Forum Sains Indonesia

Ilmu Sosial => Ilmu Ekonomi dan Manajemen => Topik dimulai oleh: Dhantez pada Oktober 28, 2011, 06:03:45 PM

Judul: Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: Dhantez pada Oktober 28, 2011, 06:03:45 PM
Sebenernya ini topik psikologi.. cm krn blm ada sub forum yg sesuai dan ada bahasan 'money' disini, gpp lah dibahas di forum ekonomi ;D

Tentu kita sudah familiar dg ungkapan: money can buy happiness - uang bisa membeli kebahagiaan..

Ribuan dan jutaan orang di dunia memburu uang krn percaya mereka akan lebih bahagia saat memiliki lebih banyak uang. Tapi pertanyaannya, sudahkah ada penelitian empiris yg mengkonfirmasi bahwa memiliki lebih banyak uang akan membawa kebahagiaan lebih? Atau itu hanyalah sebuah kepercayaan umum yg mulai berubah menjadi mitos?? ;D

Begitu banyak penelitian dilakukan di berbagai negara menunjukkan hal yg berlawanan dg pernyataan di atas. Memiliki lebih banyak uang memang, tak bisa dipungkiri, akan membelikan kamu barang2 atau fasilitas yg sebelumnya tdk terjangkau, TAPI itu tidak membuat kamu lebih bahagia. Data dari penelitian National Opinion Research Center di Universitas Chicago menunjukkan bahwa meski rata2 pendapatan per kapita penduduk Amerika telah meningkat pesat sejak tahun 60an hingga th 2000, tingkat kepuasan dari penduduk bergerak scr konstan mendatar tanpa menunjukkan adanya tren peningkatan.

Kemudian data hasil survey dari ribuan universitas di seluruh dunia yg dikolaborasikan oleh Michalos (Univ Northern British Columbia) dan Inglehart (Univ. Michigan) menunjukkan bahwa level kebahagiaan umum dari penduduk di berbagai belahan dunia TIDAK MEMILIKI KORELASI dg tingkat kemakmuran negara itu. Hanya di negara2 yg masih memiliki banyak penduduk miskin spt India, uang menjadi faktor kuat sbg indikator kebahagiaan.

Namun pada akhirnya, aku sendiri melihat bahwa itu lebih mirip spt ilusi ketimbang kenyataan. Keinginan kuat utk memiliki berbagai barang mewah membuat kebanyakan org2 di negara2 miskin menyangka kebahagiaan akan datang ketika mereka bisa membeli barang2 itu. Sayangnya, ketika barang2 itu terbeli, ada lebih banyak lagi barang2 yg lebih mahal untuk dibeli.. Lalu apa? Cari lebih banyak uang lagi? Pada titik itulah sebatang coklat yg awalnya sangat nikmat akan terasa pahit di mulut.. Anda tidak menjadi lebih bahagia dg barang2 mewah yg sudah anda miliki...

Uang tidak membelikanmu kebahagiaan. Itulah yg dikatakan oleh hasil penelitian2 empiris di seluruh dunia.

Mana yg lebih anda percayai? Kepercayaan umum atau Penelitian ilmiah? ayo berikan pendapat kamu..;D

Sorry but you are not allowed to view spoiler contents.
Judul: Re: Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: Fariz Abdullah pada Oktober 28, 2011, 11:00:09 PM
Menurutku apa pun bisa membuat kita bahagia, termasuk uang..Bahagia atau tidak, itu terserah kita, bukan terserah lingkungan atau keadaan..
Uang sangat penting sebagai penghargaan atas kerja dan jasa kita..Dengan uang kita bisa membahagiakan diri kita, orang yang kita cintai dan orang lain yang menderita.. 
Judul: Re: Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: Farabi pada Oktober 29, 2011, 02:27:45 AM
Tentu saja tidak, tapi untuk kebahagiaan selalu dibutuhkan uang ;D
Sejauh pengalaman, semakin banyak uang, semakin tinggi gaya hidup, dan selalu merasa kurang. Beda sama waktu kecil waktu rumah masih tripleks dan tidak merokok, bisa hidup doang sambil window shopping aja udah bahagia, bersyukur. Makanya saya paling pantang berhutang, bisa rusak kebahagiaan.

