Selamat datang di ForSa! Forum diskusi seputar sains, teknologi dan pendidikan Indonesia.

Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?

Desember 07, 2021, 06:36:05 AM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139668
  • Total Topik: 10408
  • Online Today: 54
  • Online Ever: 441
  • (Desember 18, 2011, 12:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 12
Total: 12

Ikuti ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Penulis Topik: hacker vs cracker  (Dibaca 18771 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline gelal

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 20
  • IQ: 1
Re: hacker vs cracker
« Jawab #15 pada: Januari 28, 2010, 09:02:37 PM »
Hm, freeware bukannya gak bisa dapat duit lho. Dari pengalamanku membuat blog soal freeware, ada beberapa metode bagi pengembang freeware untuk dapat duit. Misal kerja sama dengan pihak ketiga untuk masang iklan di program mereka.
Ini namanya bukan softwarenya yang komersil. Komunitas/media-nya yang komersil.
Kutip
Ini misalnya di format factory, yang memasang iklan situs brothersoft.
Brothersoft itu bukan software, itu adalah semacam situs pencarian atau direktori software.
Kutip
Cara lain lagi adalah membuat beberapa versi, yakni versi free yang memiliki keterbatasan feature, dan versi berbayar yang fiturnya lebih lengkap (kebanyakan av gratisan tipenya begini).
Yang begini namanya bukan freeware, tetapi trial atau semacam software promosi. Sama seperti pedagang pisang, dikasih dulu satu biji pisangnya tuk dicobain, dengan harapan kita beli lebih banyak lagi pisangnya yang lain.
Kutip
Dan ilmuwan sendiri juga terkadang mengajukan hak paten kan? Apa mereka salah? Pihak lain tidak bisa sembarang memakai produk karya yang sudah dipatenkan tanpa membayar, apa ilmuwan penemu tadi mata duitan dan tamak?
Ada perbedaan hak paten dengan lisensi, walaupun rumus2 penemuan para penemu terdahulu dipatenkan, bukan berarti kita tidak bisa menggunakan rumus tersebut. Nah, kalau lisensi? Kita musti bayar untuk ini, kalau tidak bayar, kita disebut telah melanggar hukum.
Kutip
Jika gak ingin bayar untuk software-software dari M$, Adobe atau developer lain, solusinya ya gunakan freeware. Meski harus belajar lagi, tapi itu adalah konsekuensi. Anda tak membayar gaji pegawai M$, Adobe, dll, lantas apa hak anda komplain? Gak mau bayar ya gak usah makai, praktis toh?
Coba tinjau ulang dari atas, tidak pernah saya mengatakan 'komplain' dengan software berbayar. Saya hanya mengatakan perlu 'diperdebatkan'. Namanya juga forum, bukankah untuk ajang berdebat dan berdiskusi? Kok jadi situ yang emosi....
Kalau tidak suka mendebat dengan apa yang saya utarakan, jangan direplay...

Offline gelal

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 20
  • IQ: 1
Re: hacker vs cracker
« Jawab #16 pada: Januari 28, 2010, 09:25:34 PM »
Hargai kerja para programmer, menyusun kode menjadi aplikasi (apalagi aplikasi besar macam AutoCAD ataupun Photoshop) itu tidak mudah teman... butuh waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan dengan jam kerja >= 12 jam...
Kalau ada programmer yang mengkomer$ilkan programmya,
ya belilah kalau kita butuh,
JANGAN PAKAI CRACKER-AN, ITU ILLEGAL/MELANGGAR HUKUM!
Kalau memang pengembang software itu jago, seharusnya dibuatlah software yang tidak bisa dicrack orang lain. Pengembangan software ini hanyalah pengembangan imajinasi dan logika. Tidak dibutuhkan apa2 selain imajinasi dan logika.
Ini ibarat orang yang kursus atau orang yang belajar. Sah2 saja orang bayar mahal atau murah untuk seorang guru atau guru privat utk 'pelajaran' yang dia belum ketahui (kuasai).
Tetapi bagaimana dengan guru atau guru privat yang akan mengajarkan 'pelajaran' tersebut?  Apakah dia harus tetap 'membayar' untuk 'pelajaran' yang akan dia ajarkan itu?

