Selamat datang di ForSa! Forum diskusi seputar sains, teknologi dan pendidikan Indonesia.

Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?

Desember 08, 2021, 07:38:35 AM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139668
  • Total Topik: 10408
  • Online Today: 56
  • Online Ever: 441
  • (Desember 18, 2011, 12:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 24
Total: 24

Ikuti ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Penulis Topik: sindrom pada beberapa penyakit  (Dibaca 20466 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline exile_rstd

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1.027
  • IQ: 38
  • Gender: Wanita
  • Now, I really changed. Life has changed 180 degree
Re:sindrom pada beberapa penyakit
« Jawab #15 pada: Januari 09, 2012, 03:03:47 AM »
Kutip
Lha itu yang namanya ARV kan sudah lama sekali diresepkan ?
kalau soal itu maaf saya kurang update.
Kutip
Hindari Narkoba
itu masih ada. tapi iklan HIV-nya sudah agak jarang, tapi ga tau juga soalnya saya sudah jarang nonton tv (sudah terbiasa didepan layar laptop).
seperti yang kita tau mereka yang menguji obat-obatan adalah scientists, jika hanya menguji satu jenis hewan saja mungkin
bagi mereka akan timbul rasa 'kurang kepuasan' terhadap hasilnya.

sekarang ini lebih banyak uji coba yang dilakukan pada tikus (bukan?)
tapi saya juga masih belum tau banyak, apakah ada beberapa kesamaan dalam materi genetik (terutama DNA) hewan dengan manusia.
i adore your intelligence

Offline semut-ireng

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2.809
  • IQ: 11
Re:sindrom pada beberapa penyakit
« Jawab #16 pada: Januari 09, 2012, 08:10:39 AM »
DNA manusia dengan hewan jelas berbeda banyak,  lha wong jelas beda wujudnya.     Sedangkan antara manusia yang satu dengan lainnya juga berbeda.   DNA  adalah  cetak biru yang berfungsi sebagai pemberi kode untuk tiap manusia seperti untuk warna rambut, bentuk mata, bentuk wajah, warna kulit, dan lainnya.  :)

Offline exile_rstd

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1.027
  • IQ: 38
  • Gender: Wanita
  • Now, I really changed. Life has changed 180 degree
Re:sindrom pada beberapa penyakit
« Jawab #17 pada: Januari 09, 2012, 12:22:59 PM »
soalnya saya pernah menemukan beberapa thread, menguji obat atau semacamnya yang menggunakan uji coba hewan yaitu tikus.
saya juga berpikir kenapa mengujikannya dengan hewan? mungkin kalau mengutip dari sisi lain : mengujikannya pada manusia dengan persentase keberhasilannya kurang dari 100% (atau bisa lebih kurang lagi) akan melanggar beberapa nilai dan hukum HAM.

Offline mhyworld

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1.503
  • IQ: 50
  • Gender: Pria
  • .start with the end in mind.
Re:sindrom pada beberapa penyakit
« Jawab #18 pada: Januari 09, 2012, 04:16:33 PM »
IMO, menguji obat baru yang belum jelas khasiat maupun bahayanya kepada hewan jelas lebih manusiawi daripada mengujikannya langsung kepada manusia.

Biasanya, pada tahap awal pengembangan, yang dijadikan obyek percobaan adalah tikus, karena bisa lebih mudah diperoleh, mudah dan cepat dikembang-biakkan, sehingga bisa dilakukan pengujian banyak variasi obat dan pengembangannya dengan biaya relatif murah. Obat yang berhasil mencapai tingkat keberhasilan tertentu barulah diujicobakan pada hewan yang lebih mirip dengan manusia, misalnya simpanse. Jika tingkat keberhasilannya juga tinggi, barulah diujicobakan pada manusia.