MOHON DIPERHATIKAN INI TIDAK BERARTI SAYA TIDAK BUTUH UANG. ;D
Judul: Re: Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: Social Permutation pada November 04, 2011, 12:27:00 AM
ini topiknya agak galau sih, tapi kebahagiaan itu bisa di dapat dari mana saja, bahkan dari mencuri sekalipun (kalau orang tersebut memiliki sifat klepto)...bung dhantez sedang galau dengan seorang pengusaha soto di daerah solo, jawa tengah...bwhahahaha...
Judul: Re: Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: Dhantez pada November 04, 2011, 02:39:26 AM
Wahahahah.... bung social ini lama ga keliatan...

dapat salam penuh kuah soto dan kangen dari pengusaha sotonya... ;D
Judul: Re: Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: Monox D. I-Fly pada November 05, 2011, 07:11:48 AM
Setuju jg sih... Inget dulu waktu kerja, walaupun gajiQ kecil tp udah cukup utk memenuhi apa yg q inginkan... Sayangnya q nggak punya waktu banyak utk menikmatinya karena terbentur jam kerja... Malah kesiksa sendiri kl gitu...
Judul: Re: Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: exile_rstd pada November 05, 2011, 07:58:16 AM
uang hanya bisa memuaskan keinginan dan kebutuhan kita, tapi bahagia jiwa/perasaan itu hanya bisa didapatkan dari orang-orang yang kita sayang. karena perasaan seperti bahagia itu adalah salah satu hal yang absolut. perjalanan hidup saya memang baru sebentar ya 16 tahun. tapi saya sudah banyak melihat, org yang keinginannya selalu terpenuhi dgn uang tapi tdk mendapatkan perhatian dari orang tua-nya membuatnya tidak bahagia. (maaf ya) bahkan pada SMP kelas 3, org ini punya kelainan suka sesama jenis dan pesta obat haram di diskotik pada saat dia duduk di bangku SMA.
Judul: Re: Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: Dhantez pada November 05, 2011, 10:55:21 PM
Hahaha, bener sekali.. ada banyak hal yg mempengaruhi kebahagiaan.. menggantungkan kebahagiaan pd kekayaan atau kemewahan sama saja menjerat leher anda sendiri..

Profesor psikologi Univ.Chicago bernama Sonja Lyubomirsky (penulis the How of Happiness) telah meneliti ttg sumber2 kebahagiaan selama 18 tahun (dari tahun 90).. dan beliau menemukan bahwa scr genetis kita memiliki apa yg disebut 'happiness set point' / titik awal kebahagiaan dan setiap org memiliki titik awal yg berbeda2.. Ini menjelaskan knp ada org yg meskipun hidupnya pas2an, tapi dia selalu bisa tertawa bahagia.. Tapi ada juga yg hidupnya bergelimang kemewahan, tapi dia selalu merasa ada yg kurang.

Konsep genetic set point tadi pun memunculkan apa yg disebut dg Hedonic Treadmill.. Ini adl konsep yg menunjukkan, hal besar apapun yg terjadi pada kehidupan anda (anda menang undian, dpt hadiah, dsb), hanya akan membawa kebahagiaan sesaat.. dan pada akhirnya anda akan kembali pada level kebahagiaan awal alias genetic set point td.. ;)

