Selamat datang di ForSa! Forum diskusi seputar sains, teknologi dan pendidikan Indonesia.

Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?

Desember 06, 2020, 11:58:39 AM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
  • Total Anggota: 26686
  • Latest: mkrxxi
Stats
  • Total Tulisan: 139608
  • Total Topik: 10377
  • Online Today: 46
  • Online Ever: 441
  • (Desember 18, 2011, 12:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 37
Total: 37

Ikuti ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Penulis Topik: The Ten Biggest Lies about Vaccines  (Dibaca 27254 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline semut-ireng

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2.809
  • IQ: 11
Re: The Ten Biggest Lies about Vaccines
« Jawab #15 pada: Juli 19, 2010, 08:55:36 PM »
sebelum diskusi dilanjutkan, ada baiknya baca2 dulu link di bawah ini :

VACCINATION A DELUSION

By

ALFRED RUSSEL WALLACE



http://www.whale.to/vaccine/wallace/book.html

Offline semut-ireng

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2.809
  • IQ: 11
Re: The Ten Biggest Lies about Vaccines
« Jawab #16 pada: Juli 21, 2010, 08:44:20 PM »
Kutipan  :

Testimoni dari seorang ibu yang anaknya korban vaksin penyebab autisme:

Buat para Pasangan MUDA, oom dan tante yg punya keponakan atau bahkan calon ibu, perlu nih dibaca ttg autisme. Bisa di share kepada yang masih punya anak kecil supaya ber-hati2.

Setelah kesibukan yg menyita waktu, baru sekarang saya bisa dapat waktu luang membaca buku "Children with Starving Brains" karangan Jaquelyn McCandless , MD yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Grasindo. Ternyata buku yang saya beli di toko buku Gramedia seharga Rp. 50,000, itu benar2 membuka mata saya, dan sayang sekali baru terbit setelah anak saya Joey (27 bln) didiagnosa mengidap Autisme Spectrum Disorder.

Bagian satu, bab 3, dari buku itu benar-benar membuat saya menangis. Selama 6 bulan pertama hidupnya (Agustus 2001 - Februari 2002), Joey memperoleh 3 kali suntikan vaksin Hepatitis B, dan 3 kali suntikan vaksin HiB.

Menurut buku tersebut (halaman 54 - 55) ternyata 2 macam vaksin yang diterima anak saya dalam 6 bulan pertama hidupnya itu positif mengandung zat pengawet Thimerosal , yang terdiri dari Etilmerkuri yang menjadi penyebab utama sindrom Autisme Spectrum Disorder yang meledak pada sejak awal tahun 1990 an.

Vaksin yang mengandung Thimerosal itu sendiri sudah dilarang di Amerika sejak akhir tahun 2001. Alangkah sedihnya saya, anak yang saya tunggu kehadirannya selama 6 tahun, dilahirkan dan divaksinasi di sebuah rumahsakit besar yang bagus, terkenal, dan mahal di Karawaci Tangerang, dengan harapan memperoleh treatment yang terbaik, ternyata malah "diracuni" oleh Mercuri dengan selubung vaksinasi.

Beruntung saya masih bisa memberi ASI sampai sekarang, sehingga Joey tidak menderita Autisme yang parah. Tetapi tetap saja, sampai sekarang dia belum bicara, harus diet pantang gluten dan casein , harus terapi ABA , Okupasi, dan nampaknya harus dibarengi dengan diet supplemen yang keseluruhannya sangat besar biayanya .

Melalui info ini saya hanya ingin menghimbau para dokter anak di Indonesia , para pejabat di Departemen Kesehatan, tolonglah baca buku tersebut diatas itu, dan tolong musnahkan semua vaksin yang masih mengandung Thimerosal . Jangan sampai (dan bukan tidak mungkin sudah terjadi) sisa stok yang tidak habis di Amerika Serikat tersebut diekspor dengan harga murah ke Indonesia dan dikampanyekan sampai ke puskesmas-puskesmas seperti contohnya vaksin Hepatitis B, yang sekarang sedang giat-giatnya dikampanyekan sampai ke pedesaan. Kepada para orang tua dan calon orang tua, marilah kita bersikap proaktif, dan assertif dengan menolak vaksin yang mengandung Thimerosal tersebut, cobalah bernegosiasi dengan dokter anak kita, minta vaksin Hepatitis B dan HiB yang tidak mengandung Thimerosal.