Di sinilah peran penting biologi evolusioner dan biologi molekuler, antara lain untuk menentukan hewan mana yang lebih mirip sifat-sifatnya dengan manusia. Kalau cuma dilihat dari ukuran, beberapa jenis ikan memiliki ukuran dan berat yang hampir sama dengan manusia. Namun kalau dilihat dari sisi metabolisme, DNA, dan respon terhadap zat kimia tertentu, tikus yang ukurannya jauh lebih kecil justru lebih mirip dengan manusia dibanding ikan tersebut.
once we have eternity, everything else can wait

Offline semut-ireng

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2.809
  • IQ: 11
Re:sindrom pada beberapa penyakit
« Jawab #19 pada: Januari 10, 2012, 02:12:22 AM »

seperti yang kita tau mereka yang menguji obat-obatan adalah scientists, jika hanya menguji satu jenis hewan saja mungkin
bagi mereka akan timbul rasa 'kurang kepuasan' terhadap hasilnya.

sekarang ini lebih banyak uji coba yang dilakukan pada tikus (bukan?)


Yang menguji itu scientists yang tentunya tidak diragukan kemampuannya,   dan kemudian dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional setelah melalui peer review.   Dan kita percayalah,  masa gak percaya sich ??

Tapi,  tapi,  scientists yang menguji itu,  misalnya menguji obat atau vaksin,   apa sudah check and recheck penyebab penyakit sebenarnya ??   Kalo identifikasi patogennya keliru,  parah deh akibatnya,  bukan hanya menyiksa hewan2  percobaan,  tapi juga menyiksa pasien dan calon2 pasien...........misalnya,  penyebab polio yang menyerang balita ternyata bukan virus polio,  tapi pestisida,  silakan digoogling saja ..........

Kalo penyebabnya pestisida lalu dicegah pake vaksin polio ??  bingung deh............. :'(

Offline mhyworld

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1.503
  • IQ: 50
  • Gender: Pria
  • .start with the end in mind.
Re:sindrom pada beberapa penyakit
« Jawab #20 pada: Januari 10, 2012, 07:12:29 AM »
Yang menguji itu scientists yang tentunya tidak diragukan kemampuannya,   dan kemudian dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional setelah melalui peer review.   Dan kita percayalah,  masa gak percaya sich ??

Tapi,  tapi,  scientists yang menguji itu,  misalnya menguji obat atau vaksin,   apa sudah check and recheck penyebab penyakit sebenarnya ??   Kalo identifikasi patogennya keliru,  parah deh akibatnya,  bukan hanya menyiksa hewan2  percobaan,  tapi juga menyiksa pasien dan calon2 pasien...........misalnya,  penyebab polio yang menyerang balita ternyata bukan virus polio,  tapi pestisida,  silakan digoogling saja ..........

Kalo penyebabnya pestisida lalu dicegah pake vaksin polio ??  bingung deh............. :'(
sudah saya googling, hasilnya memang dari virus.
dari situs resmi WHO, http://www.who.int/topics/poliomyelitis/en/
Kutip
Poliomyelitis (polio) is a highly infectious viral disease, which mainly affects young children. The virus is transmitted through contaminated food and water, and multiplies in the intestine, from where it can invade the nervous system. Many infected people have no symptoms, but do excrete the virus in their faeces, hence transmitting infection to others.

Initial symptoms of polio include fever, fatigue, headache, vomiting, stiffness in the neck, and pain in the limbs. In a small proportion of cases, the disease causes paralysis, which is often permanent. Polio can only be prevented by immunization.

atau dari wikipedia
http://en.wikipedia.org/wiki/Polio
Kutip
Poliomyelitis, often called polio or infantile paralysis, is an acute, viral, infectious disease spread from person to person, primarily via the fecal-oral route.[1] The term derives from the Greek poliós (πολιός), meaning "grey", myelós (µυελός), referring to the "spinal cord", and the suffix -itis, which denotes inflammation.[2]

