Gunakan MimeTex/LaTex untuk menulis simbol dan persamaan matematika.

Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?

Desember 06, 2021, 06:37:00 PM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139668
  • Total Topik: 10408
  • Online Today: 26
  • Online Ever: 441
  • (Desember 18, 2011, 12:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 15
Total: 15

Ikuti ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Penulis Topik: Bahan Aditif  (Dibaca 7997 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline raisuien

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 6.359
  • IQ: 334
  • Gender: Pria
Bahan Aditif
« pada: Agustus 15, 2009, 03:02:29 PM »
Tanpa sadar, kita telah mengonsumsi produk makanan yang mengandung pemanis buatan. Banyak penelitian yang telah mengungkapkan bahwa pemanis buatan ini biang kerok penyebab kegemukan. Made Astawan, MS dari Laboratorium Biokimia Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor, sirup ini terbuat dari proses hidrolisis pati jagung, yang akan menghasilkan polisakarida kompleks yang kemudian terurai menjadi monosakarida, yaitu fruktosa konsentrar tinggi (termasuk gula alami yang berenergi tinggi, dengan mengandung 4 kkal energi per gramnya). Konsumsi berlebihan dapat menyebabkan obesitas, kata Astawan. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan American Journal of Clinic Nutrition, per hari setiap orang mengonsumsi pemanis buatan ini sebanyak 228 kalori dan tingkat obesitas telah meningkat dua kali dalam kurun waktu lima tahun.

Pengganti Gula Anda
Gula diet bebas gemuk – Ditinjau dari sumber energinya, pemanis dapat dibedakan atas pemanis nutritif (kaya energi) – sukrosa (gula pasir), fruktosa, glukosa, dekstrosa, madu dan pemanis non-nutritif (hampa energi) – pemanis sintetik. Selain gula alami, belakangan ini pemakaian gula sintetik (gula buatan) juga kian marak. Gula sintetik didasarkan faktor kesehatan dan tingkat kemanisannya jauh lebih besar dibandingkan gula alami. Beralihlah ke pemanis sintetik seperti: sakarin, siklamat, aspartam, acesulfam-K dan sucralase. “Pemanis sintetik ini hampa energi sehingga sangat digemari dan baik digunakan untuk tujuan berdiet dan penderita diabetes mellitus,”kata Astawan

Fruktosa Membuat Anda Gemuk
Awal kegemukan – Waspadai penggunaan berlebihan fruktosa – sejenis gula yang terdapat secara alami dalam buah dan madu. Menurut Niko Suhaili, CNC, konsultan nutrisi dari The American Association of Nutritional Consultants, fruktosa tidak membutuhkan proses pencernaan ketika masuk dalam kerongkongan Anda. Oleh karena itu dapat masuk langsung ke dalam peredaran darah dengan cepat. Fruktosa masuk dalam klasifikasi “slow releasing” karena tubuh tidak dapat menggunakan fruktosa begitu saja tanpa diubah terlebih dulu. Fruktosa di dalam hati langsung diubah menjadi lemak. Hasil penelitian yang dipimpin Dr Meira Field dari US Department of Agriculture, menemukan adanya sumbatan lemak di dalam hati tikus percobaan yang diberi makan fruktosa.
Modus operandinya – Dalam proses metabolisme tubuh, jenis glukosa yang satu ini dapat dijadikan sebagai sumber energi instan, yang disimpan dalam organ hati dan otot-otot untuk digunakan dan diubah menjadi lemak. Tetapi sayangnya rasa manisnya tidak semanis gula lainnya, maka dari itu bos-bos industri makanan jatuh hati setengah mati pada pemanis ‘alami’ ini karena selain lebih murah, juga dua kali lebih manis. “Bila gula pasir (sukrosa) diberi angka kemanisan 1, maka fruktosa angka kemanisannya 1,7. Ini artinya kemanisan fruktosa 1,7 kali lebih manis dari gula pasir,”kata Astawan
Misteri dalam makanan dan minuman Anda – Tanpa Anda sadari setan kecil ini sudah mulai menjadi setan dewasa yang tersebar dalam rak belanja Anda. Barangkali Anda sudah pernah atau baru saja mengonsumsi ataupun meneguk minuman yang mengandung gula fruktosa ini. Tetapi apa yang baik untuk profit margin perusahaan tidaklah ‘semanis’ itu efeknya bagi kesehatan Anda. Ini disebabkan tubuh Anda tidak menggunakan fruktosa sebagai sumber energi yang siap pakai. “Fruktosa lebih siap diubah ke dalam lemak,”kata Peter Havel, Ph.D., seorang ahli gizi dan peneliti pada University of California at Davis.