Juga tolong info ini diteruskan kepada mereka yang akan menjadi orang tua, agar tidak mengalami nasib yang sama seperti saya. Sekali lagi, jangan sampai kita kehilangan satu generasi anak-anak penerus bangsa, apalagi jika mereka datang dari keluarga yang berpenghasilan rendah yang untuk makan saja sulit apalagi untuk membiayai biaya terapi supplemen, terapi ABA, Okupasi, dokter ahli Autisme (yang daftar tunggunya sampai berbulan-bulan) , yang besarnya sampai jutaan Rupiah per bulannya.

Terakhir, mohon doanya untuk Joey dan ratusan, bahkan ribuan teman-teman senasibnya di Indonesia yang sekarang sedang berjuang membebaskan diri dari belenggu Autisme.

"Let's share with others... Show them that WE care!"

Offline Huriah M Putra

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2.526
  • IQ: 132
  • Gender: Pria
  • Aku siap aku siap...!!!
Re: The Ten Biggest Lies about Vaccines
« Jawab #17 pada: Juli 22, 2010, 02:15:02 AM »
Vaksin dengan pengawet thimerosal sudah tidak dipakai lagi sekarang.
Kalau masih ada di Indonesia, maka perusahaan pembuat vaksin tersebut bisa dituntut dan bukan menjadi alasan untuk menolak vaksin.
OOT OOT OOT..!!!

Offline Astrawinata G

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1.406
  • IQ: 50
  • Gender: Pria
Re: The Ten Biggest Lies about Vaccines
« Jawab #18 pada: Juli 22, 2010, 06:36:55 AM »
bukannya thimerosal-autis cuma sekedar isu saja?
Best Regards,


Astrawinata G

Offline Huriah M Putra

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2.526
  • IQ: 132
  • Gender: Pria
  • Aku siap aku siap...!!!
Re: The Ten Biggest Lies about Vaccines
« Jawab #19 pada: Juli 22, 2010, 09:17:29 AM »
Emank bener ada, makanya uda dilarang pemakaian thimerosal.

Offline Astrawinata G

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1.406
  • IQ: 50
  • Gender: Pria
Re: The Ten Biggest Lies about Vaccines
« Jawab #20 pada: Juli 22, 2010, 02:28:34 PM »
saya pernah baca kalo langkah penghentian thimerosal lebih bersifat politik daripada ilmiah. dan angka kejadian autis disebutkan tidak pernah turun walaupun sudah dilarang penggunaannya.....

wah, gimana nih Mas? ???

Offline Huriah M Putra

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2.526
  • IQ: 132
  • Gender: Pria
  • Aku siap aku siap...!!!
Re: The Ten Biggest Lies about Vaccines
« Jawab #21 pada: Juli 22, 2010, 03:40:55 PM »
Ntah ya..
Pernah jadi learning issue di tutorial sih.
Dan di pembahasan kita sih begitu.

Offline semut-ireng

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2.809
  • IQ: 11
Re: The Ten Biggest Lies about Vaccines
« Jawab #22 pada: Juli 22, 2010, 08:35:47 PM »
saya pernah baca kalo langkah penghentian thimerosal lebih bersifat politik daripada ilmiah. dan angka kejadian autis disebutkan tidak pernah turun walaupun sudah dilarang penggunaannya.....

wah, gimana nih Mas? ???

Baru tahu yang  " ilmiah "  bisa kalah ama politik,  jangan2 yang tidak ilmiah bisa dipolitikkan jadi ilmiah .................... :)

Kalau kekebalan spesies  ( species immunity ) itu contohnya apa saja ?  Juga tentang personal immunity,  faktor2 apa saja yang mempengaruhinya  ?