Although approximately 90% of polio infections cause no symptoms at all, affected individuals can exhibit a range of symptoms if the virus enters the blood stream.[3] In about 1% of cases, the virus enters the central nervous system, preferentially infecting and destroying motor neurons, leading to muscle weakness and acute flaccid paralysis. Different types of paralysis may occur, depending on the nerves involved. Spinal polio is the most common form, characterized by asymmetric paralysis that most often involves the legs. Bulbar polio leads to weakness of muscles innervated by cranial nerves. Bulbospinal polio is a combination of bulbar and spinal paralysis.[4]

Poliomyelitis was first recognized as a distinct condition by Jakob Heine in 1840.[5] Its causative agent, poliovirus, was identified in 1908 by Karl Landsteiner.[5] Although major polio epidemics were unknown before the late 19th century, polio was one of the most dreaded childhood diseases of the 20th century. Polio epidemics have crippled thousands of people, mostly young children; the disease has caused paralysis and death for much of human history. Polio had existed for thousands of years quietly as an endemic pathogen until the 1880s, when major epidemics began to occur in Europe; soon after, widespread epidemics appeared in the United States.[6]

By 1910, much of the world experienced a dramatic increase in polio cases and frequent epidemics became regular events, primarily in cities during the summer months. These epidemics—which left thousands of children and adults paralyzed—provided the impetus for a "Great Race" towards the development of a vaccine. Developed in the 1950s, polio vaccines are credited with reducing the global number of polio cases per year from many hundreds of thousands to around a thousand.[7] Enhanced vaccination efforts led by the World Health Organization, UNICEF, and Rotary International could result in global eradication of the disease.[8][9]

Referensi mana yang menyebutkan polio berasal dari pestisida?

Offline exile_rstd

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1.027
  • IQ: 38
  • Gender: Wanita
  • Now, I really changed. Life has changed 180 degree
Re:sindrom pada beberapa penyakit
« Jawab #21 pada: Januari 10, 2012, 08:01:29 AM »
poin yang saya sampaikan sama om semut itu sama dengan poin yang dikasih om myhworld.
mau atau tidak, mau bagaimana lagi?
menguji obat yang baru dirintis pertama kalinya kepada manusia, kalau zaman dulu mungkin belum ada HAM jadi mau manusia atau hewan dijadikan uji coba.

Offline semut-ireng

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2.809
  • IQ: 11
Re:sindrom pada beberapa penyakit
« Jawab #22 pada: Januari 10, 2012, 12:22:35 PM »
Kutip

Referensi mana yang menyebutkan polio berasal dari pestisida?


Kutip

BAGIAN 1: A Shot in The Dark
 Janine Roberts
 dari UK Magazine The Ecologist (2004)
 IDEA PEMBERANTASAN POLIO HANYA PENIPUAN REKLASIFIKASI STATISCIAL MEDIS UNTUK MENYEMBUNYIKAN VERCTOR PENCEMARAN PESTISIDA.

 Tanggal Dipublikasikan: 2004/01/05
 Pengarang: Janine Roberts

Polio adalah penyakit yang menghancurkan, metode yang disukai untuk melawannya adalah vaksinasi. Namun ada bukti sejarah yang menunjukkan bahwa polio tidak disebabkan oleh virus melainkan oleh polusi industri dan pertanian.

Selama paruh pertama abad ke-20 kelumpuhan pada anak-anak melonjak seperti api semak, bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, menyengsarakan sejumlah besar anak-anak, tetapi hal ini hanya terjadi di Kawasan Indistri di Barat.

Sebelum wabah itu manjangkiti, pengaruhnya hanya sangat sedikit, yang sering disebut ‘palsy’ (kelumpuhan syaraf).

Pada abad ke-19 ilmuwan memberinya nama `poliomyelitis', mengacu pada peradangan pada saraf kelabu dari kolom tulang belakang dalam kasus kelumpuhan. Kadar “logam beracun” diduga menyebabkan penyakit ini, khususnya timbal, arsen dan merkuri.