Offline gelal

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 20
  • IQ: 1
Re: hacker vs cracker
« Jawab #17 pada: Januari 28, 2010, 09:41:01 PM »
Meng-crack software komer$ial tidak ada tujuan lain kecuali merugikan developernya, itu pasti.

suatu persamaan logika, mendobrak pintu rumah orang lain yang terkunci dengan paksa supaya dapat menikmati makanan di dalam rumah itu secara paksa...
Saya kira justru sebaliknya.
Mengcrack suatu software itu tidaklah sampai merusak software-nya. Justru secara halus peng-crack mencoba mengikuti alur logika pembuat software, lalau menemukan kelemahannya, dan itulah yang dicrack. Jadi tidak ada pemaksaan.
Nah, memaksa orang membayar sesuatu yang dia juga sudah ketahui, bukankah itu justru sebuah 'pemaksaan'?

Offline Pi-One

  • Next Hikaru Genji
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 6.981
  • IQ: 40
  • Gender: Pria
  • Next Hikaru Genji
    • Membantah Hoax
Re: hacker vs cracker
« Jawab #18 pada: Januari 30, 2010, 12:25:43 AM »
Ini namanya bukan softwarenya yang komersil. Komunitas/media-nya yang komersil.
Aku gak bilagn softwarenya komersil kan? Aku bilang pengembang tetap bisa dapat duit dari (keberadaan) softwarenya.

Brothersoft itu bukan software, itu adalah semacam situs pencarian atau direktori software.
nggn software (Format Factory)nya sekaligus menjadi media iklan untuk situs brothersoft.

Yang begini namanya bukan freeware, tetapi trial atau semacam software promosi. Sama seperti pedagang pisang, dikasih dulu satu biji pisangnya tuk dicobain, dengan harapan kita beli lebih banyak lagi pisangnya yang lain.
Bukan tiral juga. untuk trial, biasa dikasih limit jumlah atau hari pemakaian.

Ada perbedaan hak paten dengan lisensi, walaupun rumus2 penemuan para penemu terdahulu dipatenkan, bukan berarti kita tidak bisa menggunakan rumus tersebut. Nah, kalau lisensi? Kita musti bayar untuk ini, kalau tidak bayar, kita disebut telah melanggar hukum.
Kutip
Tapi penemuan paten dari ilmuwan gak bisa sembarang digunakan pihak lain. Makanya ada banyak juga kasus tuntutan seputar paten temuan teknologi ini.

Coba tinjau ulang dari atas, tidak pernah saya mengatakan 'komplain' dengan software berbayar. Saya hanya mengatakan perlu 'diperdebatkan'. Namanya juga forum, bukankah untuk ajang berdebat dan berdiskusi? Kok jadi situ yang emosi....
Kalau tidak suka mendebat dengan apa yang saya utarakan, jangan direplay...
memperdebatkan apa? Kenapa mereka bikin software yang harus berbayar? Karena mereka juga keluar duit gede untuk proses pembuatan dan pengembangan produk itu. Sederhana saja, mereka bukan badan atau organisasi sosial. Komunitas open source lahir sebagai alternatif.

Offline Pi-One

  • Next Hikaru Genji
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 6.981
  • IQ: 40
  • Gender: Pria
  • Next Hikaru Genji
    • Membantah Hoax
Re: hacker vs cracker
« Jawab #19 pada: Januari 30, 2010, 12:27:17 AM »
Kalau memang pengembang software itu jago, seharusnya dibuatlah software yang tidak bisa dicrack orang lain.
Hanya ada 1 macam softare yang mutlak tidak bisa dicrack: software yang tidak pernah dipublikasikan pada pihak lain.