Offline Astrawinata G

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1.406
  • IQ: 50
  • Gender: Pria
Re: The Ten Biggest Lies about Vaccines
« Jawab #23 pada: Juli 23, 2010, 12:50:31 AM »
ooh, OK deh Mas :) thanks

Offline Huriah M Putra

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2.526
  • IQ: 132
  • Gender: Pria
  • Aku siap aku siap...!!!
Re: The Ten Biggest Lies about Vaccines
« Jawab #24 pada: Juli 23, 2010, 02:43:35 AM »
Politik memang bisa merubah apa saja..

Offline semut-ireng

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2.809
  • IQ: 11
Re: The Ten Biggest Lies about Vaccines
« Jawab #25 pada: Juli 26, 2010, 07:18:26 PM »
iya,  politik itu panglima ........... :D :D

orang kecil mah ngga tahu apa-apa,   bisanya cuma berdoa aja .......

saya juga berdoa mudah-mudahan di Indonesia ngga ada yang seperti ada di amrik sana,  Dr. Paul Offit .........,  bisa di baca di bawah ini :

"  Di Amerika utara kami mengenal Dr. Paul Offit yg namanya diplesetkan sebagai Paul "For Proffit" Offit (mantan pejabat CDC) amat gencar mempromosikan vaksin............

Ayo, Imunisasi Dulu Sebelum Pergi ke LN  :o :o

http://nasional.kompas.com/read/2010/05/25/11010925/Ayo..Imunisasi.Dulu.Sebelum.Pergi.ke.LN
« Edit Terakhir: Juli 26, 2010, 07:20:23 PM oleh semut-ireng »

Offline semut-ireng

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2.809
  • IQ: 11
Re: The Ten Biggest Lies about Vaccines
« Jawab #26 pada: Agustus 01, 2010, 07:07:37 PM »
Vaksin Cacar Bisa Cegah HIV  ?

REPUBLIKA.CO.ID, VIRGINIA--Bila hipotesa ini benar, barangkali temuan Raymond Weinstein, ilmuwan di George Mason University bisa menjadi sebuah "lompatan" di dunia kedokteran. Dalam sebuah penelitian, ia menyimpulkan imunisasi cacar dapat memberikan proteksi terhadap HIV, virus penyebab AIDS yang hingga kini tak ada obatnya itu.

Hipotesa Weinstein berangkat dari fakta bahwa akhir era vaksinasi cacar di pertengahan abad ke-20 tersebut menyebabkan penyebaran HIV kontemporer yang cepat. Teori baru yang dipublikasikan di BMC Immunology, mencatat bahwa imunisasi vaccinia, seperti yang diberikan untuk mencegah penyebaran cacar, menghasilkan pengurangan lima kali lipat dalam replikasi HIV di laboratorium.

Dalam studi tersebut, Weinstein bersama dengan tim peneliti dari George Washington University dan UCLA, melihat kemampuan sel darah putih yang diambil dari orang-orang baru diimunisasi dengan vaccinia untuk mendukung replikasi HIV. Mereka menemukan replikasi virus secara signifikan lebih rendah dalam sel darah dari individu divaksinasi.

Vaksinasi cacar, katanya, menyediakan individu dengan beberapa derajat perlindungan terhadap infeksi HIV.  "Ada beberapa penjelasan diusulkan untuk penyebaran HIV di Afrika, termasuk perang, penggunaan kembali jarum suntik yang tidak disterilkan dan kontaminasi dari batch awal vaksin polio. Namun, semua ini telah dibantah baik atau tidak cukup menjelaskan perilaku dari pandemi HIV," ujarnya.

Imunisasi cacar secara bertahap ditarik dari tahun 1950 setelah pemberantasan penyakit di seluruh dunia. Pada periode yang sama, HIV mulai merebak di seluruh dunia. ,

Weinstein mengusulkan bahwa vaksinasi dapat memberi perlindungan terhadap HIV dengan menghasilkan perubahan jangka panjang dalam sistem kekebalan tubuh. Termasuk di dalamnya, katanya, ekspresi reseptor tertentu, CCR5, pada permukaan sel darah putih seseorang yang dieksploitasi oleh kedua virus.

Namun ia mengakui, temuannya perlu studi lebih lanjut. "Mudah-mudahan pengembangan temuan ini dapat menjadi senjata baru melawan pandemi HIV," ujar Weinstein.