Ini ada dua pranala luar yg bisa dibaca... ;D
Wawancara dg Ibu Sonja Lyubomirsky
Blog ttg Hedonic Treadmill
Judul: Re: Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: exile_rstd pada November 05, 2011, 11:38:25 PM
yap benar sekali, kecuali PS. buat saya ga ada bisa yang nandingin kalau lagi sendiri dirumah ditambah lg kalau cuacanya hujan dingin mantap tuh sambil minum kopi ;D
Judul: Re: Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: 12 pada November 06, 2011, 07:06:07 AM
happiness itu apa sih? kalo diartikan sebagai pemenuhan kebutuhan dan keinginan maka uang bisa memenuhi semua kebutuhan dan keinginan. tetapi menurut saya happiness itu lebih jauh daripada sekedar pemenuhan keingnan/kebutuhan. happiness terjadi ketika keinginan dan kebutuhan terpenuhi dan hal itu juga memberikan arti/nilai/kebahagiaan bagi orang lain. jadi happiness memiliki fungsi sosial tidak hanya individual.
Judul: Re: Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: Farabi pada November 06, 2011, 01:52:25 PM
Plus,  benar jerat, kebanyakan orang yang biasa hidup dengan gaya hidup tinggi mau turun lagi susah, malu, gengsi, apalagi kalo dulu mandang rendah orang yang lebih miskin, wah udah, beneran, jerat tuh. Ga jarang orang kaya yang bangkrut udah itu nipu, saya udah ga heran.
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: binekas pada Januari 02, 2012, 12:49:44 AM
bahagia itu yang ngerasainnya hati tapi hati itu ada didalam badan dan kita tau badan perlu makanan dan berbagai fasilitas untuk menjadikan badan menjadi tetap sehat dan bugar. untuk memberikan fasilitas itu dibutuhkan uang yang cukup, cukup untuk makan, untuk merawat diri, cukup untuk mengobati dan lain-lain. tapi badan akan lebih senang dan tentram apabila diberikan fasilitas yang lebih dan itu memerlukan uang yang lebih juga. jadi uang punya peranan penting dalam kebahagiaan diri.
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: exile_rstd pada Januari 02, 2012, 11:19:10 AM
bahagia itu yang ngerasainnya hati tapi hati itu ada didalam badan dan kita tau badan perlu makanan dan berbagai fasilitas untuk menjadikan badan menjadi tetap sehat dan bugar. untuk memberikan fasilitas itu dibutuhkan uang yang cukup, cukup untuk makan, untuk merawat diri, cukup untuk mengobati dan lain-lain. tapi badan akan lebih senang dan tentram apabila diberikan fasilitas yang lebih dan itu memerlukan uang yang lebih juga. jadi uang punya peranan penting dalam kebahagiaan diri.
apakah 'hati' (atau perasaan yang lebih tepatnya) akan berpengaruh sepenuhnya terhadap makanan?
saya rasa tidak. sebelumnya perlu dipahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan perasaan.
tubuh dan perasaan itu berbeda.

IMHO; perasaan adalah hasil/sesuatu yang berasal dari pusat kesadaran yaitu otak.
(sangat rumit bagi saya bagaimana menggambarkan atau mengilustrasikan kinerja otak untuk terbentuknya perasaan ini) atau arti dari perasaan itu sendiri.

walaupun dalam keadaan kaya material, perusahaan dimana-mana dsb tapi ketika perasaan atau suasana hati sedang stress (misalnya) untuk beberapa orang, makanan tidak akan ada pengaruhnya.
atau malah lebih dari itu...
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: binekas pada Januari 03, 2012, 01:27:54 AM
memang yang disebut perasaan itu apa? ada hubungan langsung kah antara perasaan dan kondisi tubuh?
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: exile_rstd pada Januari 03, 2012, 12:20:03 PM
Kutip
pe.ra.sa.an
[n] (1) hasil atau perbuatan merasa dng pancaindra: bagaimanakah menurut ~ mu, badan saya panas ataukah dingin?; (2) rasa atau keadaan batin sewaktu menghadapi (merasai) sesuatu: bekerja dng ~ gembira, hasilnya akan memuaskan; (3) kesanggupan untuk merasa atau merasai: sangat tajam ~ nya; (4) pertimbangan batin (hati) atas sesuatu; pendapat: pd ~ ku, itu tidak benar
Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/perasaan#ixzz1iJFiL17f
comment yang saya maksud itu, bahwa perasaan dan tubuh itu berbeda dari segi-segi tertentu.
kalau hubungannya pastinya ada. selalu timbal-balik.
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: Monox D. I-Fly pada Januari 05, 2012, 11:07:29 PM
bahagia itu yang ngerasainnya hati tapi hati itu ada didalam badan dan kita tau badan perlu makanan dan berbagai fasilitas untuk menjadikan badan menjadi tetap sehat dan bugar. untuk memberikan fasilitas itu dibutuhkan uang yang cukup, cukup untuk makan, untuk merawat diri, cukup untuk mengobati dan lain-lain. tapi badan akan lebih senang dan tentram apabila diberikan fasilitas yang lebih dan itu memerlukan uang yang lebih juga. jadi uang punya peranan penting dalam kebahagiaan diri.

Hmmm... Tapi bukankah di sini kita tidak bicara tentang "hati" secara harafiah? Yang dimaksud adalah kebahagiaan fisik dan psikis, jasmani & rohani... Bukan "hati" dalam arti sesungguhnya...
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: The Houw Liong pada Januari 06, 2012, 05:22:30 AM
Uang dapat membeli obat tetapi tidak bisa membeli kesehatan.
Uang bisa membeli kasur tetapi tidak bisa membeli tidur.
Uang bisa membeli perempuan tetapi tidak bisa membeli istri.
Uang bisa membeli segala macam benda tetapi tidak bisa membeli kebahagiaan.
Uang bisa membeli rumah (house) tetapi tidak bisa membeli rumah-tangga (home)
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: mhyworld pada Januari 06, 2012, 07:22:54 AM
IMO, uang adalah alat untuk mengkuantisasi jasa orang lain terhadap seseorang secara obyektif.
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: Monox D. I-Fly pada Januari 07, 2012, 07:48:55 AM
IMO, uang adalah alat untuk mengkuantisasi jasa orang lain terhadap seseorang secara obyektif.

