Member baru? Bingung? Perlu bantuan? Silakan baca panduan singkat untuk ikut berdiskusi.

Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?

April 22, 2021, 08:34:36 PM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139629
  • Total Topik: 10389
  • Online Today: 228
  • Online Ever: 441
  • (Desember 18, 2011, 12:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 108
Total: 108

Ikuti ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Penulis Topik: Seks, Masturbasi, dan Kelestarian Hidup  (Dibaca 6244 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline anonim

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 31
  • IQ: -4
Seks, Masturbasi, dan Kelestarian Hidup
« pada: September 28, 2010, 10:04:23 AM »
SEKS, MASTURBASI, DAN KELESTARIAN HIDUP[/b]


Oleh: Anonim


I. Seks Sebagai Proses Alamiah

Ketika sesorang sudah lama tidak melakukan masturbasi (seks) maka secara alamiah hormon seks dalam tubuhnya meningkat begitupun dengan jumlah sperma, sensitivitas meningkat, sehingga ketika genital tertekan sedikit saja langsung merasa terangsang. Hal itu mendorong seseorang untuk melakukan sentuhan tangan. Dan fikiran juga akan selalu tertuju pada seks. Sehingga seseorang merasa gelisah dan tidak tenang. Terbayang kenikmatan yang sangat menggiurkan. Dan ketika sudah melakukan sentuhan pada alat genital maka segalanya tidak akan bisa dihentikan dan orgasme pasti akan terjadi. Hal itu tidak bisa dielakkan. Dan hanya sesaat setelah orgasme maka akan terasa suatu perasaan yang aneh dan tidak menyenangkan. Dan perasaan itu langsung diikuti dengan keletihan fisik, lapar, dan mengantuk, merasa hampa dan menyesal. Setelah itu langsung diikuti keinginan untuk mengakhiri kebiasaan itu. Inilah periode yang disebut sebagai refractory period. Setelah itu kemudian baru terasa bahwa secara keseluruhan efek negatif yang ditimbulkan lebih besar daripada kenikmatannya (yang hanya sesaat). Dan setelah itu hari-hari terasa menyebalkan.
 
Dari fakta itu jelas bahwa inti persoalan dalam masturbasi ialah bahwa hal itu menyebabkan orgasme. Jika seandainya masturbasi tidak menyebabkan orgasme maka tentu tidak akan ada efek negatif yang dirasakan. Ironisnya, sadar atau tidak, seseorang melakukan masturbasi justru bertujuan untuk mencapai orgasme! Padahal orgasme adalah sumber penderitaan itu!

Jika orgasme menyebabkan kekalahan dan penderitaan maka masturbasi tanpa orgasme akan menciptakan perasaan menang. Sayangnya masturbasi tanpa orgasme adalah hal yang sangat sulit. Dan hal itu adalah mustahil jika masturbasi itu dilakukan setelah lama tidak masturbasi. Jadi bisa dikatakan bahwa mustahil melakukan masturbasi tanpa orgasme. Atau dengan kata lain masturbasi akan menyebabkan orgasme.

Hormon seks dalam tubuh akan berkurang setelah seseorang melakukan masturbasi dan orgasme. Dan ini menyebabkan dorongan seks menurun. Tapi seiring dengan bertambahnya waktu maka hormon-hormon seks itu secara alamiah akan meningkat kembali sehingga seseorang kembali melakukan seks. Dan siklus alamiah ini akan terus berulang dan berulang kembali dalam sepanjang sejarah kehidupan.


II. Seks Adalah Aktifitas yang Berat

Pada dasarnya orgasme tidak untuk dirasakan sendirian melainkan dengan pasangan. Selain menyebabkan penurunan kondisi fisik (stamina, konsentrasi, dsb), orgasme juga menimbulkan goncangan psikologis yang cukup berat sehingga manusia pada dasarnya tidak mampu merasakannya sendirian. Perasaan menyesal dan bersalah setelah masturbasi itu adalah bukti dari goncangan psikologis itu.