Bagaimana cara membuat vaksin cacar  ?

Kutipan  :

Dalam buku The Consumer’s Guide to Childhood Vaccines, Barbara Loe Fisher, pendiri dan presiden pusat informasi vaksin nasional (yang didirikan untuk mencegah kerusakan tubuh dan kematian akibat vaksin melalui pendidikan umum) menjelaskan proses pembuatan vaksin sebagai berikut :

Vaksin Cacar : Perut anak sapi dicukur kemudian diberikan banyak torehan pada kulitnya. Kemudian virus cacar diteteskan pada torehan itu dan dibiarkan bernanah selama beberapa hari. Anak sapi tersebut dibiarkan berdiri dengan kepala terikat supaya tidak dapat menjilati perutnya. Kemudian anak sapi itu dikeluarkan dari kandang dan dibaringkan diatas meja. Perutnya memborok dan bernanah, nanahnya diambil lalu dijadikan serbuk. Serbuk itu adalah bahan vaksin cacar, virus yang kebetulan terdapat pada anak sapi terbawa kedalamnya. (Walene James, Pengarang Immunization: The Reality Beyond the Myth)

Offline semut-ireng

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2.809
  • IQ: 11
Re: The Ten Biggest Lies about Vaccines
« Jawab #27 pada: Agustus 04, 2010, 08:14:43 PM »
maaf oot sedikit,   dikejar kebutuhan  forsers butuh hiburan segar,  bisa buka di link di bawah ini : :D

http://www.art-margin.com/Doctoringcolvers/pages/page1.htm

Offline syx

  • Global Moderator
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 4.540
  • IQ: 341
  • Gender: Pria
    • Kliping Koran
Re: The Ten Biggest Lies about Vaccines
« Jawab #28 pada: Agustus 04, 2010, 10:10:15 PM »
Vaksin Cacar : Perut anak sapi dicukur kemudian diberikan banyak torehan pada kulitnya. Kemudian virus cacar diteteskan pada torehan itu dan dibiarkan bernanah selama beberapa hari. Anak sapi tersebut dibiarkan berdiri dengan kepala terikat supaya tidak dapat menjilati perutnya. Kemudian anak sapi itu dikeluarkan dari kandang dan dibaringkan diatas meja. Perutnya memborok dan bernanah, nanahnya diambil lalu dijadikan serbuk. Serbuk itu adalah bahan vaksin cacar, virus yang kebetulan terdapat pada anak sapi terbawa kedalamnya. (Walene James, Pengarang Immunization: The Reality Beyond the Myth)
cara bikinnya sadis dan menjijikkan... beneran nih?

Offline Pi-One

  • Next Hikaru Genji
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 6.981
  • IQ: 40
  • Gender: Pria
  • Next Hikaru Genji
    • Membantah Hoax
Re: The Ten Biggest Lies about Vaccines
« Jawab #29 pada: Agustus 04, 2010, 11:15:47 PM »
Vaknisansi sudah menyelamatkan sekian banyak nyawa di dunia. Tapi memang ada kasus-kasus tertentu yang disebabkan vaksinasi, yang melibatkan politisasi juga. Misal kasus vaksinasi flu di Jepang, yang sampai membawa kasus yang namanya 'flu otak'. Vaksinasi flu tidak pernah terbukti efektivitasnya, tapi tetap saja dipaksakan, dan akibatnya terjadi kasus yang disebut 'flu otak' tadi.

Dan jangan heran jika kalian kesulitan nyari info soal 'flu otak' tadi, karena istilah ini hanya dikenal di jepang. Itu lebih merupakan gangguan pada otak akibat dampak dari obat/vaksin
« Edit Terakhir: Agustus 04, 2010, 11:19:20 PM oleh Pi-One »

 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
51 Jawaban
83584 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 13, 2017, 01:15:16 AM
oleh The Houw Liong
2 Jawaban
3732 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 18, 2009, 03:17:45 PM
oleh Zanra_GTG
3 Jawaban
2866 Dilihat
Tulisan terakhir September 02, 2010, 04:47:20 AM
oleh alvin pratama