Jadi, dirimu bilang sebagai kuantitas untuk mengukur kualitas?
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: mhyworld pada Januari 07, 2012, 08:48:43 AM
Jadi, dirimu bilang sebagai kuantitas untuk mengukur kualitas?
kualitas bisa dinyatakan sebagai kombinasi dari beberapa kuantitas. Contoh, untuk mengetahui kualitas air minum, bisa ditunjukkkan dengan kuantitas dari beberapa besaran pengukuran, seperti pH, salinitas, conductivity, warna/turbidity, bau, konsentrasi kontaminan seperti logam berat, bahan beracun lain, bakteri patogen, dll.
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: Fariz Abdullah pada Januari 07, 2012, 09:18:28 AM
Apakah uang bisa membeli kebahagiaan?

Menarik utk ditanyakan apakah secara logika orang miskin lebih bahagia dari orang kaya?

Untuk apakah motivasi Anda bekerja? Apakah untuk mendapatkan uang? Lantas untuk apakah uang itu bagi Anda? Untuk membuat hati Anda bahagia atau menderita? 

Jika utk membuat hati Anda menderita, mengapa bekerja?

Menurut saya uang hanyalah alat bantu..Dia bisa membantu Anda utk bahagia..Sedangkan keputusan akhir untuk bahagia atau tidak, sepenuhnya ada di hati Anda..
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: skuler pada Januari 08, 2012, 03:25:39 PM
sistem kapitalisme yg menyebabkan demikian. Sekedar gaya hidup tdk akan menyebabkan ketergantungan berlebih terhadap uang. Zaman sekarang, segalanya butuh uang, maka (saat ini) uang adalah segalanya. Ketika orang yg anda cintai membutuhkan bantuan, dan alat bantunya adalah uang, apa yg akan anda lakukan untuk membahagiakan orang (yg anda cintai) itu?
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: ytridyrevsielixetuls pada Januari 16, 2012, 01:05:08 PM
Uang adalah segalanya!

Beri saya uang dan buktikan kalau memang saya salah!
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: mhyworld pada Januari 17, 2012, 02:47:31 AM
IMO, uang adalah alat untuk mengkuantisasi jasa orang lain terhadap seseorang secara obyektif.
Berapapun banyaknya uang yang anda miliki, anda tidak bisa membeli sesuatu yang belum bisa dibuat oleh manusia pada saat itu.
Contoh, sebelum teknologi cangkok jantung ditemukan, jika jantung anda bermasalah, anda tidak bisa menggantinya dengan jantung yang baik, tidak peduli berapapun banyaknya uang yang anda miliki saat itu.
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: Fariz Abdullah pada Januari 17, 2012, 03:52:15 AM
Uang adalah segalanya!

Beri saya uang dan buktikan kalau memang saya salah!

Uang sangat-sangat penting..Untuk itulah kita bekerja..Dengan uang kita bisa survive dalam hidup, tidak menyusahkan orang lain..dan bahkan bisa memberi kepada orang lain, dan berkontribusi pada kesejahteraan orang lain..

Dengan memiliki banyak uang, maka kita berpotensi besar untuk bahagia..Buktinya tidak ada yang bercita-cita jadi miskin bukan?

Kadangkala orang berpendapat bahwa "kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang" hanyalah sebagai penghiburan diri semata..Ini bentuk kalimat "bijak" yang akan menyelamatkan mental kita, ketika faktanya kita tidak kaya, dan bahkan hidup dalam kekurangan..

