Forum Sains Indonesia

Ilmu Alam => Kimia => Topik dimulai oleh: vea pada Juli 08, 2009, 02:43:36 AM

Judul: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: vea pada Juli 08, 2009, 02:43:36 AM
aku  minta bantuan temen2 donk
aku masih belajar mengenai pengolahan limbah
kalo ada yang punya referensi2 tentang limbah atau ada ahli pengelolaan limbah aku minta bantuan nya
aku massih bingung tentang penentuan COD & BOD dan bagaimana cara menangani atau mengolah limbah dgn baik
contact2 aja yaa ke email ku di im_vee_hello@yahoo.com
makasihh.
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: nandaz pada Juli 08, 2009, 07:19:29 PM
Kutip dari: vea pada Juli 08, 2009, 02:43:36 AM

aku massih bingung tentang penentuan COD & BOD dan bagaimana cara menangani atau mengolah limbah dgn baik
contact2 aja yaa ke email ku di im_vee_hello@yahoo.com
makasihh.
penentuan apa maksudnya kamu ngga ngerti gitu?...COD itukan chemical oxygen demand, artinya oksigen yang dibutuhkan dalam kegiatan oksidasi dalam bahan buangan dalam air
BOD singkatan dari Biological Oxygen Demand, kebutuhan oksigen biologis untuk memecah bahan buangan di dalam air oleh mikroorganisme...keduanya bila tinggi mengakibatkan buruknya sanitasi air tanah, soal penanganan ada banyak prosesnya bisa dengan penyaringan residu sampah pabrik baru dibuang kelaut, dan bisa dengan menggunakan resin(pengawaionan)....diskusinya disini ja yah....
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: sisca, chemistry pada Juli 09, 2009, 08:41:10 PM
Kutip dari: nandaz pada Juli 08, 2009, 07:19:29 PM
Kutip dari: vea pada Juli 08, 2009, 02:43:36 AM

aku massih bingung tentang penentuan COD & BOD dan bagaimana cara menangani atau mengolah limbah dgn baik
contact2 aja yaa ke email ku di im_vee_hello@yahoo.com
makasihh.
resin(pengawaionan)

itu mksdnya apa??? aq prnh dgr jg, tpi gag q tanya ama guru q... hhe... mohn dijelasin... mklmla,, msi junior... hhe.. ^^
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: nandaz pada Juli 11, 2009, 06:55:20 PM
...maksud siska, pengionan dengan resin itu ya?...prinsipnya melalui air(air yang terkontaminasi limbah atau tidak murni) tersebut kepada resin, zat resin ini ada yang persifat H+ dan OH-, zat partikel yang pengotor tersebut akan tertarik ionnya dan nanti akan mudah dibuang karena akan membentuk senyawa yang dapat dipisahkan...dan hasilnya akan dapat air murni, agar resin bekerja dengan optimal. Bisa disiapkan tabung khusus...aku pernah baca ensiklopedia bahwa dengan pengionan resin dapat dilakukan untuk pabrik tertentu saja(tergantung apa yang diolah sih)....
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: sisca, chemistry pada Juli 11, 2009, 07:36:03 PM
o....
b'arti air yg ada limbahnya bisa dibuat jdi air murni lagi melalui resin itu????

kyk tawas gag???
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: nandaz pada Juli 11, 2009, 07:44:21 PM
..tergantung limbahnya, pabrik kan ada bermacam2 jenis pembuangannya, kalo hasil limbahnya seperti zat pembuat kesadahan tentu metode resin dapak dipake...prinsipnya serupa dengan tawas sih dalam penjernihan karena mereka saling mengikat pengotor...
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: sisca, chemistry pada Juli 11, 2009, 07:51:50 PM
ouwh,,,.,
tawas itu bgtu dimasukkan ke dlm air,,, air tsb bisa langsung diminum gak??
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: nandaz pada Juli 11, 2009, 07:58:31 PM
...tentunya tawas itu dibuang setelah menghilangkan kekeruhan dan begitu pula endapannya...
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: sisca, chemistry pada Juli 11, 2009, 08:02:14 PM
b'arti stlh air di masukkan tawas akan t'btk endapan yach???
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: nandaz pada Juli 11, 2009, 08:06:47 PM
yoi, endapan itulah pengotor air...dari partikel yang sangan kecil dan kasat mata, hingga partikel yang dapat disaring...
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: sisca, chemistry pada Juli 11, 2009, 08:17:14 PM
o... ho5...
makasi byk ya....
aq bru tau harus disaring lg...
makasi...
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: syx pada Juni 02, 2010, 03:22:48 PM
bagaimana mekanisme tawas dalam membentuk flokulat dan aglomerat? setelah terbentuk endapan, tawas tersebut ada di mana? tetap dalam larutan atau ikut bersama endapan?
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: nandaz pada Juni 02, 2010, 08:01:01 PM
Kutip dari: syx pada Juni 02, 2010, 03:22:48 PM
bagaimana mekanisme tawas dalam membentuk flokulat dan aglomerat? setelah terbentuk endapan, tawas tersebut ada di mana? tetap dalam larutan atau ikut bersama endapan?
pengertian flukolatnya yang gimana nich, Monseur?..flokulat atau flokulan? kalo flokulan itu kan anion yang mempercepat pengendapan sedangkan aglomerat itu apa? bukannya aglomerat itu istilah lain dari menggumpalan ???
flokulan dan tawas adalah senyawa yang berbeda, pada flokulan bertujuan menghasilkan gumpalan kalsium pospat sekunder. Gumpalan kalsium fosfat ini bersifat mengadsorbsi kotoran..tentu setelah penyaringan pengotor bisa dibuang
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: syx pada Juni 03, 2010, 08:12:58 AM
flokulan adalah bahan yang bisa menyebabkan terjadinya flokulasi, tidak selalu berupa anion, malah umumnya ada kation. kation multivalensi seperti Al, Mg, Ca, dan Fe lebih efektif bekerja sebagai flokulan daripada yang monovalensi.
aglomerasi adalah penggabungan partikel primer dengan kawannya yang lain sehingga menjadi partikel yang lebih besar.
flokulasi pada prinsipnya sama dengan aglomerasi, tapi ada ikatan yang renggang antara partikel besar tersebut. saat terjadi endapan, endapan tersebut bersifat porous dan akan mudah sekali didispersikan kembali menjadi suspensi.