Fruktosa Mengacaukan Sinyal Lapar Anda

Normalnya, bila Anda makan makanan yang mangandung glukosa atau tepung atau karbohidrat lainnya, tubuh Anda akan melepaskan insulin – hormon yang melakukan sederet pekerjaan penting untuk mengatur kadar gula dalam darah. Menurut Yusnalaini Y. Mukawi, M.Sc dari Poliklinik Gizi RSPAD Gatot Subroto, insulin juga berfungsi mengedarkan glukosa ke seluruh jaringan tubuh dan mengubahnya menjadi glikogen (gula otot) – bahan pembentuk energi Anda.
Hormon pengatur berat badan – Tidak hanya itu saja, insulin juga berperan memfasilitasi penyimpanan glikogen di dalam hati dan menstimulasi produk hormon leptin. Hormon leptin ini bertindak sebagai pengontrol nafsu makan Anda. Hormon ini membantu mengatur penyimpanan lemak tubuh dan membantu meningkatkan metabolisme ketika dibutuhkan untuk menjaga berat badan tetap stabil. “Kadar leptin dalam tubuh, memiliki korelasi langsung dengan seberapa banyak lemak ditimbun dalam tubuh,”kata Yusnalaini. Reseptor atau penerima sinyal leptin, terletak di bagian otak yang disebut hypothalamus. Bagian otak ini terutama diketahui sebagai pengatur berat badan. Caranya dengan mengendalikan rasa lapar, kebiasaan makan, suhu tubuh dan kebutuhan energi. Pada dasarnya, leptin adalah sinyal penghubung antara sistem saraf pusat dan sel lemak dalam tubuh. Leptin berfungsi sebagai penurun rasa lapar.
Fruktosa mendongkrak lemak tubuh – “Fruktosa tidak merangsang pelepasan insulin, maka dari itu tidak pula meningkatkan produksi leptin,” kata Yusnalaini. Ini adalah bagian yang terpenting dari kasus melawan fruktosa secara umum. Jika kadar leptin turun, tubuh akan merasa lapar dan sebaliknya jika kadar leptin naik, tubuh akan merasa kenyang. Tanpa hadirnya insulin dari leptin, nafsu makan Anda tidak punya mekanisme padam – tidak terkontrol dan pastinya membuat makan Anda tak terkontrol dan mengerahkan Anda untuk bergabung dalam komunitas orang gemuk. Laporan WHO (World Health Organization) pada tahun 2003 menyebutkan 300 juta orang dewasa menderita obesitas.

Bagaimana Menemukan Fruktosa dan Menghindarinya
Baca fakta gizi di label makanan – Perhatikan kadar glukosa yang ada di label makanan (Nutrition facts) dan tanyakan ke dokter gizi Anda kira-kira gula yang ada di dalamnya apakah aman Anda konsumsi.

Di Mana Fruktosa Bersembunyi?
Pertahanan lapis pertama – Hindari soda reguler. Kemudian baca label nutrisi. Bila label bertuliskan “gula” atau “gula pasir”, produk tersebut mengandung sukrosa, yang merupakan campuran 50-50 atas glukosa dan fruktosa. Ini tidak masalah. Tetapi bila Anda melihat makanan yang memiliki 8 gram atau lebih guladan fruktosa tertulis dalam urutan utama dalam daftar bahan-bahan, beli yang lain saja. Ingat bahwa tubuh Anda sebenarnya dapat menghadapi zat apapun dalam kadar rendah, tetapi fruktosa dalam jumlah banyak adalah tiket sekali jalan ke ‘kota gembul’.
Pertahanan lapis kedua – Batasi kebutuhan gula Anda, jangan kurang dan jangan lebih. Dekati level normal kadar gula darah Anda, sebagaimana yang telah dianjurkan oleh Pusat Diabetes dan Lipid FKUI/RSCM, yaitu tidak lebih dari 200 mg/dl kadar gula darah Anda atau kurang dari 126 mg/dl gula darah puasa.

Offline syx

  • Global Moderator
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 4.540
  • IQ: 341
  • Gender: Pria
    • Kliping Koran
Bahan Aditif
« Jawab #1 pada: Oktober 15, 2009, 09:25:43 AM »
bahan aditif ato bahan tambahan adalah bahan-bahan yang sengaja ditambahkan pada makanan, obat dan/atau kosmetik untuk tujuan tertentu, misalnya meningkatkan daya tarik terhadap konsumen dan memperpanjang masa pakai. pertama kita bahas pengawet dulu...
ini diambil dari leaflet BPOM: kenali pengawet pangan yang aman (2006).

apa itu pengawet pangan?
bahan pengawet umumnya digunakan untuk mengawetkan pangan yang mempunyai sifat mudah rusak. bahan ini dapat menghambat atau memperlambat proses degradasi bahan pangan.

