Member baru? Bingung? Perlu bantuan? Silakan baca panduan singkat untuk ikut berdiskusi.

Welcome to Forum Sains Indonesia. Please login or sign up.

Juni 26, 2022, 05:51:55 PM

Login with username, password and session length

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
  • Total Anggota: 26,754
  • Latest: sainsftw
Stats
  • Total Tulisan: 139,633
  • Total Topik: 10,390
  • Online today: 62
  • Online ever: 441
  • (Desember 17, 2011, 09:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 37
Total: 37

Aku Cinta ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Operasi Pembedahan Payudara, Setiap 4 Pasien Terdapat 1 Diantaranya yang Mengala

Dimulai oleh liviapangdoko, Maret 29, 2014, 12:25:32 AM

« sebelumnya - berikutnya »

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

liviapangdoko

Banyak yang mengira bahwa kanker payudara merupakan penyakit kalangan usia lanjut, tetapi pada kenyataannya tidaklah sepeti itu. Di Indonesia, 30% dari penderita kanker payudara berusia di bawah 40 tahun. Penelitian WHO membuktikan, sebagian besar kanker payudara  di Indonesia terjadi pada kalangan usia 40-50 tahun. Jumlah penderita kanker payudara di Indonesia semakin banyak, semakin ganas, dan semakin sulit diatasi.

Penderita kanker payudara umumnya memilih metode operasi
Setiap tahun sekitar 260.000 orang terdiagnosa terkena kanker payudara.
Bagi kebanyakan penderita kanker payudara, setelah terkena penyakit ini, biasanya saran yang diberikan bukanlah saran yang bisa dipertimbangkan terlebih dahulu : Mastektomi payudara. Mastektomi payudara sering juga disebut sebagai pembedahan seluruh payudara, di mana pembedahan tersebut meliputi seluruh payudara, termasuk kulit dan bagian puting. "Walaupun metode ini dapat menghilangkan kanker, tetapi kecacatan yang disebabkan, membawa beban psikologis yang tidak dapat diperbaiki bagi pasien, dan pukulannya bagi kaum wanita muda akan jauh lebih besar. Sebagai seorang ahli bedah, saya sering menyaksikan sendiri bagaimana operasi ini membawa dampak emosi yang luar biasa bagi pasien," kata Wang Xin, ahli bedah onkologi dari Modern Cancer Hospital Guangzhou.

80% penderita kanker payudara mengalami depresi
Menurut data statistik, sekitar 80% dari seluruh penderita kanker payudara memiliki tingkat emosi yang berbeda-beda, bahkan depresi. Menurut data WHO yang diterbitkan, tingkat depresi penderita kanker sekitar 20%-45%, jauh lebih tinggi dari rata-rata orang biasa yang sekitar 6.1%-9.5%, dan tingkat depresi pada penderita kanker payudara akan lebih terlihat.
Prof. Wang Xin mengatakan : "Pada saat saya menangani penderita kanker payudara, banyak penderita yang sudah menikah tidak berani menyalakan lampu pada saat melakukan hubungan dengan suami, dan tidak berani menanggalkan seluruh pakaiannya. Bahkan pada beberapa penderita menolak tidur satu kamar dengan suami mereka, atau banyak yang khawatir pada akhirnya "mereka bukan lagi seorang wanita" dan sang suami mencari wanita lain. Wanita yang belum menikah khawatir dirinya tidak lagi memiliki payudara, dan tidak akan menikah sampai tua. Mereka tidak berani melakukan aktivitas seperti berenang, berendam air panas, menari".
Berdasarkan penelitian, pada kasus pembedahan seluruh payudara, terdapat 1 di setiap 4 penderita yang menderita depresi, dan merasa dirinya tidak lagi sempurna.
Namun, jumlah orang yang menderita kanker payudara di Indonesia terus bertambah, dan cenderung menyerang kalangan muda, 10 tahun lebih muda dibandingkan yang terjadi di Eropa-Amerika, dan menempati urutan pertama pada kanker yang dialami kaum wanita. Karena kurangnya pengetahuan yang benar, membuat hanya 5.6% dari seluruh pasien yang membutuhkan operasi yang menjalani rekonstruksi payudara, dan angka ini hanya 1/8 dari jumlah yang ada di negara-negara Eropa dan Amerika.