Offline gelal

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 20
  • IQ: 1
Re: hacker vs cracker
« Jawab #20 pada: Januari 30, 2010, 08:17:36 AM »
Aku gak bilagn softwarenya komersil kan? Aku bilang pengembang tetap bisa dapat duit dari (keberadaan) softwarenya.
Yang dibahas diatas adalah tentang 'software' berbayar. Bukan 'iklan' berbayar.

Kutip
nggn software (Format Factory)nya sekaligus menjadi media iklan untuk situs brothersoft.
brothersoft itu tidak ada bikin software. Mereka hanya media tempat mendownload software. http://www.brothersoft.com/info/about.
Kutip
Yang begini namanya bukan freeware, tetapi trial atau semacam software promosi. Sama seperti pedagang pisang, dikasih dulu satu biji pisangnya tuk dicobain, dengan harapan kita beli lebih banyak lagi pisangnya yang lain.
Bukan tiral juga. untuk trial, biasa dikasih limit jumlah atau hari pemakaian.
Apa bedanya software trial dengan software fitur terbatas? Bukankah tujuannya sama2 promosi? Sepertinya anda kurang nangkap, bukankah saya sudah buat analoginya dengan 'pisang'?
Kutip
Tapi penemuan paten dari ilmuwan gak bisa sembarang digunakan pihak lain.
Tidak pernah ada larangan untuk menggunakan ilmu penemuan ilmuwan, tapi tetap dipatenkan supaya jgn ada lagi orang yang mengklaim itu penemuannya
Kutip
Makanya ada banyak juga kasus tuntutan seputar paten temuan teknologi ini.
Beda 'ilmu', beda 'teknologi'. Tekologi itu sudah dalam berbentuk fisik sedang 'ilmu' masih dalam bentuk 'abstrak', teknologi dipatenkan supaya tidak ada yang meniru 'teknologi' itu. Misalnya teknologi mesin diesel, tidak boleh sembarangan ditiru, harus minta izin dari si Diesel (bukan Van Diesel ya).
Kutip
memperdebatkan apa? Kenapa mereka bikin software yang harus berbayar? Karena mereka juga keluar duit gede untuk proses pembuatan dan pengembangan produk itu. Sederhana saja, mereka bukan badan atau organisasi sosial.
Apakah anda punya bukti kalau untuk mengembangkan software itu harus keluar 'duit gede'?
Kutip
Komunitas open source lahir sebagai alternatif.
Siapa bilang komunitas open source lahir sebagai alternatif? Itu adalah jawaban bagi perampok seperti perusuhaan2 software berbayar yang ingin mengeruk keuntungan sebesar2nya dari gain yang sangat kecil.
Anda baca dulu apa defenisi open source:
http://www.opensource.org/docs/osd

dan juga lihat:
http://www.linux.org/about/mission.html
http://www.phpbb.com/about
http://www.mysql.com/
http://www.php.net/
http://www.apache.org/
http://www.oscommerce.com/
dll

Ada banyak cara untuk mendapatkan duit dari pengembangan software tanpa harus menjual lisensi.
Sungguh janggal anda mengatakan 'tidak ada yang perlu diperdebatkan' lagi.
Kalau anda tidk ada ide utk melakukan debat, jangan mengatakan 'tidak ada yang perlud diperdebatkan lagi'. Terlalu dangkal anda mengatakan seperti itu sobat!

Offline gelal

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 20
  • IQ: 1
Re: hacker vs cracker
« Jawab #21 pada: Januari 30, 2010, 08:27:28 AM »
Hanya ada 1 macam softare yang mutlak tidak bisa dicrack: software yang tidak pernah dipublikasikan pada pihak lain.
Kalau memang demikian adanya, seharusnya sadarlah para perusahaan software, jangan 'menjualnya' lagi, ada banyak cara untuk mendapatkan uang untuk pengembangan software selain daripada menjual lisensi.