Tetapi untuk mengatakan uang adalah segalanya, menurut saya kurang tepat juga..Uang adalah alat untuk mencapai kebahagiaan..Tetapi sebenarnya kebahagiaan itu sendiri adalah MIND SET..Kita bebas dan otonom untuk untuk merasa bahagia atau tidak, tidak tergantung faktor dari luar, termasuk uang..Tetapi "kemampuan" kita untuk membentuk mind set "bahagia tanpa uang" sangat berat, manakala himpitan ekonomi menekan kita..Tidak sembarang orang bisa begitu..Hanya orang-orang dengan kualitas mind set hebat yang bisa melakukannya..
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: ? pada Januari 18, 2012, 12:38:34 AM
Saya merasa agak aneh kalau pertanyaan ini dibahas dalam sub forum ekonomi dan manajemen. Apakah ekonomi dan manajemen membahas mengenai kebahagiaan atau pemenuhan kebutuhan manusia?
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: ? pada Januari 18, 2012, 12:40:30 AM
Ah, ternyata sudah disinggung di awal post. Maaf kalau saya tidak teliti.

Ada pendapat yang menarik, dengan banyaknya jumlah barang justru menyebabkan seseorang menjadi lebih tidak bahagia.

Salah satunya pernah saya lihat di forum TED.
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: kuncungs pada Januari 19, 2012, 11:28:09 AM
Gw gak suka dg ide penggunaan instrumen moneter buat dapetin barang/jasa.. Lebih baik sistem barter, jadi orang yg punya skill yg benar2 dihargai, bukan orang yg punya setumpuk kertas bercetak banyak angka 0.
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: mhyworld pada Januari 20, 2012, 09:38:56 AM
Gw gak suka dg ide penggunaan instrumen moneter buat dapetin barang/jasa.. Lebih baik sistem barter, jadi orang yg punya skill yg benar2 dihargai, bukan orang yg punya setumpuk kertas bercetak banyak angka 0.
Kalau anda mau beli mobil atau rumah, bayarnya mau pakai apa?
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: exile_rstd pada Januari 20, 2012, 09:47:30 AM
Ada pendapat yang menarik, dengan banyaknya jumlah barang justru menyebabkan seseorang menjadi lebih tidak bahagia.
seperti yang pernah dikatakan guru saya, jika kebutuhan selalu terpenuhi maka manusia berada pada titik jenuh, karena untuk mendapatkan barang yang diinginkan tidak perlu mengeluarkan pengorbanan. beda dengan membeli benda/barang dengan pengorbanan.
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: kuncungs pada Januari 20, 2012, 10:37:16 AM
Gak usah beli rumah/mobil :D Rumahnya bikin sendiri dari kayu, mobilnya ganti ma kuda.
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: exile_rstd pada Januari 20, 2012, 10:55:32 AM
kayunya dari mana? dari pohon? kalau dilingkungannya cuma ada sedikit pohon gimana tuh?
terus dalam hal pengukuran dan ketepatan ga boleh sembarang apalagi asal-asalan. harus bayar tukang kayu kalau mau buat konstruksi rumah kayu walaupun sederhana. jadi harus keluar uang.

kalau transpotasi diganti dengan hewan bisa saja, tapi kebutuhan kudanya bagaimana? berarti anda harus sanggup memberikan makanan belum lagi kandang supaya ga jalan kemana-mana. keluarlah uang lagi.
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: kuncungs pada Januari 21, 2012, 12:44:09 AM
Gak masalah :D krn di dekat sini ada mall xD cari aja tenda kemah yg guede, trus merantau sampe ke atas gunung yg gak ada manusianya. Hidup di gunung nanem tanaman, mancing sendiri, masak sendiri. Kembali ke alam :) Muugkin bikin koloni sendiri. Di gunung kan banyak rumput, yah orang jaman dulu bisahidup di alam masa kita gak bisa sih. Dari bawah bawa alat2 buat belajar bertukang & berkebun disana. Krn susah nyari senjata api ya bawa golok kemana2.
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: mhyworld pada Januari 21, 2012, 02:04:18 AM
Gak masalah :D krn di dekat sini ada mall xD cari aja tenda kemah yg guede, trus merantau sampe ke atas gunung yg gak ada manusianya. Hidup di gunung nanem tanaman, mancing sendiri, masak sendiri. Kembali ke alam :) Muugkin bikin koloni sendiri. Di gunung kan banyak rumput, yah orang jaman dulu bisahidup di alam masa kita gak bisa sih. Dari bawah bawa alat2 buat belajar bertukang & berkebun disana. Krn susah nyari senjata api ya bawa golok kemana2.
beli tendanya pake apa?
bagus juga sih, sekali-sekali merasakan hidup di alam, namun sebaiknya tidak untuk seterusnya. Hidup anda lebih baik digunakan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat, jangan cuma mementingkan diri sendiri terus.