Seks adalah aktifitas yang berat karena pada dasarnya seks adalah aktifitas dalam rangka mereproduksi diri sendiri. Setiap kali melakukan seks dan orgasme maka seseorang kehilangan energi yang diperlukan guna menciptakan manusia! Itulah sebabnya seseorang mengalami keletihan yg luar biasa pasca mengalami orgasme dan juga kemudian tidak bisa langsung kembali melakukan seks bahkan hasrat terhadap seks menjadi sirna. Dalam kondisi itu, tubuh menolak untuk kembali melakukan seks! karena tubuh memerlukan istirahat setelah melakukan aktifitas yg sangat berat.


III. Seks Sebagai Rutinitas

Jika seks adalah aktifitas yang berat dan cenderung merugikan (dalam arti menurunkan stamina) mengapa semua mahluk hidup rutin melakukannya?

Mahluk hidup, termasuk manusia, sebenarnya tidak ingin melakukan seks. Tetapi karena alam menghendaki berlangsungnya kehidupan maka sel, gen, atau apa yang disebut Dawkins sebagai meme didalam tubuh setiap mahluk hidup selalu tergerak untuk kembali melakukan proses reproduksi dengan cara membelah diri atau melakukan seks. Kenikmaran seks yang berpuncak pada orgasme adalah motivator bagi semua mahluk hidup agar mahluk hidup melakukan seks sepanjang hidupnya.

Bayangkan jika sensasi kenikmatan seks itu tidak ada, maka mahluk hidup tentu tidak tertarik melakukan seks dan proses reproduksi tidak akan terjadi. Dan dunia inipun akan kembali menjadi dunia yang mati. Namun alam tidak menghendaki dunia yang seperti itu. Alam memutuskan menciptakan kehidupan setelah sebelumnya tidak ada kehidupan. Dan alam telah memutuskan untuk mempertahankan kehidupan itu tetap ada dibumi selama mungkin melalui mekanisme reproduksi. Dan kehidupan yang seperti ini sebenarnya terjadi secara sepontan sebagai akibat dari serangkaian kebetulan.

Secara tidak disengaja, alam telah menciptakan kehidupan, kehidupan yang tumbuh dan berkembang biak yang secara membabi buta selalu berupaya mempertahankan eksistensinya dengan cara bereproduksi. Karakteristik mahluk hidup seperti itu ditularkan dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan cukup sistematis melalui replikasi kode-kode genetik. Tujuannya tidak lain untuk menjamin agar kehidupan terus berlangsung dan berkembang biak di bumi ini.

Jika kita kembali dan kembali lagi melakukan seks atau masturbasi maka itu tidak lain karena kita tidak mampu menentang hukum alam itu. Kita adalah mahluk hidup yang tersusun dari sel yang didalamnya terkandung kode-kode genetik yang terprogram sedemikian rupa sehingga kita, sebagai hardware, akan kembali dan kembali lagi melakukan seks. Kita adalah mesin seks!


IV. Kebiasaan Masturbasi

Apakah kebiasaan melakukan masturbasi itu baik atau buruk? Seperti yang saya utarakan sebelumnya, masturbasi sebenarnya adalah hal yang alamiah dan sangat normal. Bahkan mungkin bisa dikatakan orang yang tidak pernah masturbasi adalah orang yang kurang normal. Persoalan dalam masturbasi sebenarnya terletak pada fakta bahwa orgasme yang dirasakan sendirian akan menimbulkan dampak psikologis yang berlebihan. Akibatnya seseorang menjadi merasa berdosa, meander, dan bahkan kemudian menjadi irasional dengan berfikir yang tidak-tidak. Mereka merisaukan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dipersoalkan. Persoalan lain dalam masturbasi ialah fakta bahwa seks pada dasarnya adalah aktifitas yang sangat berat yang membutuhkan banyak energi. Sehingga keseringan masturbasi akan menurunkan vitalitas fisik dan daya konsentrasi.

Banyak orang yang merasa ketagihan masturbasi dan ingin menghentikan ketagihannya itu. Sebenarnya pertanyaannya ialah apakah kebiasaan itu perlu benar-benar di akhiri? Jika merasa perlu disebabkan takut banyak melakukan dosa maka sebenarnya perasaan berdosa itu tidak lain adalah akibat tekanan psikologis setiap kali mengalami orgasme yang dikombinasikan dengan ajaran agama yang didapatkan ketika kanak-kanak.