Jangan karena tidak bisa melindungi softwarenya dari peretas, lalu menggunakan 'hukum' untuk melindunginya. Itu 'banci' namanya.

Offline idiotique_hebb

  • Dosen
  • ****
  • Tulisan: 170
  • IQ: 10
  • Gender: Pria
  • call me hebb
Re: hacker vs cracker
« Jawab #22 pada: Januari 30, 2010, 04:13:57 PM »
Yang dimaksud disini adalah "penghormatan" bagi si software developer. Karena untuk mengembangkan software bukan hanya imajinasi dan logika saja yang diperlukan, tapi juga waktu dan biaya. Penghormatan disini bukan melulu soal uang, beli lisensi dll tapi termasuk
Kutip
Integrity of The Author's Source Code "The license may restrict source-code from being distributed in modified form only if the license allows the distribution of "patch files" with the source code for the purpose of modifying the program at build time. The license must explicitly permit distribution of software built from modified source code. The license may require derived works to carry a different name or version number from the original software."
It's okay jika kita mengikuti filosofi dari Open Source Community, tapi jangan sampai merendahkan para programmer yang mengembangkan software mereka demi tujuan komersil, biarlah mereka mengembangkan produk mereka, jika kita tidak setuju, ya ndak usah pake software mereka, apalagi pake yang bajakan (duh..), toh sudah banyak sekali software yang free dan cukup powerfull. Beruntunglah kita yang sudah bisa memperdebatkan apa definisi shareware, freeware dan bajakan.

Yang saya tekankan disini marilah kita hargai orang-orang yang sudah berkomitmen untuk menyerahkan waktu dan energi mereka untuk pengembangan software. Setidaknya kita mengikuti peraturan yang ada, dan jangan merubah jalur ini menjadi sebuah kejahatan dengan piracy. Saya pikir para programmer Open Source juga sependapat demikian.

return 0;
}
Lagi belajar Objective C / GNUStep / Cocoa API
Kroper for Mac : download here

Offline Pi-One

  • Next Hikaru Genji
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 6.981
  • IQ: 40
  • Gender: Pria
  • Next Hikaru Genji
    • Membantah Hoax
Re: hacker vs cracker
« Jawab #23 pada: Januari 31, 2010, 01:24:08 AM »
Yang dibahas diatas adalah tentang 'software' berbayar. Bukan 'iklan' berbayar.
Aku bicara tentang software yang bisa tetap menghasilkan duit bagi pembuatnya meski gratis.

brothersoft itu tidak ada bikin software. Mereka hanya media tempat mendownload software. http://www.brothersoft.com/info/about.
Aku tahu. Borthersoft itu pihak yang masang iklan di software freeware format factory. Anda nangkap gak sih?

Apa bedanya software trial dengan software fitur terbatas? Bukankah tujuannya sama2 promosi? Sepertinya anda kurang nangkap, bukankah saya sudah buat analoginya dengan 'pisang'?
Kurasa anda yang kurang nangkap. Versi software yang gratis dengan limitasi fitur disebut versi free (atau kadang disebut versi lite), bukan versi trial. Software semacam ini bisa tetap dipakai tanpa batasan waktu atau jumlah pemakaian seperti versi trial. Cuma sebagian fitur yang gak dikasih. Misal untuk anti spyware, tidak dikasih perlindungan real time atau support product, tapi tetap bsia diapakai untuk membersihkan spyware dan malware yang sudah ada dan tetap bisa update definisinya.

Tidak pernah ada larangan untuk menggunakan ilmu penemuan ilmuwan, tapi tetap dipatenkan supaya jgn ada lagi orang yang mengklaim itu penemuannya
Apa yang salah dari mengklaim satu penemuan?

