk hidup ................."  they believe "  soal itu.

The Houw Liong

Energi alternatif yang cukup berarti(significant) untuk bisa menggantikan BBM ialah tenaga nuklir. Hal ini disadari oleh negara maju seperti Prancis yang sudah menggunakan 78% kebutuhan energinya dari PLTN, walaupun negara tsb menyadari juga risiko yang harus ditanggungnya jika terjadi kecelakaan dan masalah sampah nuklir yang masih berbahaya.

Alternatif kedua ialah mengubah pola hidup yang boros energi dengan pola hidup yang hemat energi, sambil mengembangkan energi alternatif yang ramah lingkungan hidup. Alternatif ini cocok untuk negara Indonesia yang penguasaan teknologi nuklirnya masih terbatas dan tidak mempunyai dana untuk pembangunan PLTN yang dananya puluhan trilyun rupiah.
HouwLiong

ridwan.surono

Teknologi Nuklir yang sekarang tentunya telah mengalami kemajuan sehingga keandalan dan keamanannya cukup tinggi. Kapal selam nuklir Rusia banyak yang diubah menjadi pembangkit tenaga listrik terapung dan disewakan. Daya yang dihasilkan cukup besar 30 -90 Mw. Sewa saja dari Rusia - perkara pengoperasian maupun limbahnya biar jadi urusan Rusia - Beri pelabuhan  yang aman dari gempa dan Tsunami- jaga pakai tentara kalau perlu. Sambil mengembangkan teknologi energi yang ramah lingkungan - Angin - Sinar Matahari - Panas Bumi, sambil juga berperi kehidupan pemakaian energi tepat guna - AC dibuang kontruksi banguan yang memanfaatkan cahaya matahari sebanyak mungkin - dengan aliran udara yang dapat mendinginkan ruangan,  jam pemakaina lampu reklame  dibatasi . Hotel - rumah sakit memakai pemanas surya untuk air hangat.

Mat Dillom

#4
@Bung semut, bener kata Bung THL dan rs, bahwa teknologi nuklir udah sangat maju dan dunia sudah memasuki era ke 2 nuklir. Dimana banyak dibangun "small nuclear reactor". Kita udah ketinggalan jauh hanya karena alasan yang klise.

Sepertinya, kita harus membangunkan masyarakat untuk sadar sebelum kita saling hancurkan diri karena berebut energi. Belum lagi negara maju yang membiarkan kondisi ini agar uranium kita dijual murah ke mereka.

Uranium Kalimantan ternyata banyak dibeli oleh perancis melalui "pasar gelap banget". Gelap banget artinya membeli dari orang kita yang sebenarnya tidak menguntungkan pemerintah dan bangsa sama sekali.

========================================

Kalau kita perhatikan dengan seksama video di youtube itu, kita bisa mengatuhi bahwa fisi dan fusi nuklir hanya digunakan untuk membuat alat menjadi panas secara ektrim, lalu air dialirkan. Air yang kena panas akan menguap dan akhirnya uapnya mendorong turbin.

Limbahnya lebih banyak airnya ketimbang sampah radioactive. Lagi pula sampah radioactivenya masih bisa didaur ulang untuk menjadi radio isotop dan lain sebagainya yang bermanfaat. Air yang terkena radiasi juga tidak dibuang tapi didaur ulang untuk kemudian dipanaskan lagi.

Andai terjadi kebocoran, ahli-ahli kita sudah sangat menguasa analisa dampak lingkungannya. Sehingga kalau pun terjadi kebocoran dampak bagi masyarakat sangat minim dan mungkin ada bagi lingkungan aja. Tapi itu pun sudah diantisipasi.

Takut meledak?. Rasanya jauh untuk meledak dan mengenai masyarakat. Karena ledakannya tidak akan sebesar bom Hirosima dan Nagasaki serta Chernobil. Karena kita tidak memerlukan reactor nuklir yang besar untuk seperti yang dimiliki negara maju. Tapi kita butuh reactor nuklir yang kecil-kecil yang tersebar merata diseluruh negeri. Hingga manfaatnya dapat dirasakan secara merata pula dalam waktu yang cukup lama.

semut-ireng

Saya juga sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Bung THL dan Bung RS,  juga dengan apa yang anda sampaikan bahwa teknologi nuklir sudah sangat maju dstnya,  juga ahli2 kita sendiri sudah sangat menguasainya,  termasuk ahli2 kita dalam menganalisa dampak lingkungannya.   Namun persoalannya bukan hanya menyangkut keahlian yang menanganinya,  melainkan juga manajemen,  sistem, birokrasi, mental  dsbnya.   Bangsa Indonesia memiliki pengalaman yang cukup banyak,  ambil satu contoh saja tentang pengembangan industri dirgantara yang dulu pada awalnya banyak diharapkan bisa menjadi solusi tranportasi antar pulau,  juga memberikan konstribusi yang nyata kepada bangsa Indonesia.  Setelah lebih dari dua dekade berlalu,  apakah tujuan yang diharapkan itu bisa tercapai,  dan bagaimana perkembangannya saat ini  ??  Banyak contoh lain, tetapi tidak perlu saya sampaikan di sini.