Bagaimana kalau di gunung anda sakit atau keracunan? apakah dokternya mau dibayar pakai rumput?
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: kuncungs pada Januari 21, 2012, 06:09:18 AM
^Bisa juga pake rumput, kalo dokternya ternak sapi/kuda/kambing. Ceritanya di koloni gw kan gak ada instrumen moneter. Jadi semua jasa/barang bertransaksi lewat tukar menukar alias barter :D Dunia utopia bagi gw ya kayak itu. 100% kembali ke alam seperti jaman dulu. Semua orang cari ilmu bukan buat dapetin "kertas bernomor", tapi supaya bisa berguna. Karena kalo dia berguna buat koloni, dia dapat fasilitas rumah, dll. Sedangkan yg bikin dia rumah dapat fasilitas pengobatan tanpa harus barter2 lagi. Justru kalo ada koloni seperti ini orang2 berilmu bukan buat kepentingan dirinya sendiri.. tapi mikir buat orang banyak.

Kalo sekarang ya gak mungkin lah.. wong "kertas bernomor" itu udah jadi Tuhannya mayoritas manusia.. Namanya aja ngayal. Moga2 nantinya terjadi seperti itu bener2 ^^
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: exile_rstd pada Januari 21, 2012, 07:25:53 AM
Kalo sekarang ya gak mungkin lah.. wong "kertas bernomor" itu udah jadi Tuhannya mayoritas manusia.. Namanya aja ngayal. Moga2 nantinya terjadi seperti itu bener2 ^^
tidak semua orang berilmu (misalnya) dokter mementingkan uang, pernah ada cerita yang diungkit di acara Kick Andy seorang dokter yang bernama dr. Eka Julianta, ahli bedah syaraf yang melakukan operasi secara cuma-cuma (gratis) kepada seorang pasien yang miskin.
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: nʇǝʌ∀ pada Januari 25, 2012, 04:04:05 AM
^Bisa juga pake rumput, kalo dokternya ternak sapi/kuda/kambing. Ceritanya di koloni gw kan gak ada instrumen moneter. Jadi semua jasa/barang bertransaksi lewat tukar menukar alias barter :D Dunia utopia bagi gw ya kayak itu. 100% kembali ke alam seperti jaman dulu. Semua orang cari ilmu bukan buat dapetin "kertas bernomor", tapi supaya bisa berguna. Karena kalo dia berguna buat koloni, dia dapat fasilitas rumah, dll. Sedangkan yg bikin dia rumah dapat fasilitas pengobatan tanpa harus barter2 lagi. Justru kalo ada koloni seperti ini orang2 berilmu bukan buat kepentingan dirinya sendiri.. tapi mikir buat orang banyak.

Kalo sekarang ya gak mungkin lah.. wong "kertas bernomor" itu udah jadi Tuhannya mayoritas manusia.. Namanya aja ngayal. Moga2 nantinya terjadi seperti itu bener2 ^^

tapi tidak jauh-jauh dari materialisme. intinya tingkat kebutuhan manusia akan materi. kamu menukarkan harta milikmu dengan harta milik orang lain... itu kalau keduanya sepakat dengan bentuk harta-harta itu.

kalau barter, maka kegiatan ekonomi akan terkendala manakala seseorang tidak menyukai alat pembayaran yang kamu tawarkan begitu juga sebaliknya.

justru menurut saya lebih efektif kalo barter dan transaksi uang tetap diberlakukan. so kita bisa bertransaksi dengan orang yg setuju dengan alat pembayaran sesuai kesepakatan bersama,

persis di game-game online... ga selalu pake duit gitu. so ekonomi akan semakin cepat terpacu. begitujuga dng kreatifitas manusia.
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: Farabi pada Januari 25, 2012, 07:01:09 AM
Barter pun ujung ujungnya akan membutuhkan uang karena tidak adanya kesepakatan antara harga jual. Misalkan 2 bungkus rokok oleh 2 ekor sapi, orang orang pasti akan mencoba untuk membuat buat sebuah bentuk baru "uang" misalkan dengan menggunakan besi atau perak, malah emas. Jadi intinya, perak, emas dan logam mulia lainnya, pada akhirnya, akan kembali menjadi uang.
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: mhyworld pada Januari 25, 2012, 12:53:02 PM
^Bisa juga pake rumput, kalo dokternya ternak sapi/kuda/kambing. Ceritanya di koloni gw kan gak ada instrumen moneter. Jadi semua jasa/barang bertransaksi lewat tukar menukar alias barter :D Dunia utopia bagi gw ya kayak itu. 100% kembali ke alam seperti jaman dulu. Semua orang cari ilmu bukan buat dapetin "kertas bernomor", tapi supaya bisa berguna. Karena kalo dia berguna buat koloni, dia dapat fasilitas rumah, dll. Sedangkan yg bikin dia rumah dapat fasilitas pengobatan tanpa harus barter2 lagi. Justru kalo ada koloni seperti ini orang2 berilmu bukan buat kepentingan dirinya sendiri.. tapi mikir buat orang banyak.