apa saja jenisnya?
pengawet pangan dapat berupa bahan pengawet alami atau pengawet sintetis. bahan alami yang juga mempunyai fungsi sebagai pengawet contohnya adalah garam, gula dan kunyit. bahan pengawet sintetis yang diijinkan untuk pangan diatur dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 722/Menkes/Per/IX/88, jumlahnya ada 26 jenis, yaitu:
- asam benzoat
- asam propionat
- asam sorbat
- belerang dioksida
- etil p-hidroksibenzoat
- kalium benzoat
- kalium bisulfit
- kalium metabisulfit
- kalium nitrat
- kalium nitrit
- kalium propionat
- kalium sorbat
- kalium sulfit
- kalsium benzoat
- kalsium propionat
- kalsium sorbat
- metil p-hidroksibenzoat
- natrium benzoat
- natrium bisulfit
- natrium metabisulfit
- natrium nitrat
- natrium nitrit
- natrium propionat
- natrium sulfit
- niasin
- propil p-hidroksibenzoat

bagaimana penggunaan pengawet yang tepat?
penggunaan pengawet dalam pangan harus tepat, baik jenis maupun dosisnya. suatu bahan pengawet mungkin efektif untuk mengawetkan pangan tertentu, tetapi tidak efektif untuk mengawetkan pangan lainnya karena pangan mempunyai sifat yang berbeda-beda sehingga mikroba perusak yang akan dihambat pertumbuhannya juga berbeda.

apa hukuman bagi produsen yang masih saja menggunakan bahan kimia berbahaya untuk pengawet pangan?
penyalahgunaan bahan kimia berbahaya sebagai pengawet pangan dapat membahayakan keselamatan konsumen dan karena itu dapat diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan atau denda paling banyak Rp 600.000.000,- (enam ratus juta rupiah).

pengawet pangan yang diijinkan
beberapa bahan pengawet yang umum digunakan dan jenis pangan serta batas penggunaannya, diantaranya adalah:
- benzoat, (dalam bentuk asam, atau garam kalium atau natrium benzoat), yaitu bahan yang digunakan untuk mengawetkan minuman ringan dan kecap (600 mg/kg), serta sari buah, saus tomat, saus sambal, jem dan jeli, manisan, agar, dan makanan lain (1 g/kg).
- propionat, (dalam bentuk asam, atau garam kalium atau natrium propionat), yaitu bahan pengawet untuk roti (2 g/kg) dan keju olahan (3 g/kg).
- nitrit, (dalam bentuk garam kalium/natrium nitrit) dan nitrat (dalam bentuk garam kalium/natrium nitrat), yaitu bahan pengawet untuk daging olahan atau yang diawetkan seperti sosis (125 mg nitrit/kg atau 500 mg nitrat/kg), korned dalam kaleng (50 mg nitrit/kg) atau keju (50 mg nitrat/kg).
- sorbat, (dalam bentuk garam kalium atau kalsium sorbat), yaitu bahan pengawet untuk margarin, pekatan sari buah dan keju (1 g/kg).
- sulfit, (dalam bentuk garam kalium atau natrium bisulfit atau metabisulfit), yaitu bahan pengawet untuk potongan kentang  goreng (500 mg/kg), udang beku (100 mg/kg), dan pekatan sari nenas (500 mg/kg).

Offline r.a.n

  • Dosen
  • ****
  • Tulisan: 312
  • IQ: 21
  • Gender: Pria
  • Tebak saya yang mana..????
Re: Bahan Aditif
« Jawab #2 pada: Oktober 15, 2009, 10:55:10 AM »
Hmm...syx kalo ketentuan kadarnya gimana?? Klasifikasi berdasarkan panganan ada nggak?? Maksih... ;D
"stem..cell apa BTKV..aduh bingung..???"

Offline syx

  • Global Moderator
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 4.540
  • IQ: 341
  • Gender: Pria
    • Kliping Koran
Re: Bahan Aditif
« Jawab #3 pada: Oktober 15, 2009, 09:54:17 PM »
lah? kan ada di bagian bawah. yg ada di leaflet BPOM cuma ada itu aja... klasifikasi pangannya juga kasar banget. kalo untuk obat biasanya liat di handbook of pharmaceutical excipients.

 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
9 Jawaban
18516 Dilihat
Tulisan terakhir September 18, 2008, 08:58:51 AM
oleh syx
Matriks Invers Aditif

Dimulai oleh Fachni Rosyadi Bimbel Matematika

2 Jawaban
11399 Dilihat
Tulisan terakhir September 04, 2010, 10:45:30 PM
oleh Mtk Kerajaan Mataram
6 Jawaban
198099 Dilihat
Tulisan terakhir September 23, 2011, 09:19:07 PM
oleh topazo
6 Jawaban
4163 Dilihat
Tulisan terakhir November 22, 2011, 11:36:49 PM
oleh Farabi
0 Jawaban
1669 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 15, 2014, 01:16:32 AM
oleh zoldik