Pada tahun 1824 ilmuwan Inggris, John Cooke menyatakan: `Asap dari logam-logam ini atau penyerapan logam-logam ini dalam bentuk larutan ke dalam perut, seringkali menyebabkan kelumpuhan (paralysis)
 Pada tahun 1908 dua ilmuwan yang bekerja di Austria, Karl Landsteiner dan Erwin Popper, melaporkan bahwa mereka mungkin telah menemukan sebuah virus `tak terlihat 'yang menyebabkan epidemi ini. Mereka telah membuat penemuan mereka, mereka mengklaim, setelah melakukan suspensi air dari sumsum irisan tulang belakang pasien berusia sembilan tahun yg menderita kelumpuhan. Pengujiannya, suspensi berbahaya ini disuntikkan satu atau dua cangkir langsung ke dalam otak dua monyet. Monyet-monyet jatuh sakit (seperti yang mungkin telah diperkirakan). Satu meninggal dan yang lain punya kaki yang lumpuh. Para ilmuwan kemudian membedah monyet dan menemukan kerusakan pada jaringan saraf pusat mereka mirip dengan yang ditemukan dalam kasus-kasus kelumpuhan anak-anak (manusia).

Hari ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih memuji Landsteiner dan Popper sebagai penemu virus polio dengan percobaan ini.
Dan hal ini sunggah sangat tidak beralasan.

Cairan yang disuntikkan pasti memiliki banyak berisi serpihan sel-sel manusia, mengandung racun yang terkait dengan penyakit sang anak, dan mungkin beberapa jenis virus. Jadi, tidaklah mengherankan si monyet jatuh sakit. Seperti sup bisa sama sekali tidak bisa `mengisolasi 'dari organisme kecil yang sekarang kita sebut virus. Itu juga anehnya tidak menular terhadap virus tersebut, karena monyet tidak lumpuh ketika diberi minum atau ketika salah satu anggota badan mereka disuntik dengan cairan itu, juga tidak menularkannya kepada monyet-monyet lain. Berarti bukan disebabkan oleh virus.



Dari situs resmi WHO :

Kutip

The virus is transmitted through contaminated food and water, and multiplies in the intestine, from where it can invade the nervous system.


apakah sudah ada penelitian lanjut,  yang bisa memberi bukti yang meyakinkan tentang asal-usul ( origin ) virus polio ?

 
« Edit Terakhir: Januari 10, 2012, 12:26:40 PM oleh semut-ireng »

Offline mhyworld

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1.503
  • IQ: 50
  • Gender: Pria
  • .start with the end in mind.
Re:sindrom pada beberapa penyakit
« Jawab #23 pada: Januari 11, 2012, 10:44:52 AM »
apakah sudah ada penelitian lanjut,  yang bisa memberi bukti yang meyakinkan tentang asal-usul ( origin ) virus polio ?


Apakah kejadian berikut belum cukup meyakinkan?
http://en.wikipedia.org/wiki/Cutter_Laboratories
Kutip
The Cutter incident
In 1955, Cutter Laboratories was one of several companies licensed by the United States government to produce Salk polio vaccine. In what came to be known as the Cutter Incident, a production error caused some lots of the Cutter vaccine to be tainted with live polio virus. The problem had not only been the carelessness of the Cutter company, but the lack of scrutiny from the NIH Laboratory of Biologics Control (and its excessive trust in the polio foundation reports).[1]

The Cutter incident was one of the worst pharmaceutical disasters in U.S. history and caused several thousand children to be exposed to live polio virus upon vaccination.[2] The NIH Laboratory of Biologics Control, which had certified the Cutter polio vaccine, had received advance warnings of problems: in 1954, staff member Dr. Bernice Eddy had reported to her superiors that some of the inoculated monkeys had become paralyzed (pictures were sent as well). William Sebrell, the director of NIH wouldn't hear of such a thing.[1]

[edit] Numbers affectedThe mistake resulted in the production of 120,000 doses of polio vaccine that contained live polio virus. Of the children who received the vaccine, 40,000 developed abortive poliomyelitis (a form of the disease that does not involve the central nervous system), 56 developed paralytic poliomyelitis and of these 5 children died as a result of polio infection.[3] The exposures led to an epidemic of polio in the families and communities of the affected children, resulting in a further 113 people paralyzed and 5 deaths.[4]

[edit] Administrative consequencesThe director of the microbiology institute lost his job, as did the equivalent of the assistant secretary for health. Oveta Culp Hobby stepped down. Dr Sebrell, the director of the NIH, resigned.