Pi-One

Aku percaya bahwa teknologi nuklir adalah alternatif sumber energi yang bagus. Hanya saja, hingga saat ini aku amat tidak percaya apda kualitas sdm kita. Dengan perilaku dan korupsi yang merajalela...

Takagi Fujimaru

Dan hal itu yang menghambat kemajuan bangsa kita. Betapa tidak, sekolah jaman sekarang mahalnya minta ampun. Bagaimana bisa maju kualitas sdm bangsa kita? Di mata para penguasa, sepertinya hanya terlihat 'uang' daripada 'ilmu'. ckckck

Kutip dari: ridwan.surono pada Juni 28, 2010, 08:15:04 AM
Teknologi Nuklir yang sekarang tentunya telah mengalami kemajuan sehingga keandalan dan keamanannya cukup tinggi. Kapal selam nuklir Rusia banyak yang diubah menjadi pembangkit tenaga listrik terapung dan disewakan. Daya yang dihasilkan cukup besar 30 -90 Mw. Sewa saja dari Rusia - perkara pengoperasian maupun limbahnya biar jadi urusan Rusia - Beri pelabuhan  yang aman dari gempa dan Tsunami- jaga pakai tentara kalau perlu. Sambil mengembangkan teknologi energi yang ramah lingkungan - Angin - Sinar Matahari - Panas Bumi, sambil juga berperi kehidupan pemakaian energi tepat guna - AC dibuang kontruksi banguan yang memanfaatkan cahaya matahari sebanyak mungkin - dengan aliran udara yang dapat mendinginkan ruangan,  jam pemakaina lampu reklame  dibatasi . Hotel - rumah sakit memakai pemanas surya untuk air hangat.
Kalau pakai solar cell, mungkin ga sebagian besar jendela gedung2 pencakar langit diganti dengan solar cell? Cukup luas menurutq...
Belajar itu buat cari ilmu, bukan cari nilai.

Mat Dillom

Kutip dari: Pi-One pada Juni 28, 2010, 07:57:02 PM
Aku percaya bahwa teknologi nuklir adalah alternatif sumber energi yang bagus. Hanya saja, hingga saat ini aku amat tidak percaya apda kualitas sdm kita. Dengan perilaku dan korupsi yang merajalela...

Bung, pada kenyataannya jika kita tidak mempercayai seseorang, maka seseorang itu makin merugikan kita. mari kita coba percaya sama kemampuan bangsa sendiri. Insya Allah dengan memberi kesempatan itu, kita akan terima manfaat yang banyak.

Mat Dillom

Kutip dari: Takagi Fujimaru pada Juni 28, 2010, 08:32:55 PM
Dan hal itu yang menghambat kemajuan bangsa kita. Betapa tidak, sekolah jaman sekarang mahalnya minta ampun. Bagaimana bisa maju kualitas sdm bangsa kita? Di mata para penguasa, sepertinya hanya terlihat 'uang' daripada 'ilmu'. ckckck

Kutip dari: ridwan.surono pada Juni 28, 2010, 08:15:04 AM
Teknologi Nuklir yang sekarang tentunya telah mengalami kemajuan sehingga keandalan dan keamanannya cukup tinggi. Kapal selam nuklir Rusia banyak yang diubah menjadi pembangkit tenaga listrik terapung dan disewakan. Daya yang dihasilkan cukup besar 30 -90 Mw. Sewa saja dari Rusia - perkara pengoperasian maupun limbahnya biar jadi urusan Rusia - Beri pelabuhan  yang aman dari gempa dan Tsunami- jaga pakai tentara kalau perlu. Sambil mengembangkan teknologi energi yang ramah lingkungan - Angin - Sinar Matahari - Panas Bumi, sambil juga berperi kehidupan pemakaian energi tepat guna - AC dibuang kontruksi banguan yang memanfaatkan cahaya matahari sebanyak mungkin - dengan aliran udara yang dapat mendinginkan ruangan,  jam pemakaina lampu reklame  dibatasi . Hotel - rumah sakit memakai pemanas surya untuk air hangat.
Kalau pakai solar cell, mungkin ga sebagian besar jendela gedung2 pencakar langit diganti dengan solar cell? Cukup luas menurutq...