Beda 'ilmu', beda 'teknologi'. Tekologi itu sudah dalam berbentuk fisik sedang 'ilmu' masih dalam bentuk 'abstrak', teknologi dipatenkan supaya tidak ada yang meniru 'teknologi' itu. Misalnya teknologi mesin diesel, tidak boleh sembarangan ditiru, harus minta izin dari si Diesel (bukan Van Diesel ya).
Anda gak pernah baca-baca, apa saja paten yang menjadi konflik dalam bidang teknologi informasi atau teknologi?

Apakah anda punya bukti kalau untuk mengembangkan software itu harus keluar 'duit gede'?
Sederhana saja. Anda kira berapa bayaran bagi pengembang software di microsoft, adobe, google dll? Anda kira tiap tahu, M$, Nokia, Samsung, Sony, Adobe dll menyisihkan dana seberapa besar untuk r&d saja?

Siapa bilang komunitas open source lahir sebagai alternatif? Itu adalah jawaban bagi perampok seperti perusuhaan2 software berbayar yang ingin mengeruk keuntungan sebesar2nya dari gain yang sangat kecil.
Mendapat untung sebesar-besarnya adalah prinsip ekonomi. Apa yang salah? Seperti kataku, jika tidak ingin, jangan pakai. jangan menggunakannya untuk membenarkan 'aksi perampokan' lain.

Ada banyak cara untuk mendapatkan duit dari pengembangan software tanpa harus menjual lisensi.
Sungguh janggal anda mengatakan 'tidak ada yang perlu diperdebatkan' lagi.
Kalau anda tidk ada ide utk melakukan debat, jangan mengatakan 'tidak ada yang perlud diperdebatkan lagi'. Terlalu dangkal anda mengatakan seperti itu sobat!
Silakan ajukan cara itu apda mereka, tapi jangan lupa, ada banyak pihak di balik perusahaan 'perampok itu'. Apa yang terjadi jika keuntungan mereka turun drastis? Rasionalisasi, itukah mau anda? Kita tak bisa menilai hanya dari 1 sudut pandang. Jika anda hanya nilai dari 1 sisi saja, maka memagn tak ada yang perlu diperdebatkan.

Offline heru.htl

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 991
  • IQ: 14
  • Gender: Pria
    • Free GNU/Linux Distributions
Re: hacker vs cracker
« Jawab #24 pada: Januari 31, 2010, 02:37:04 PM »
Kembali ke topik rekan-rekan,

Saya sendiri salah satu pengembang open source, tujuan saya bukan untuk membangkrutkan perusahaan software komersial, itu jelas, dan saya yakin adalah bukan format GNU, BSD, ataupun fondasi software bebas-masal lainnya untuk membangkrutkan software komersial.

-- Cracker :: momok :: penjebak --
Yang menjadi problema pelik saat ini justru tindakan para cracker, mereka bukan hanya merugikan perusahaan software komersial, tetapi telah menjebak masyarakat awam pada tindakan ilegal memakai software komersial hasil crack...
Masyarakat awam terjebak pada bias pandangan akibat software crack, hingga timbul salah kaprah bahwa seakan semua software itu bahkan gratis atau bisa dengan mudah didapatkan dengan "menyalin", atau cukup membayar "RP 15 REBU"...
Dari survey langsung dilapangan sejak akhir tahun 2007, di wilayah dalam radius 20 km dari tempat tinggal saya, 90% pengguna komputer bahkan menggunakan "M$ Windows bajakan" + software crack terinstallasi didalamnya... (copy M$ Windows 7 + keygen hanya Rp 15.000, dan ternyata dijual bebas dengan "restu bad police officer setempat" ? ? ?).

Offline gelal

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 20
  • IQ: 1
Re: hacker vs cracker
« Jawab #25 pada: Februari 02, 2010, 06:45:26 PM »
Aku bicara .....
Oke Pi-One, antara kamu dan gue kita tutup saja disini. Kita sudah tidak nyambung.