Sejarah pengembangan vaksinnya sendiri,

Kutip
In 1935 Maurice Brodie, a research assistant at New York University, attempted to produce a polio vaccine, procured from virus in ground up monkey spinal cords, and killed by formaldehyde. Brodie first tested the vaccine on himself and several of his assistants. He then gave the vaccine to three thousand children, many developed allergic reactions, but none of the children developed an immunity to polio.[46] During the late 1940s and early 1950s, a research group, headed by John Enders at the Boston Children's Hospital, successfully cultivated the poliovirus in human tissue. This significant breakthrough ultimately allowed for the development of the polio vaccines. Enders and his colleagues, Thomas H. Weller and Frederick C. Robbins, were recognized for their labors with the Nobel Prize in 1954.[47]

Two vaccines are used throughout the world to combat polio. The first was developed by Jonas Salk, first tested in 1952, and announced to the world by Salk on April 12, 1955.[45] The Salk vaccine, or inactivated poliovirus vaccine (IPV), consists of an injected dose of killed poliovirus. In 1954, the vaccine was tested for its ability to prevent polio; the field trials involving the Salk vaccine would grow to be the largest medical experiment in history. Immediately following licensing, vaccination campaigns were launched, by 1957, following mass immunizations promoted by the March of Dimes the annual number of polio cases in the United States would be dramatically reduced, from a peak of nearly 58,000 cases, to just 5,600 cases.[10]

Eight years after Salk's success, Albert Sabin developed an oral polio vaccine (OPV) using live but weakened (attenuated) virus.[48] Human trials of Sabin's vaccine began in 1957 and it was licensed in 1962. Following the development of oral polio vaccine, a second wave of mass immunizations would lead to a further decline in the number of cases: by 1961, only 161 cases were recorded in the United States.[49] The last cases of paralytic poliomyelitis caused by endemic transmission of poliovirus in the United States were in 1979, when an outbreak occurred among the Amish in several Midwestern states.[50]


http://en.wikipedia.org/wiki/Polio_vaccine
Kutip
Inactivated vaccine
The first effective polio vaccine was developed in 1952 by Jonas Salk at the University of Pittsburgh, but it would require years of testing. To encourage patience, Salk went on CBS radio to report a successful test on a small group of adults and children on March 26, 1953; two days later the results were published in JAMA.[22]

The Salk vaccine, or inactivated poliovirus vaccine (IPV), is based on three wild, virulent reference strains, Mahoney (type 1 poliovirus), MEF-1 (type 2 poliovirus), and Saukett (type 3 poliovirus), grown in a type of monkey kidney tissue culture (Vero cell line), which are then inactivated with formalin.[6] The injected Salk vaccine confers IgG-mediated immunity in the bloodstream, which prevents polio infection from progressing to viremia and protects the motor neurons, thus eliminating the risk of bulbar polio and post-polio syndrome.