Saya kira masturbasi sebaiknya dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan alami saja. Akan lebih baik jika kita memandang masturbasi tidak ubahnya seperti makan atau minum. Jika merasa perlu masturbasi maka lakukan saja sama halnya ketika seseorang merasa perlu makan atau minum. Karena pada dasarnya setiap individu tahu batasan yang terbaik bagi dirinya masing-masing.

Sebenarnya kebiasaan masturbasi itu tidak perlu dihentikan. Sama halnya dengan kebiasaan makan dan minum yang tentu saja tidak perlu dihentikan. Kita adalah mesin yang tunduk pada perintah-perintah yang tertulis dalam gen yang tertanam dalam sel-sel yang menyusun tubuh kita.


V. Alam yang Tidak Sempurna

Setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Selanjutnya setiap individu akan berkembang sesuai dengan kelebihan dan kekurangannya tersebut. Individu yang memiliki banyak kelebihan akan memiliki banyak pilihan dibanding individu yang penuh dengan kekurangan. Namun dengan sendirinya individu yang penuh dengan kekurangan akan berjuang meningkatkan kelebihan sehingga tercipta kondisi keseimbangan di dalam masyarakat. Masyarakat manusia, binatang, dan tumbuhan adalah masyarakat yang selalu berjuang menuju pada kondisi seimbang seperti itu.

Pada dasarnya setiap yang dilakukan mahluk hidup bertujuan mencapai kondisi ideal karena kehidupan memang penuh dengan ketidaksempurnaan. Kehidupan itu sendiri pada dasarnya adalah terjadi akibat dari kesalahan alam (natural failure). Hal ini terlihat dari bagaimana cara alam mempertahankan kehidupan di bumi yaitu melalui seks, padahal seks itu (yg disertai orgasme) merupakan aktifitas yang sangat berat. Dengan gampangnya alam menggunakan “metode penipuan” seolah-olah seks itu nikmat agar mahluk hidup mau melakukan seks dan dengan demikian kehidupan di bumi akan lestari. Kenikmatan seks itu memang nyata dan itu adalah trik yang digunakan oleh alam agar kehidupan tetap lestari.  Dan setiap individu yang kemudian terlahir dan berkembang biak yang merupakan hasil dari proses alami itu pada akhirnya harus berjuang hanya sekedar untuk dapat bertahan hidup dalam dunia yang semakin penuh dengan kekacauan. Dan setiap individu pada akhirnya harus menjadi kelinci percobaan, menjadi sasaran berbagai virus dan parasit, bencana alam, kecelakaan, atau terbunuh oleh predator.  


VI. Kesimpulan

1.   Orgasme menimbulkan penderitaan tetapi pada umumnya dianggap sebagai sumber kenikmatan atau kenikmatan puncak.
2.   Mahluk hidup, termasuk manusia, adalah mesin yang diprogram oleh alam secara membabi buta untuk mengalami orgasme secara rutin dengan tujuan agar kehidupan di bumi lestari.
3.   Sejauh ini trik alam dalam menjaga kelestarian kehidupan dibumi melalui seks dianggap sangat berhasil. Dan dengan demikian kita sejauh ini telah dieksploitasi oleh alam.
4.   Setiap individu pada akhirnya harus tunduk pada hukum alam dan harus mati, dan mungkin didahului dengan rasa sakit yang teramat sangat. Kematian individu itu diperlukan agar predator atau virus dan parasait lainnya dapat terus melangsungkan kehidupan dalam dunia yang semakin penuh dengan kekacauan: ledakan penduduk, kemiskinan, kelaparan, perang, limbah nuklir, pemanasan global, bencana alam, krisis energi, dsb.

 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
40 Jawaban
77051 Dilihat
Tulisan terakhir April 29, 2011, 04:05:22 AM
oleh Pi-One
104 Jawaban
68514 Dilihat
Tulisan terakhir September 23, 2010, 01:17:27 AM
oleh nandaz
122 Jawaban
175343 Dilihat
Tulisan terakhir Februari 07, 2016, 01:54:38 PM
oleh jazilatuljakarta
8 Jawaban
175490 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 21, 2014, 11:48:00 AM
oleh Pi-One
0 Jawaban
1754 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 23, 2015, 08:15:30 AM
oleh JJ