Di Amerika semua serba terlihat mudah. Itu yang saya rasakan ketika saya menginjakkan kaki di tanah penuh impian. Betapa tidak, selama di Indo saya buta soal tenaga nuklir untuk listrik. Informasi tentang itu ternyata budah sekali diperoleh, jadi masyarakat termotivasi untuk maju atau jika tidak maka mereka akan tertinggal. di Indonesia semua dibuat rumit. Bahasa ilmu pengetahuan kerap menggunakan bahasa intelektual yang sulit dimengerti oleh masyarakat. Akibatnya ada jarak antara iptek dengan masyarakat Indonesia. Kondisi ini justru diciptakan oleh mereka yang terdidik.

Benar sekali bung. untuk kebutuhan listrik suatu gedung bertingkat, akan membutuhkan luas tanah untuk sollar sel 20 hingga 100 kali dari luas lahan gedung bertingkat itu.

semut-ireng

Kutip dari: Mat Dillom pada Juni 28, 2010, 11:32:50 PM
di Indonesia semua dibuat rumit. Bahasa ilmu pengetahuan kerap menggunakan bahasa intelektual yang sulit dimengerti oleh masyarakat. Akibatnya ada jarak antara iptek dengan masyarakat Indonesia. Kondisi ini justru diciptakan oleh mereka yang terdidik.

jadi begitu yaa .....hmm ..........

Mat Dillom

#11
Kutip dari: semut-ireng pada Juni 28, 2010, 11:54:39 PM
Kutip dari: Mat Dillom pada Juni 28, 2010, 11:32:50 PM
di Indonesia semua dibuat rumit. Bahasa ilmu pengetahuan kerap menggunakan bahasa intelektual yang sulit dimengerti oleh masyarakat. Akibatnya ada jarak antara iptek dengan masyarakat Indonesia. Kondisi ini justru diciptakan oleh mereka yang terdidik.

jadi begitu yaa .....hmm ..........

Iya bung, Jepang dan China maju karena semua bahasa iptek diusahakan terterjemahkan ke dalam bahasa ibu mereka. Penelitian baru-baru ini (saya lupa siapa yang meneliti), bahasa Ibu sebagai bahasa pengantar pendidikan adalah bahasa yang paling efektif untuk kemajuan dibidang iptek suatu bangsa (kira-kira intinya begitu).

Takagi Fujimaru

Kutip dari: semut-ireng pada Juni 28, 2010, 11:54:39 PM
jadi begitu yaa .....hmm ..........
Kayak signature-nya mbak ary nih....ahahaha~

Kutip dari: Mat Dillom pada Juni 28, 2010, 11:32:50 PM
Benar sekali bung. untuk kebutuhan listrik suatu gedung bertingkat, akan membutuhkan luas tanah untuk sollar sel 20 hingga 100 kali dari luas lahan gedung bertingkat itu.
Nah pertanyaannya, jika jendela2nya diganti dengan solar cell bisa apa engga? Kan lumayan kena sinar matahari tuh? Sayang banget kan kalo ga dimanfaatin?
Belajar itu buat cari ilmu, bukan cari nilai.

Mat Dillom

Kutip dari: Takagi Fujimaru pada Juni 29, 2010, 03:34:09 AM
Nah pertanyaannya, jika jendela2nya diganti dengan solar cell bisa apa engga? Kan lumayan kena sinar matahari tuh? Sayang banget kan kalo ga dimanfaatin?

Itu bagus. Harusnya malah Jakarta yang sangat panas, di jalan-jalan harusnya dibuat atap solar sel. Selain listriknya sangat dibutuhkan, tentu akan membuat teduh Jakarta. Jakarta teduh, maka otak penduduknya akan juga teduh dan tidak emosional :D. Kalau kepala kepanasan, orang akan mudah marah khan?!.

Takagi Fujimaru

Kutip dari: Mat Dillom pada Juni 29, 2010, 03:43:13 AM
Itu bagus. Harusnya malah Jakarta yang sangat panas, di jalan-jalan harusnya dibuat atap solar sel. Selain listriknya sangat dibutuhkan, tentu akan membuat teduh Jakarta. Jakarta teduh, maka otak penduduknya akan juga teduh dan tidak emosional :D. Kalau kepala kepanasan, orang akan mudah marah khan?!.
Hm, iya juga sih. Pada temperatur tinggi, orang juga lebih gampang temperamen. Eh, tapi gimana critanya kok bisa teduh? Apa ditutupi solar cell gitu? wow.... ::)
Belajar itu buat cari ilmu, bukan cari nilai.