Member baru? Bingung? Perlu bantuan? Silakan baca panduan singkat untuk ikut berdiskusi.

Welcome to Forum Sains Indonesia. Please login or sign up.

April 16, 2024, 02:37:21 AM

Login with username, password and session length

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139,653
  • Total Topik: 10,405
  • Online today: 50
  • Online ever: 1,582
  • (Desember 22, 2022, 06:39:12 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 14
Total: 14

Aku Cinta ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

the law of diminishing marginal utility

Dimulai oleh 12, April 02, 2012, 04:50:39 AM

« sebelumnya - berikutnya »

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

12

hukum ekonomi yang paling saya sukai adalah the law of diminishing marginal utility,  karena menurut saya hukum ini benar dan bisa menjelaskan banyak hal...

hukum ini kurang lebih menyatakan bahwa jika suatu jenis komoditi dikonsumsi terus menerus maka dalam jangka pendek nilai manfaat marginal nya akan terus menurun, sementara itu total manfaat terus meningkat sampai akhirnya mencapai maksimum dan setelah itu maka konsumsi selanjutnya justru akan menyebabkan ketidakpuasan/masalah/kepuasan negatif
#12

Dhantez

Ini adl teori yg 'menantang' teori upah buruh yg mendasari ide sosialisme.

Dalam teori upah buruh, Marx menunjukkan bahwa buruh adl cost terbesar dalam produksi suatu barang, shg seharusnya buruh mendapat porsi besar dari harga jual suatu barang. Namun teori utility menunjukkan bahwa harga barang tidak semata2 ditentukan dari besar kecilnya biaya produksi. Jika suatu barang memiliki utility besar di mata konsumen, tidak peduli apakah biaya produksinya kecil atau besar, produsen bisa menjual mahal barang itu.

Saya cukup setuju dengan teori utility secara keseluruhan. Sementara utk diminishing marginal utility ini, sudah ada teori modern yg menjelaskan dari sudut pandang lain: Psikologi. Ada hal yg dinamakan Hedonic Treadmill. Teori ini menyatakan bahwa kepuasan dalam mengalami segala sesuatu akan memuncak pada pengalaman pertama dan kemudian terus menurun menjadi sesuatu yg disebut 'keterbiasaan'.
Oba-chan ga itte ita: Ore wa ten no michi wo iki, subete wo tsukasadoru otoko

12

Kutip dari: Dhantez pada April 24, 2012, 08:48:51 PM
Ini adl teori yg 'menantang' teori upah buruh yg mendasari ide sosialisme.

Dalam teori upah buruh, Marx menunjukkan bahwa buruh adl cost terbesar dalam produksi suatu barang, shg seharusnya buruh mendapat porsi besar dari harga jual suatu barang. Namun teori utility menunjukkan bahwa harga barang tidak semata2 ditentukan dari besar kecilnya biaya produksi. Jika suatu barang memiliki utility besar di mata konsumen, tidak peduli apakah biaya produksinya kecil atau besar, produsen bisa menjual mahal barang itu.

ow, begitu yah. berarti teori karl marx mungkin tidak memperhatikan adanya preferensi konsumen seperti itu?   mungkin karena karl marx terlalu yakin akan tumbangnya kapitalis oleh kaum proletar :(

Kutip dari: Dhantez pada April 24, 2012, 08:48:51 PM
Saya cukup setuju dengan teori utility secara keseluruhan. Sementara utk diminishing marginal utility ini, sudah ada teori modern yg menjelaskan dari sudut pandang lain: Psikologi. Ada hal yg dinamakan Hedonic Treadmill. Teori ini menyatakan bahwa kepuasan dalam mengalami segala sesuatu akan memuncak pada pengalaman pertama dan kemudian terus menurun menjadi sesuatu yg disebut 'keterbiasaan'.

menurut saya hal itu menjelaskan tentang adanya kapasitas yg terbatas dari setiap jenis keinginan. misalnya keinginan untuk makan, istirahat, bermain, bersosial, berfikir, atau apapun semuanya itu dalam jangka pendek bersifat terbatas. dimana ketika pemenuhan keinginaan (konsumsi) sudah melebihi batas itu maka akan menimbulkan negative marginal utility.

selain itu hkum ini juga mengungkapkan fakta yang menarik: sepotong roti yang kedua tidak lebih tinggi nilainya daripada sepotong roti yang pertama. menurut saya hal itu karena adanya unsur "surprise" atau apapun namanya. sepotong roti yang pertama meimbulkna sensasi surprise yang lebih besar ketimbang sepotong roti yang kedua, ketiga, dan seterusnya. hingga akhirnya mencapai batas tertentu dimana tambahan konsumsi roti berikutnya justru akan menimbulkan rasa tidak nyaman bahkan sakit. artinya konsumen memiliki preferensi yg lebih rendah atas komoditi kedua atau ketiga dibandingkan dengan komoditi yang pertama. dan itu tercermin dari harga.
#12

nʇǝʌ∀

Kutip dari: Dhantez pada April 24, 2012, 08:48:51 PM
Ini adl teori yg 'menantang' teori upah buruh yg mendasari ide sosialisme.

