Gunakan MimeTex/LaTex untuk menulis simbol dan persamaan matematika.
Maret 01, 2021, 04:57:32 AM
-
Jual Obat Bius Trivam Di ...
oleh dayatshop
[Februari 26, 2021, 01:49:48 PM] -
komputer
oleh rahmah99
[Februari 18, 2021, 12:07:50 PM] -
Science Fiction
oleh The Houw Liong
[Februari 12, 2021, 09:37:58 PM] -
Free Turnitin Student No ...
oleh olahdatasemarang
[Januari 28, 2021, 04:56:45 AM] -
Program BIPA
oleh Galaxy2382
[Januari 15, 2021, 08:27:06 AM]
Anggota
Total Anggota: 26697
Latest: Harshkumar332
Stats
Total Tulisan: 139621
Total Topik: 10384
Online Today: 57
Online Ever: 441
- (Desember 18, 2011, 12:48:51 AM)
Pengguna Online



Sebagai guru matematika banyak hal yang saya amati terhadap peserta didik saya dalam proses pembelajaran. Ada beberapa masalah yang menyebabkan peserta didik menjadi salah dalam penyelesaian soal namun yang paling mendasar adalah cara di dalam mengoperasikan aljabar, bukan dalam pemahaman materinya.
Di Cina, tradisi menggunakan sempoa sebagai alat hitung, telah dipraktekkan semenjak 2000 tahun yang lalu. Pada awalnya orang Cina menggunakan kepingan buluh atau batang kayu sebagai alat penghitung. Pada pertengahan Dinasti Ming, cara berhitung menggunakan sempoa telah popular di Korea, Jepang, dan Thailand, hingga sampai ke Malaya (kini Malaysia) dan negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Kini sempoa popular diajarkan di Negara-negara Asia Tenggara, Brasil, Meksiko, dan pulau Tonga di lautan Pasifik. Amerika Seikat menjadikan sempoa sebagai “budaya baru”. Universitas California mengembangkan “Pusat Sempoa Amerika Serikat”.
Skala pengukuran merupakan satu pengetahuan yang sangat penting sebelum seseorang melakukan pengolahan data. Skala pengukuran pertama kali diperkenalkan oleh S.S. Steven. Namun, sering kali hal ini dianggap remeh dan diabaikan. Pada dasarnya setiap tools (alat bantu hitung) statistik tidak bisa digunakan begitu saja, ada persyaratan (asumsi yang harus dipenuhi), misalnya : skala data, distribusi data, independensi data, dan variabilitas data.
Pandangan orang umumnya mengatakan bahwa matematika hanyalah penemuan manusia biasa. Sebaliknya, beberapa pemikir masa lalu - Pythagoras, Plato, Cusanus, Kepler, Leibnitz, Newton, Euler, Gauss, termasuk para revolusioner abad ke-20, Planck, Einstein dan Sommerffeld - yakin bahwa keberadaan angka dan bentuk geometris merupakan konsep alam semesta dan konsep yang bebas (independent).
Pemahaman akan pengertian abstrak sepertinya masih dianggap sebagai suatu yang sulit bahkan tak teraplikasi. Bagi orang di pinggir jalan, boleh jadi menganggap orang yang belajar matematika abstrak sebagai orang sinting. Saatnya kita harus menguak apa yang dimaksud abstrak dalam matematika? Apakah suatu yang tidak real? Berikut semoga bisa memberi gambaran akan pemahaman tersebut.
Dalam astronomi dan fisika, kita mengenal adanya suatu fenomena alam yang sangat menarik yaitu lubang hitam (black hole). Ternyata, dalam matematika juga ada fenomena unik yang mirip dengan fenomena lubang hitam yaitu bilangan lubang hitam. Bagaimana sebenarnya bilangan lubang hitam itu? Mari kita bermain-main sebentar dengan angka.
Ratusan tahun yang lalu, manusia hanya mengenal 9 lambang bilangan yakni 1, 2, 2, 3, 5, 6, 7, 8, dan 9. Kemudian, datang angka 0, sehingga jumlah lambang bilangan menjadi 10 buah. Tidak diketahui siapa pencipta bilangan 0, bukti sejarah hanya memperlihatkan bahwa bilangan 0 ditemukan pertama kali dalam zaman Mesir kuno. Sistem berhitung tidak mungkin lagi mengabaikan kehadiran bilangan nol, sekali pun bilangan nol itu membuat kekacauan logika. Mari kita lihat.