Kalo sekarang ya gak mungkin lah.. wong "kertas bernomor" itu udah jadi Tuhannya mayoritas manusia.. Namanya aja ngayal. Moga2 nantinya terjadi seperti itu bener2 ^^
Kalaupun anda bayar dokternya pakai rumput, tentunya banyaknya rumput yang anda bayarkan harus bisa dikuantisasikan, mungkin disesuaikan dengan jenis penyakit yang anda derita. Kalau harus operasi tentunya perlu jumlah rumput yang lebih banyak daripada pilek biasa, yang bisa sembuh dengan istirahat yang cukup. Kualitas rumput juga semakin menambah kompleksitas transaksi. Bagi peternak, rumput segar tentunya lebih bernilai daripada rumput yang sudah busuk atau jamuran. Dalam hal ini uang lebih unggul daripada rumput, atau bahan pangan yang lain, dilihat dari segi keawetan.

Fungsi uang dalam perekonomian hampir sama dengan standar pengukuran yang lain, seperti meter untuk panjang, kilogram untuk massa, detik untuk waktu. Tanpa adanya standarisasi, orang-orang sulit mencapai kata sepakat dalam transaksi. Misalnya, orang mau menukar sapi dengan buah kelapa. Berapa butir kelapa yang sepadan dengan nilai seekor sapi?
Kalau anda sering menjumpai kecurangan pedagang yang mengurangi timbangannya, tentunya penghapusan kilogram standar bukanlah solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut, bukan?

Pada zaman sekarang, kertas bernomor bisa dibilang hanya untuk transaksi "receh". Transaksi skala besar biasanya sudah dilakukan secara elektronik, misalnya melalui transfer rekening bank. Jarang kita temui orang beli rumah atau mobil secara tunai menggunakan uang kertas. Sebagian besar industri juga membayar gaji karyawannya melalui transfer rekening. Dibanding uang kertas, uang elektronik memiliki keunggulan dalam hal keawetan, keamanan (terutama dari kejahatan fisik), serta kemudahan dan kecepatan transaksi. Pengiriman uang dengan jarak ribuan kilometer dapat dilakukan dalam hitungan detik.

Secara fisik, nilai rekening yang dimiliki oleh seseorang hanyalah berupa data digital yang tersimpan di data server bank. Namun hal ini tidak mengurangi nilainya sebagai alat pembayaran/transaksi yang sah. Apapun bentuknya, perhiasan, koin logam, kertas, atau data digital, uang berfungsi sebagai bukti bahwa kita bermanfaat bagi orang lain dalam hidup bermasyarakat, selama uang tersebut diperoleh dengan cara yang sah, bukan hasil kejahatan/tindakan kriminal.

Dalam enterpreneurship, kita diharuskan untuk jeli dalam memilih bidang usaha yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, di samping tentunya juga sesuai dengan kemampuan/bidang keahlian kita. Semakin banyak kebutuhan masyarakat yang bisa kita penuhi, semakin besar pula peluang kita untuk meraih keuntungan. Jadi yang memberikan "tanda jasa" bagi usaha kita adalah konsumen yang menikmati hasil usaha/jerih payah kita.

IMO, anda belum memperhatikan hal-hal di atas karena belum memiliki penghasilan/usaha sendiri. Saya harap idealisme seperti yang anda miliki sekarang tidak luntur setelah memiliki penghasilan sendiri.  :)
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: kuncungs pada Januari 26, 2012, 03:21:17 AM
^ Lho.. Ceritanya kan di dunia utopiaku gak ada instrumen moneter XD
Karena 'kertas bernomor' di utopiaku gak bernilai kecuali semata2 jadi 'kayu bakar' aja mungkin, atau tissue toilet?  :P Jadi kami di koloni tidak berprofesi demi mendapat imbalan, tapi berprofesi untuk semata-mata membantu orang lain.