Dalam teori upah buruh, Marx menunjukkan bahwa buruh adl cost terbesar dalam produksi suatu barang, shg seharusnya buruh mendapat porsi besar dari harga jual suatu barang. Namun teori utility menunjukkan bahwa harga barang tidak semata2 ditentukan dari besar kecilnya biaya produksi. Jika suatu barang memiliki utility besar di mata konsumen, tidak peduli apakah biaya produksinya kecil atau besar, produsen bisa menjual mahal barang itu.

ya benar, kalau saya tulis cerita mistis tapi disukai banyak orang kan jadi mahal karya saya ?
apalagi kalau saya jualan batu kali tapi diyakini sebagai batu dewa.
di Indonesia fenomena semacam ini sangat biasa terjadi.

Kutip dari: Dhantez pada April 24, 2012, 08:48:51 PM
Saya cukup setuju dengan teori utility secara keseluruhan. Sementara utk diminishing marginal utility ini, sudah ada teori modern yg menjelaskan dari sudut pandang lain: Psikologi. Ada hal yg dinamakan Hedonic Treadmill. Teori ini menyatakan bahwa kepuasan dalam mengalami segala sesuatu akan memuncak pada pengalaman pertama dan kemudian terus menurun menjadi sesuatu yg disebut 'keterbiasaan'.

sesuai human nature, manusia akan mencapai titik jenuh manakala melakukan sesuatu yang sama dalam waktu yang lama. sehingga komoditas yang dikonsumsi diperlukan variasi supaya tetap dikonsumsi masyarakat bahkan lebih banyak masyarakat yg mau mengkonsumsinya.
namun faktor lain yang menciptakan kejenuhan manusia adalah sifat mereka yang selalu penasaran akan sesuatu sehingga membuat mereka menciptakan dan melakukan hal2 baru.
tapi terkadang puncak kepuasan datang bukan di awal pengalaman melakukan sesuatu karena suatu aktifitas bisa dibuat lebih bervariasi sesuai berjalannya waktu.

                |'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''|
       __/""|"|--------nʇǝʌ∀ inc.------|
> (|__|_|!!|__________________|
      (o)!""""""(o)(o)!"""""""""""(o)(o)!

12

#4
sebenarnya hukum ekonomi ini membatasi analisis pada satu jenis keinginan dan satu jenis solusi (konsumsi) tanpa ada modifikasi baik secara kualitas maupun kuantitas.

Kutip dari: nʇǝʌ∀ pada April 29, 2012, 03:49:06 PM
sesuai human nature, manusia akan mencapai titik jenuh manakala melakukan sesuatu yang sama dalam waktu yang lama.......................

namun faktor lain yang menciptakan kejenuhan manusia adalah sifat mereka yang selalu penasaran akan sesuatu sehingga membuat mereka menciptakan dan melakukan hal2 baru.

saya setuju pendapat anda bahwa rasa jenuh adalah "human nature". menurut saya rasa jenuh adalah sinyal bagi kita bahwa satu jenis keinginan telah terpenuhi (sasaran pemenuhan keinginan telah tercapai). satu jenis keinginan ditutup, dan satu atau beberapa jenis keinginan yang lain diaktifkan.
#12

ytridyrevsielixetuls

suatu alasan mengapa peradaban manusia bisa maju, di samping adanya sifat kritis manusia yang melihat kesalahan2 pendahulunya. hal itu yg menyebabkan kita berkembang.
[move]
     -/"|           -/"|           -/"|
<(O)}D     <(O)}D     <(O)}D
     -\_|          -\_|           -\_|

12

#6
saya membaca beberapa implikasi dari hukum ini dalam kehidupan sehari-hari, misalnya uang 100.000 tidak begitu berarti bagi orang kaya. jika uang itu disumbangkan kepada orang miskin (yg membutuhkan) maka 100.000 bagi orang miskin itu nilainya tentu sangat besar.
ini menujukan bahwa si kaya "sudah jenuh" dengan uang, sehingga uang sebesar itu terasa tidak terlalu bernilai. sebaliknya bagi si miskin yang KEKURANGAN, uang sebesar itu nilainya sangat besar.
tetapi,hukum ini menjelaskan, seandainya si miskin ini sesaat kemudian diberikan uang 100.000 yang kedua maka nilai tambahannya (marginal utility) agak sedikit lebih kecil daripada yang pertama (walaupun nilai totalnya menjadi lebih besar).

