Forum Sains Indonesia

Ilmu Terapan => Kesehatan => Topik dimulai oleh: m-Engineer pada November 05, 2011, 05:36:32 AM

Judul: Potensi obat-obatan herbal sebagai obat komplementer terhadap Candidiasis
Ditulis oleh: m-Engineer pada November 05, 2011, 05:36:32 AM
Candidiasis merupakan salah satu infeksi nosokomial yang penting di seluruh dunia dengan angka morbiditas, mortalitas dan pembiayaan kesehatan yang bermakna (Simatupang, 2009). Di negara berkembang, seperti Indonesia, insidensi kejadian kandidiasis masih sangat tinggi (Adiguna, 2001).  Candidiasis kronik dapat bermanifestasi sebagai candidemia. Penyebaran melalui darah tercatat telah menyebabkan kematian sebanyak 30-40% walaupun telah dilakukan perawatan intensif (Gudlaugsson et al, 2003).

Penyakit candidiasis merupakan infeksi oportunitis yang disebabkan karena pertumbuhan jamur genus Candida yang berlebihan (Chami et al, 2004). Faktor virulensi utama Candida albicans adalah kemampuannya untuk memproduksi dan mensekresikan enzim aspartil protease yang dapat mencerna protein host. Penelitian pada hewan coba memperlihatkan aktivitas protease yang secara langsung berpengaruh terhadap patogenesitasnya. Aktifitas enzim protease dari spesies ini menunjukkan virulensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan spesies Candida lainnya (Waltimo et al, 2003).

Secara superficial, Candida albicans menyerang stratum corneum dari epitel mukosa dan kulit. Infeksi biasanya terjadi pada daerah mukosa dan lipatan kulit yang bersifat hangat dan lembab. Infeksi tersebut menimbulkan gejala yang berbeda pada setiap daerah yang diinfeksi (Kumamoto, 2005).

Aktivitas adhesi dari Candida albicans diperankan oleh manan, manoprotein, dan khitin. Setelah melakukan adhesi, fungi tersebut dapat melakukan invasi melalui endotel pembuluh darah untuk kemudian melakukan migrasi ke jaringan lain, misalnya otak, ginjal, jantung, hepar, dan paru-paru. Kondisi tersebut disebut dengan candidiasis systemic (Grubb et al, 2008).

Saat ini, pengobatan sintetik terhadap Candida yang paling banyak diberikan adalah golongan azol, seperti flukonazol (Arnita, 2007). Namun, akses masyarakat Indonesia terhadap pengobatan yang baik masih tergolong kurang. Hal ini disebabkan karena harga obat yang relatif mahal bagi sebagian kalangan (Hidayat, 2005).

Selain itu, penggunaan obat antifungi, seperti golongan azol lama-kelamaan akan menyebabkan peningkatan resistensi terhadap obat tersebut (Khodavandi A et al, 2009). Bahkan beberapa spesies Candida albicans juga telah menunjukkan resistensi terhadap obat antifungi (Ramali dan Werdani, 2001). Oleh karena itu, penggunaan alternatif pengobatan  mulai dikembangkan, terutama pengobatan herbal. Pengobatan herbal tersebut umumnya menggunakan bahan-bahan yang relatif mudah didapatkan dan tumbuhannya mudah dikembangbiakkan sehingga masyarakat lebih mudah mendapatkannya (Ariyani et al, 2007).

Oleh:
Permana B.P., Harmoko A.D., Pratama M.Y.
Faculty of Medicine, Sebelas Maret University


Daftar Pustaka:

Adiguna, M.S. 2001. Epidemiologi Dermatomikosis di Indonesia. Dalam: Dermatomikosis Superficialis. Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal: 1-5

Ariyani M, Kusumaningsih T, Rahardjo MS. 2007.  Daya hambat ekstrak daun jambu mente (Anarcadium occidentale) terhadap pertumbuhan Streptococcus sanguis. Jurnal PDGI 57 (02): 45-51.

Arnita. 2007. Terapi Pilihan untuk Vaginal Candidiasis. Farmacia. 7: 28.