Rekonstruksi payudara di waktu yang sama
Angelina Jolie tidak hanya dikenal sebagai bintang film, tetapi juga sebagai ibu dari 6 orang anak. Demi mencegah kanker payudara, ia melakukan mastektomi pada kedua payudaranya, tetapi ini sama sekali tidak mempengaruhi kecantikan dan keseksiannya, karena ia menjalani rekonstruksi payudara. Jolie menggambarkan operasi yang dijalaninya :"2 minggu kemudian saya menjalani operasi yang paling penting, setelah membedah jaringan payudara, dan untuk sementara dimasukkan implan. Proses operasi bisa memakan waktu hingga 8 jam. Tetapi beberapa hari setelah operasi, hidup anda akan kembali pulih dan normal kembali. 9 minggu kemudian, saya menjalani operasi yang terakhir, dan membentuk kembali payudara saya. Beberapa tahun belakangan, operasi jenis ini telah mengalami banyak kemajuan, dan pada akhirnya 'hasil jadi' payudaranya sangat indah."  "Sekarang saya bisa memberitahu anak-anak saya, bahwa mereka tidak perlu lagi takut ibunya akan meninggal karena kanker payudara".

Dan seorang ibu dari Indonesia, ALVAREZ CINDY ANN, meskipun bukan seorang artis terkenal, ia sama seperti Jolie, memiliki 6 orang anak, bedanya adalah ia terkena kanker payudara stadium awal, tetapi persamaan di antara mereka ialah, mereka sama-sama berani menghadapi mastektomi dan rekonstruksi payudara. Metode ini berbeda dengan yang dilakukan Jolie, Ann tidak memerlukan 2 kali operasi, 1 kali operasi saja cukup untuk melakukan mastektomi yang kemudian langsung dilanjutkan dengan rekonstruksi, ia tidak perlu merasakan sakit 2 kali. Dan, mastektomi serta rekonstruksi payudara harus dilakukan bersama-sama oleh ahli onkologi dan ahli bedah plastik.
Ahli bedah Ann, Prof. Wang Xin, mengatakan, "Metode operasi tradisional pada kanker payudara, bisa melakukan pembedahan pada keseluruhan payudara, dan luka yang diakibatkan akan lebih besar, serta tidak dapat meningkatkan harapan hidup penderita; Mastektomi radikal hanya melakukan pembedahan pada bagian payudara yang terkena penyakit serta menghilangkan jaringan lemak getah bening yang ada di bawah ketiak, melindungi pektoralis utama, pektoralis minor, cabang-cabang saraf dada, dan lain-lain, tetapi juga harus dipertimbangkan, apakah kondisi pasien memungkinkan untuk menjalani metode ini."
Setelah mengangkat payudara yang mengalami perubahan patologi, terdapat dua pilihan, yaitu memperbaiki payudara secara elektif dan rekonstruksi payudara, Ann dan dokter sepakat dengan pilihan yang pertama. "Pada saat pengangkatan payudara dilakukan, dilakukan juga operasi rekonstuksi payudara, menghindari jatuhnya mental pasien sebelum operasi dilakukan, selain itu juga tidak menggangu pengobatan tumor yang akan dilakukan". Dokter spesialis bedah plastik Modern Hospital Guangzhou, Tu YangJun, yang melakukan operasi rekonstruksi untuk Ann menyatakan, mereka akan melakukan Skin Flaps kepada Ann yang baru saja melakukan pengangkatan kanker payudara, kemudian akan melakukan penanaman implan sebanyak 250ml, yang akan diletakan di belakang pectoralis mayor.

Tulisan tangan Ann :
   Yang diperbaiki pada rekonstruksi payudara bukan hanya fisik, tetapi juga psikologis.
Pada 20 Februari 2014, saya melakukan sebuah peristiwa penting untuk kecantikan tubuh saya semasa hidup saya, yaitu melakukan mastektomi dan rekonstruksi payudara. Ketika terbangun, rasa sakit itu mengingatkan sata : Tubuh saya benar-benar telah utuh, dan psikologis saya yang dlu seperti bunga yang sudah layu kini kembali mekar...
Dan saya baru mengetahui, bahwa melalui rekonstruksi payudara, tidak hanya fisik yang diperbaiki, tetapi juga psikologis.