mungkin ini juga berlaku sebaliknya. misal, jika seseorang kehilangan motor maka mungkin dia akan mengalami shock. jika besoknya ia kehilangan motornya yang kedua (motor dengan jenis dan merek yang sama), dia juga akan shock tapi kalau diperhatikan tambahan shock-nya itu tidak seberat yang pertama (walaupun secara keseluruhan ia menjadi shock berat)

hukum ini juga menjelaskan mengapa barang yang langka itu nilainya mahal (bernilai tinggi) ketimbang barang yang jumlahnya berlimpah. yaitu bahwa tambahan satu unit barang yang berlimpah memberikan marginal utility yang kecil. sebaliknya tambahan satu unit barang yang langka memberikan marginal utility yang besar.
#12

mhyworld

Kutip dari: 12 pada April 30, 2012, 08:03:51 PM
saya membaca beberapa implikasi dari hukum ini dalam kehidupan sehari-hari, misalnya uang 100.000 tidak begitu berarti bagi orang kaya. jika uang itu disumbangkan kepada orang miskin (yg membutuhkan) maka 100.000 bagi orang miskin itu nilainya tentu sangat besar.
ini menujukan bahwa si kaya "sudah jenuh" dengan uang, sehingga uang sebesar itu terasa tidak terlalu bernilai. sebaliknya bagi si miskin yang KEKURANGAN, uang sebesar itu nilainya sangat besar.
tetapi,hukum ini menjelaskan, seandainya si miskin ini sesaat kemudian diberikan uang 100.000 yang kedua maka nilai tambahannya (marginal utility) agak sedikit lebih kecil daripada yang pertama (walaupun nilai totalnya menjadi lebih besar).

mungkin ini juga berlaku sebaliknya. misal, jika seseorang kehilangan motor maka mungkin dia akan mengalami shock. jika besoknya ia kehilangan motornya yang kedua (motor dengan jenis dan merek yang sama), dia juga akan shock tapi kalau diperhatikan tambahan shock-nya itu tidak seberat yang pertama (walaupun secara keseluruhan ia menjadi shock berat)

hukum ini juga menjelaskan mengapa barang yang langka itu nilainya mahal (bernilai tinggi) ketimbang barang yang jumlahnya berlimpah. yaitu bahwa tambahan satu unit barang yang berlimpah memberikan marginal utility yang kecil. sebaliknya tambahan satu unit barang yang langka memberikan marginal utility yang besar.
Mungkin pendapat orang beda-beda. Tapi kalau saya punya 2 motor, trus ilang 1, tidak begitu shock karena masih bisa pakai yang satunya lagi. Tapi kalau hilang dua-duanya, apalagi waktunya hampir bareng, tentunya akan lebih shock.

IMO, untuk kasus kehilangan, motor yang hilang duluan adalah motor kedua, yang nilainya lebih kecil. Sedangkan motor yang hilang belakangan bisa dianggap sebagai motor pertama, yang nilainya lebih besar.
once we have eternity, everything else can wait

12

#8
law of diminishing marginal utililty (LDMU) mengatakan:
"tambahan utilitas dari 1 unit konsumsi yang kedua tidak lebih besar dari 1 unit yang pertama"

saya berspekulasi:
"tambahan penderitaan dari kehilangan 1 motor yang kedua tidak lebih besar dari kehilangan 1 motor yang pertama"

jika penderitaan = utilitas negatif, maka pernnyataan saya bisa juga diartikan:

"tambahan utilitas-negatif dari kehilangan 1 motor yang kedua tidak lebih besar dari kehilangan 1 motor yang pertama"

jelas sekali pernyataan saya itu bertentangan dengan law of diminishing marginal utlity.

terimakasih atas koreksinya. ;D

dengan demikian, LDMU bisa diartikan:

jika satu kejadian menimbulkan UTILITAS maka ketika kejadian yang sama diulang akan menimbulkan UTILITAS-TAMBAHAN yang LEBIH RENDAH

sebaliknya


jika satu kejadian menimbulkan UTILITAS-NEGATIF maka ketika kejadian yang sama terulang akan menimbulkan UTILITAS-NEGATIF-TAMBAHAN yang LEBIH TINGGI
#12