Chami F, Chami N, et al. 2007. Evaluation of carvacrol and eugenol as prophylaxis and treatment of vaginal candidiasis in an immunosuppressed rat model. J Antimicrob Chemother. 54(5):909–14.

Grubb SEW, C Murdoch, PE Sudbery, SP Saville, JLL Ribot, MH Thornhill. 2008. Candida albicans-Endothelial Cell Interactions: a Key Step in the Pathogenesis of Systemic Candidiasis. INFECTION AND IMMUNITY, VOL. 76. NO. 10, p. 4370–4377

Gudlaugsson O, Gillespie S, Lee K, Vande Berg J, Hu J, Messer S, Herwaldt L, Pfaller M, Diekema D. 2003. Attributable mortality of nosocomial candidemia, revisited. Clin Infect Dis 37: 1172–1177.

Khodavandi, A, F Alizadeh, F Aala, Z Sekawi, PP Chong. 2009. In Vitro Investigation of Antifungal Activity of Allicin Alone and in Combination with Azoles Against Candida Species . vol 169 (4). 287-295.

Kumamoto CA. 2005. A Contact-Activated Kinase Signals C. albicans Invasive Growth and Biofilm Development. Proc Natl Acad Sci USA. 102(15); 5576-81.

Ramali, L.M. dan S. Werdani. 2001. Kandidiasis Kutan dan Mukokutan. Dalam: Dermatofikosis Superficialis. Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal: 55-65.

Simatupang, MM. 2009. Candida albicans. Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran USU.

Waltimo TMT, Sen BH, Meurman JH, Orstavik D, Haapasalo MPP. 2003. Yeast in apical periodontitis. Crit Rev Bio Med; 34: 429-34.

Judul: Re: Potensi obat-obatan herbal sebagai obat komplementer terhadap Candidiasis
Ditulis oleh: syx pada November 05, 2011, 07:06:51 AM
tanaman apa aja yang berpotensi bisa digunakan? bentuk sediaan atau cara pakainya?
Judul: Re: Potensi obat-obatan herbal sebagai obat komplementer terhadap Candidiasis
Ditulis oleh: m-Engineer pada November 05, 2011, 08:19:49 AM
Diantaranya yang telah banyak diteliti ialah kunyit, serai (Cymbopogon citratus, ini yang paling bagus), dll. Adapun cara pakainya bisa dengan dengan ekstrak, atau lebih bagus lagi dengan minyak atsirinya.
(Abe S. et al, 2003) PMID:14615795 [PubMed - indexed for MEDLINE]

namun dalam penerapannya hal ini masih sebagai hasil penelitian, dan belum banyak diterapkan sebagai obat konvensional di masyarakat luas.
Judul: Re: Potensi obat-obatan herbal sebagai obat komplementer terhadap Candidiasis
Ditulis oleh: syx pada November 05, 2011, 08:22:16 AM
cara pakai obat candidiasis umumnya ada dua: secara per oral (sistemik) atau per vaginal (lokal). nah, bahan-bahan alami tersebut lebih baik digunakan secara bagaimana?
Judul: Re: Potensi obat-obatan herbal sebagai obat komplementer terhadap Candidiasis
Ditulis oleh: m-Engineer pada November 08, 2011, 08:36:42 AM
Untuk penggunaan secara langsung pada penderita dari apa yang saya ketahui kebanyakan bahan-bahan herbal  tersebut masih dalam proses uji klinis pada pasien (untuk menentukan cara penggunaan yang tepat dan paling bagus, apakah diinjeksi, diminum, dioles, dll).

Adapun pada penelitian-penelitian yang banyak yang baru tahap penelitian secara in vitro di laboratorium terhadap daya hambat pertumbuhan Candida albicans.
Judul: Re: Potensi obat-obatan herbal sebagai obat komplementer terhadap Candidiasis
Ditulis oleh: syx pada November 09, 2011, 03:33:30 AM
ok. kita semua berharap ke depannya kita dapatkan hasil bagus...