Beginning February 23, 1954, the vaccine was tested at Arsenal Elementary School and the Watson Home for Children in Pittsburgh, Pennsylvania.[23] Salk's vaccine was then used in a test called the Francis Field Trial, led by Thomas Francis; the largest medical experiment in history. The test began with some 4,000 children at Franklin Sherman Elementary School in McLean, Virginia,[24] and would eventually involve 1.8 million children, in 44 states from Maine to California.[25] By the conclusion of the study, roughly 440,000 received one or more injections of the vaccine, about 210,000 children received a placebo, consisting of harmless culture media, and 1.2 million children received no vaccination and served as a control group, who would then be observed to see if any contracted polio.[13] The results of the field trial were announced April 12, 1955 (the tenth anniversary of the death of Franklin D. Roosevelt; see Franklin D. Roosevelt's paralytic illness). The Salk vaccine had been 60 - 70% effective against PV1 (poliovirus type 1), over 90% effective against PV2 and PV3, and 94% effective against the development of bulbar polio.[26] Soon after Salk's vaccine was licensed in 1955 children's vaccination campaigns were launched. In the U.S, following a mass immunization campaign promoted by the March of Dimes, the annual number of polio cases fell from 35,000 in 1953 to 5,600 by 1957.[27] By 1961 only 161 cases were recorded in the United States

Offline semut-ireng

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2.809
  • IQ: 11
Re:sindrom pada beberapa penyakit
« Jawab #24 pada: Januari 11, 2012, 10:11:59 PM »

Apakah kejadian berikut belum cukup meyakinkan?

http://en.wikipedia.org/wiki/Cutter_Laboratories
Sejarah pengembangan vaksinnya sendiri,

http://en.wikipedia.org/wiki/Polio_vaccine


Untuk meyakinkan suatu viral disease,  pertama kali harus diyakinkan dulu soal isolasi virus patogennya.   Siapa yang menemukan pertama kali,  dan bagaimana prosedur standar ilmiah yang digunakan,  lalu publikasinya di jurnal mana,  dan apakah ada kesempatan bagi ahli2 lainnya untuk menguji ulang hasil penemuan yang sangat penting itu.   
Bila prosedur standar ilmiah diabaikan,  dan lalu main hantam saja,  tentu saja hal itu menimbulkan banyak pertanyaan,  dan jelas :  harus diragukan kebenarannya. :)

Kutip

Medical propagandists promote images of a predatory, infectious virus, invading the body and quickly replicating to a level that causes disease, however, in the laboratory, poliovirus does not easily behave in such a predatory manner.  Attempts to demonstrate virus causation are performed under extremely artificial and aberrant conditions.

Poliovirus causation was first established in the mainstream mind by publications of an experiment by Landsteiner and Popper in Germany, 1908-1909.   Their method was to inject a pulverized purée of diseased brain tissue into the brains [correction, intraperitoneally] of two monkeys. One monkey died and the other was sickened.

Proof of poliovirus causation was headlined by orthodoxy. This, however, was an assumption — not a proof — of virus causation.


Offline Moonlight

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 12
  • IQ: 2
  • ForSa!
Re:sindrom pada beberapa penyakit
« Jawab #25 pada: Januari 12, 2012, 03:06:13 AM »
mw nambahin aja yg tentang perut buncit,
perut buncit pada kekurangan gizi disebabkan karena adanya kekurangan protein, fungsi protein sendiri kan menjaga tekanan osmosis plasma, kalo orangnya hipoalbuminea tekanan osmosis plasma akan terganggu dan cairan akan merembes ke rongga perut, sebernarnya gak hanya perut sih, tpi ekstremitas juga bisa mengalami edema...

Offline Huriah M Putra

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2.526
  • IQ: 132
  • Gender: Pria
  • Aku siap aku siap...!!!
Re:sindrom pada beberapa penyakit
« Jawab #26 pada: Januari 13, 2012, 07:17:27 AM »
Aissshh..
Lagi2 teori konspirasi lagi.
Kali ini polio.
Malas ah..
Asal jangan black campaign imunisasi aja ya.
OOT OOT OOT..!!!

Offline semut-ireng

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2.809
  • IQ: 11
Re:sindrom pada beberapa penyakit
« Jawab #27 pada: Januari 13, 2012, 12:16:39 PM »
Teori konspirasi itu maksudnya dilihat dari sudut pandang politis yah ?  Saya melihatnya dari sudut pandang lain,  bahwa berkaitan dengan teori penyakit,  banyak hal yang belum terungkap oleh sains modern.  Buktinya,  ada banyak sekali penyakit yang masih misterius ...... :)

Sudut pandang lain,  misalnya dari sisi studi lingkungan,  dan sudah ada kan studi bio-lingkungan ?