Offline gelal

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 20
  • IQ: 1
Re: hacker vs cracker
« Jawab #26 pada: Februari 02, 2010, 07:03:15 PM »
Yang dimaksud disini adalah "penghormatan" bagi si software developer. Karena untuk mengembangkan software bukan hanya imajinasi dan logika saja yang diperlukan, tapi juga waktu dan biaya. Penghormatan disini bukan melulu soal uang, beli lisensi dll tapi termasuk
Kutip
Integrity of The Author's Source Code "The license may restrict source-code from being distributed in modified form only if the license allows the distribution of "patch files" with the source code for the purpose of modifying the program at build time. The license must explicitly permit distribution of software built from modified source code. The license may require derived works to carry a different name or version number from the original software."
Justru ini yang menurut saya janggal. Diatas saya sudah ibaratkan pengembangan software itu seperti ilmu pengetahuan, dan memang saya menganggap itu adalah ilmu pengetahuan. Penghormatan itu memang mutlak bagi pengembang (penemu), dan itu sudah saya utarakan diposting atas. Nah, kalau ada yang menjadikan 'nilai kehormatan' itu menjadi uang (komersil), menurut saya itu tidak terhormat lagi.
Kutip
It's okay jika kita mengikuti filosofi dari Open Source Community, tapi jangan sampai merendahkan para programmer yang mengembangkan software mereka demi tujuan komersil, biarlah mereka mengembangkan produk mereka, jika kita tidak setuju, ya ndak usah pake software mereka, apalagi pake yang bajakan (duh..), toh sudah banyak sekali software yang free dan cukup powerfull. Beruntunglah kita yang sudah bisa memperdebatkan apa definisi shareware, freeware dan bajakan.
Saya bukannya bermaksud menghalalkan pembajakan. Pembajakan itu tidak melulu untuk software berbayar. Software open source juga kalau digunakan tanpa menyertakan nama sipengembangnya, itu termasuk membajak juga. Contohnya yang memakai phpBB tapi menghilangkan link phpBB-nya di bagian kaki sudah termasuk membajak juga namanya.
Yang ingin saya perdebatkan adalah masalah software berbayar (lisensi berbayar).


Offline gelal

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 20
  • IQ: 1
Re: hacker vs cracker
« Jawab #27 pada: Februari 02, 2010, 07:39:40 PM »
-- Cracker :: momok :: penjebak --
Yang menjadi problema pelik saat ini justru tindakan para cracker, mereka bukan hanya merugikan perusahaan software komersial, tetapi telah menjebak masyarakat awam pada tindakan ilegal memakai software komersial hasil crack...
Masyarakat awam terjebak pada bias pandangan akibat software crack, hingga timbul salah kaprah bahwa seakan semua software itu bahkan gratis atau bisa dengan mudah didapatkan dengan "menyalin", atau cukup membayar "RP 15 REBU"...
Saya kurang setuju dengan hal ini. Coba kalau kita flashback sedikit.
Pada tahun2 dibawah sebelum adanya tekanan dari AS ke pemerintah Indonesia  mengenai penggunaan software bajakan (terutama software Msoft), adakah di Indonesia yang menggunakan Software berlisensi?
Nah, kalau memang software Msoft itu berlisensi, kenapa tidak dari dulu 'ditekan'.
Yang menjadi pertanyaan, kalau seandainya sampai sekarang ini masyarakat indonesia belum terbiasa (termanjakan) dengan software bajakannya msoft, bakal adakah 'tekanan' dari AS ke pemerintah indo mengenai penerapan HAKI untuk software berlisensi di INdonesia?

Dan satu hal yang paling janggal yang masih belum terjawab pikiran saya, bagaiman misalnya kalau kita tinggal sendiri di suatu hutan belantara , apakah kita masih lebih sadar untuk menggunakan software berlisensi dan di waktu yang sama, kita bisa mengcrack atau menggunakan software hasil crack?
Terlalu jauh berbicara di hutan belantara, bagaimana dengna kita apabila menggunakan dirumah sendiri (tidak bakal ada razia contohnya).
Kalau hanya dengan mengutak-atik hukum suatu negara, maka software itu bisa dijual (berbayar), kenapa tidak cari jalan lain selain daripada menjual lisensi untuk mendapatkan hasil dari pengembangan suatu software?