Tentunya populasi di koloni kami batasi, tidak boleh ada orang luar masuk dan tinggal disana kecuali dia bisa berkontribusi.

Gambarannya seperti dunia para Smurf, Terranova, ato era Mesir kuno  8) Tukar menukarnya pake barter. Semua transaksi pake sistem barter. Gak harus pake 'kertas/logam bernomor' saja. Barter bisa barang, bisa jasa.
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: mhyworld pada Januari 26, 2012, 06:51:59 AM
^ Lho.. Ceritanya kan di dunia utopiaku gak ada instrumen moneter XD
Karena 'kertas bernomor' di utopiaku gak bernilai kecuali semata2 jadi 'kayu bakar' aja mungkin, atau tissue toilet?  :P Jadi kami di koloni tidak berprofesi demi mendapat imbalan, tapi berprofesi untuk semata-mata membantu orang lain.

Tentunya populasi di koloni kami batasi, tidak boleh ada orang luar masuk dan tinggal disana kecuali dia bisa berkontribusi.

Gambarannya seperti dunia para Smurf, Terranova, ato era Mesir kuno  8) Tukar menukarnya pake barter. Semua transaksi pake sistem barter. Gak harus pake 'kertas/logam bernomor' saja. Barter bisa barang, bisa jasa.
Berarti barang dan jasa yang diproduksi oleh masyarakat di luar komunitasmu tidak boleh dipakai, karena untuk membelinya perlu uang?
Bagaimana kalau ada seorang petani, baru bisa panen bulan depan. Sementara sekarang anaknya sedang sakit dan butuh pengobatan segera. Sedangkan barang lain di rumahnya tidak ada yang cukup untuk ditukar dengan obatnya. Apakah boleh pinjam dulu? Apa jaminannya bahwa petani itu tidak lupa bayar utang, sesuai jumlah dan jatuh temponya?
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: ytridyrevsielixetuls pada Januari 26, 2012, 08:30:16 AM
^ Lho.. Ceritanya kan di dunia utopiaku gak ada instrumen moneter XD
Karena 'kertas bernomor' di utopiaku gak bernilai kecuali semata2 jadi 'kayu bakar' aja mungkin, atau tissue toilet?  :P Jadi kami di koloni tidak berprofesi demi mendapat imbalan, tapi berprofesi untuk semata-mata membantu orang lain.

Tentunya populasi di koloni kami batasi, tidak boleh ada orang luar masuk dan tinggal disana kecuali dia bisa berkontribusi.

Gambarannya seperti dunia para Smurf, Terranova, ato era Mesir kuno  8) Tukar menukarnya pake barter. Semua transaksi pake sistem barter. Gak harus pake 'kertas/logam bernomor' saja. Barter bisa barang, bisa jasa.

tidak ada salahnya dengan gaya hidup itu. bagaimanapun juga, hidup tanpa uang itu benar-benar pernah dialami manusia. namun di dunia utopia anda, ekonomi dan teknologi tidak akan pesat seperti sekarang.

tapi BTW zaman Mesir kuno pun ternyata manusia sudah mengenal budaya materialistik bahkan tidak sedikit orang yang gila harta. dan harta itu tidak harus berbentuk uang.
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: Farabi pada Januari 27, 2012, 12:57:49 AM
Bagaimanapun, sistem keuangan adalah sistem terbaik untuk membuat manusia bekerja.
Judul: Re:Does Money Buy You Happiness??
Ditulis oleh: Monox D. I-Fly pada September 10, 2016, 01:30:42 AM
^ Lho.. Ceritanya kan di dunia utopiaku gak ada instrumen moneter XD
Karena 'kertas bernomor' di utopiaku gak bernilai kecuali semata2 jadi 'kayu bakar' aja mungkin, atau tissue toilet?  :P Jadi kami di koloni tidak berprofesi demi mendapat imbalan, tapi berprofesi untuk semata-mata membantu orang lain.

Tentunya populasi di koloni kami batasi, tidak boleh ada orang luar masuk dan tinggal disana kecuali dia bisa berkontribusi.

Gambarannya seperti dunia para Smurf, Terranova, ato era Mesir kuno  8) Tukar menukarnya pake barter. Semua transaksi pake sistem barter. Gak harus pake 'kertas/logam bernomor' saja. Barter bisa barang, bisa jasa.

Saya penasaran, apa profesi Anda waktu menulis postingan ini? Dan sekarang setelah 4 tahun, apakah Anda masih berpikir demikian?