Member baru? Bingung? Perlu bantuan? Silakan baca panduan singkat untuk ikut berdiskusi.

Welcome to Forum Sains Indonesia. Please login or sign up.

September 25, 2022, 11:08:42 AM

Login with username, password and session length

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139,638
  • Total Topik: 10,395
  • Online today: 39
  • Online ever: 441
  • (Desember 17, 2011, 09:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 16
Total: 16

Aku Cinta ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Pembesaran Payudara Anak Lak-Laki, Kenapa?

Dimulai oleh raisuien, Februari 07, 2010, 06:04:30 PM

« sebelumnya - berikutnya »

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

raisuien

Banyaknya obat-obatan dan kandungan kimia dalam makanan di zaman modern ini kerap menimbulkan kekhawatiran, salah satunya adalah risiko pembesaran dan pengerasan payudara yang tidak alami.

Pada anak perempuan, pembesaran dan pengerasan payudara tersebut bisa terjadi sebelum waktunya, yaitu sebelum masa puber dimulai. Tetapi yang mengagetkan,  dada anak laki-laki pun ternyata berisiko mengalami pembesaran dan mengeras selayaknya payudara perempuan.

Dr. Aman Pulungan, pakar endokrinologi anak dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengemukakan, pembesaran payudara pada anak laki-laki  dipicu oleh yang disebut endocrine disruptor.  Zat ini berbahaya karena dapat mengganggu hormon anak sehingga perkembangan pubertasnya terganggu. 

"(Zat) itu tiap tahun keluar. Bisa dari pestisida, polusi, zat kimia, dan dalam makanan," ujarnya

Dikatakan Aman, memang banyak faktor yang berperan memicu terganggunya hormon anak, termasuk di antaranya faktor makanan. Salah satunya adalah makanan yang mengandung estrogen berlebihan.

Dalam artikel [pranala luar disembunyikan, sila masuk atau daftar.] sebelumnya, Prof. DR.Dr. Wimpie Pangkahila,SpAnd, FACCS, pernah mensinyalir adanya hormon mirip estrogen yang dicampur dengan pakan ternak. "Makanan ternak yang dicampur dengan bahan yang mirip hormon mirip estrogen  memang akan berakibat pada gangguan pertumbuhan organ seksual (pada anak)," ujar Prof Wimpie.

Dr. Aman sendiri mengambil contoh kasus hidangan di gerai-gerai fast-food di Amerika Latin. Dari riset yang ada, kata dia, jumlah kasus pembesaran payudara dini, yaitu sebelum masa puber, pada anak perempuan di Amerika Latin meningkat seiring  diperkenalkan makanan cepat saji pada budaya mereka.

Lalu, apakah berarti penyebab kelainan mereka itu pasti dari makanan cepat saji itu? Dr. Aman tidak dapat memastikannya. "Saya tak mau bilang ayam potong mengandung estrogen... tapi ternyata waktu makanan fast-food distop itu (pembesaran payudara dini) stop juga," ujarnya

Dr Aman menegaskan, risiko pembesaran payudara pada anak laki-laki memang ada. Perlu diingat. seiring masa puber dada pria menjadi lebih bidang dan terjadi pula pembesaran payudara, walau tak berlebihan.  Namun, "Ketika si anak (laki-laki) dapat makanan atau zat kimia tertentu maka proses (pembesaran payudara) ini bisa berlebihan," katanya.

Dr Aman bilang, sadar atau tak sadar, 50-60 persen anak laki-laki pada masa puber memang secara alami payudaranya membesar. Tetapi ini tak permanen dan bisa saja tak kentara.

Yang menjadi masalah, lanjut Dr Aman, kalau proses ini terjadi sebelum usia puber, atau kira-kira dibawah 13 tahun, atau bila efeknya permanen. "Itulah yang datang berobat," imbuh sang dokter.

Sekali lagi, dengan hati-hati ia memaparkan, walau penelitian belum bisa menunjukkan secara pasti sumber kelainan itu, tapi minimal satu data yang terukur adalah bahwa di setiap kasus pembesaran payudara pada anak laki-laki maka tingkat estrogennya pasti tinggi.

Kenapa penelitiannya begitu sulit?

Mungkin Anda gemas dengan hasil penelitian yang hingga kini belum konklusif, tapi harus diingat bahwa penelitian juga terhambat dua kesulitan yang besar. Yang pertama, seperti dikatakan sebelumnya, faktor lingkungan memang sangat luas, bisa dari polusi, insektisida, atau obat-obatan. Dan kedua, adalah bahwa tiap anak adalah berbeda. Dr. Aman memberi contoh dua anak kembar yang semestinya DNA-nya sama, tapi masing-masing bisa bereaksi berbeda pada kandungan estrogen dalam makanan.

Jadi bagaimana kita yang awam menyikapi polemik ilmiah ini? Dr. Aman meyimpulkan, "Messagenya kenalilah makanan anda dan pastikan makanan yang anda makan itu sehat. Pintar-pintarlah memilih makanan."

Secara sederhananya ia menyarankan agar setidaknya kita memperhatikan dimana kita membeli makanan, "Kalau tempatnya terakreditasi apalagi chain department, seharusnya yang dia jual bagus," tandasnya. 

[pranala luar disembunyikan, sila masuk atau daftar.].