Contoh bijak: alangkah bijaknya produser2 musik dan penyani di Indonesia yang mengalihkan cara mendapatkan pemasukan melalui RBT daripada ngotot2an memaksa orang membeli kaset atau CD non-bajakan.

Sebab menurut saya masalah HaKI itu sendiri, jangankan di Indonesia, di seluruh dunia pun masih belum menemukan titik terang, terlalu banyak lobang dan kejanggalan.

Kalau mau membahas sedikit masalah HaKI, lihat disini:
http://www.greasy.com/komparta/sejarah_dan_perkembangan.html

Offline Pi-One

  • Next Hikaru Genji
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 6.981
  • IQ: 40
  • Gender: Pria
  • Next Hikaru Genji
    • Membantah Hoax
Re: hacker vs cracker
« Jawab #28 pada: Februari 02, 2010, 11:55:35 PM »
Hahaha.... benar-benar utopia.

Produsen musik cuma mengandalkan RBT, maka tidak ada lagi penjualan CD/DVD musik? Bagaimana nasib penjual CD original? Toko kaset? Bahkan yang bajakan pun gak punya bahan buat dibajak...

Dan mereka yang tinggal di hutan belantara? Sejauh mana mereka memerlukan software-software kalau begitu?

Apakah ada yang makai software berlisensi? Jelas ada. Tapi prosentasenya rendah. Dan entah benar atau tidka, itu juga bisa dibilang stretegi. Secara tidak langsung, itu membua adanya ketergantungan pada produk M$. Dan mereka yang sudah terbiasa, akan sulit beralih ke produk lain. Coba tanya pada orang awam (bukan penggiat IT atau mahasiswa), berapa banyak dari mereka yang mau menyentuh OS selain M$Windows, setelah mereka terbiasa dengan Windows dan gak prnah nyentuh OS alterntif?

Offline gelal

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 20
  • IQ: 1
Re: hacker vs cracker
« Jawab #29 pada: Februari 03, 2010, 08:34:35 AM »
Hahaha.... benar-benar utopia.

Produsen musik cuma mengandalkan RBT, maka tidak ada lagi penjualan CD/DVD musik? Bagaimana nasib penjual CD original? Toko kaset? Bahkan yang bajakan pun gak punya bahan buat dibajak...

Dan mereka yang tinggal di hutan belantara? Sejauh mana mereka memerlukan software-software kalau begitu?

Apakah ada yang makai software berlisensi? Jelas ada. Tapi prosentasenya rendah. Dan entah benar atau tidka, itu juga bisa dibilang stretegi. Secara tidak langsung, itu membua adanya ketergantungan pada produk M$. Dan mereka yang sudah terbiasa, akan sulit beralih ke produk lain. Coba tanya pada orang awam (bukan penggiat IT atau mahasiswa), berapa banyak dari mereka yang mau menyentuh OS selain M$Windows, setelah mereka terbiasa dengan Windows dan gak prnah nyentuh OS alterntif?
Beginilah tipikal insan Indonesia.
Sudah say bilang kita tidak nyambung dalam debat ini.
So, please gw jgn dibalas lagi dlm trit ini. Oke sobat...!

 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
27 Jawaban
242540 Dilihat
Tulisan terakhir November 19, 2015, 03:49:21 PM
oleh Monox D. I-Fly
1 Jawaban
4851 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 14, 2009, 07:36:11 PM
oleh marshall
10 Jawaban
7807 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 19, 2009, 11:10:44 PM
oleh zammax
16 Jawaban
202252 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 21, 2016, 04:26:45 PM
oleh falnella
17 Jawaban
169840 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 05, 2016, 02:44:48 AM
oleh dimensidata