Misalnya lagi,  dari sisi studi meteorologi,  mungkin sudah pernah dengar efek dari angin Fohn / angin jatuh ?  Itu juga bisa menyebabkan penyakit bagi makhluk hidup (  manusia,  hewan dan tanaman ),  dan lalu penyakit2 itu diidenfifikasi oleh ilmuwan medis sebagai viral disease ................. :'(

Offline ytridyrevsielixetuls

  • To Kick Out Fake Critical Thinkers!
  • Global Moderator
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 687
  • IQ: 219
  • Gender: Pria
  • ▄▄█▀▀█▄▄█▀▀█▄▄█▀▀█▄▄
Re:sindrom pada beberapa penyakit
« Jawab #28 pada: Januari 16, 2012, 12:39:32 PM »
kwkwkwk teori konspirasi ternyata masuk jg ke forum ilmiah gini, so kenapa ga sekalian aja bahas konspirasi The Men With Books yg hingga saat ini menciptakan syndromes termasuk penyakit mental akut!
     -/"|           -/"|           -/"|
<(O)}D     <(O)}D     <(O)}D
     -\_|          -\_|           -\_|

Offline semut-ireng

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2.809
  • IQ: 11
Re:sindrom pada beberapa penyakit
« Jawab #29 pada: Januari 17, 2012, 09:00:39 AM »
Bukan konspirasi,  tetapi miskonsepsi  teori virus patogen ( dari awalnya,  sejak akhir abad-19 dan awal abad-20 ).   Menjelang akhir abad-20 dan awal abad-21 ini sains sudah menemukan ada sekitar 70 penyakit,  sebagian besar diantaranya sebelumnya dinyatakan sebagai penyakit infeksi virus,  namun ternyata disebabkan oleh stres oksidatif.  :)

Kutip

To date, science has discovered that oxidative stress may very well be the cause of over 70 well-known, widely-spread diseases.

 Depending on what form of toxin or stress your body is exposed to on an ongoing basis, you could find yourself suffering, even at an early age, from diseases that could be prevented if only you'd have minimized the harmful free radicals in your system.

 Here are just some of the diseases are caused by oxidative stress:

 • Heart Disease
 • Cancer
 • Arthritis
 • Lung Disease
 • Fibromyalgia
 • Diabetes
 • Neurodegenerative Diseases like Parkinson's and Alzheimer's
 • Autoimmune Diseases
  • Eye Diseases like Macular Degeneration


Kutip
Asal jangan black campaign imunisasi aja ya.

Bukan black campaign.  Imunisasi / vaksinasi tujuannya ialah untuk mencegah infeksi dan menghambat replikasi virus.

Sains akhir abad-20 sudah mengetahui bahwa radiasi ultraviolet dari sinar matahari maupun dari peralatan buatan manusia,  termasuk yang digunakan dalam terapi UV,  justru mengaktifkan virus.   Pertanyaannya,  vaksin vs UV,  lebih dominan mana pengaruhnya ?
« Edit Terakhir: Januari 17, 2012, 09:19:49 AM oleh semut-ireng »

 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
2 Jawaban
11712 Dilihat
Tulisan terakhir September 03, 2008, 08:14:34 AM
oleh reborn
23 Jawaban
24874 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 09, 2014, 04:55:05 AM
oleh Monox D. I-Fly
7 Jawaban
9933 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 31, 2009, 12:13:52 AM
oleh Hendy wijaya, MD
Sindrom Aneh

Dimulai oleh raisuien « 1 2 » Kesehatan

20 Jawaban
11886 Dilihat
Tulisan terakhir Februari 06, 2010, 07:33:14 PM
oleh Huriah M Putra
1 Jawaban
2309 Dilihat
Tulisan terakhir Februari 20, 2014, 10:41:50 PM
oleh ytridyrevsielixetuls