(http://www.pharmainfo.net/files/images/stories/article_images/Pharmaceutical%20Sedimentation%20behaviour%20file4.jpg)

kembali ke pertanyaan semula, jika tawas digunakan untuk penjernihan air, di mana tawas akan berada, dalam air atau pada endapannya? jika pada endapannya tentu tawas akan mudah sekali disingkirkan dengan filtrasi. jika dalam air, bagaimana cara menghilangkannya?
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: nandaz pada Juni 03, 2010, 11:15:09 AM
kerja tawas bersifat koagulan, dimana tawas juga garam hidrat yang higroskopis disamping itu butuh diaduk supaya homogen dengan air, sedangkan partikel2 tersuspensi akan membentuk gumpalan besar...selanjutnya pake cara flokulan(di flokulan biasanya pengadukan diperlambat supaya partikel yang menggumpal tadi tidak pecah seperti semula). Selanjutnya bisa lakukan filtrasi. Sedangkan tawas yang larut, meninggalkan hidratnya dan ion logam menggumpal bersama pengotor.
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: syx pada Juni 04, 2010, 12:21:17 PM
... dengan kata lain sebagian besar Al bisa disingkirkan dari air setelah penyaringan karena mereka akan tertinggal bersama endapan?
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: nandaz pada Juni 04, 2010, 06:58:42 PM
..ya, setahuku begitu.
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: syx pada Juni 05, 2010, 01:24:46 PM
bagaimana menentukan jumlah tawas yang diperlukan?
bagaimana menghilangkan kelebihan tawas yang tertinggal (masih terlarut) di air?
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: nandaz pada Juni 07, 2010, 04:34:54 PM
Kutip dari: syx pada Juni 05, 2010, 01:24:46 PM
bagaimana menentukan jumlah tawas yang diperlukan?
bagaimana menghilangkan kelebihan tawas yang tertinggal (masih terlarut) di air?
wah, dua pertanyaan sekaligus nich...M.syx alhi bikin impact yaa ;D
untuk menentukan jumlah tawas, sebetulnya tergantung seberapa kubik volume air yang ingin dijernihkan, contohnya aku pernah ngeliat orang ngejrnihin sumur pake tawas garam sulfat(detailnya lupa), mereka ngecemplungin beberapa bongkahan tawas seukuran biji pinang...
(http://3.bp.blogspot.com/_NtF7P1Aaff0/S5buypngLRI/AAAAAAAAA2U/bPRKjLEE1-o/s320/1035116_gbrgelas2.jpg)tawas itu banyak ragamnya, dan masing2nya digunakan diberbagai keperluan, ada yang ngiket pengotor limbah(biasanya tawas kalium), ada yang untuk ngembangkan roti(ini dari natrium), dan untuk air PDAM(alumunium sulfat)...jadi ngomong kadarnya sesungguhnya tergantung banyaknya air yang ingin dijernihhin aja...tetapi, ada yang nyaranin penggunaan tawas tidak terlalu banyak karena bisa2 ikatannya kehilangan pasangan sehingga solid akan ion2 logam....
kalo ngilangin tawas yang tertinggal kurang tau maksudnya, kalo tawas itu sudah homogen dan memiliki kadar ion logam besar bisa dihilangkan dengan resin, tetapi kalo masih bentuk granular bisa disaring.....klo salah maaf deh ::)
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: syx pada Juni 07, 2010, 04:53:12 PM
tawas untuk mengembangkan roti? itu bukannya soda kue alias sodium bicarbonate?
sepertinya tawas ini kok istilah untuk satu golongan bahan, bukan cuma mengacu pada satu bahan. apa definisi tawas?
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: nandaz pada Juni 07, 2010, 05:12:46 PM
Kutip dari: syx pada Juni 07, 2010, 04:53:12 PM
tawas untuk mengembangkan roti? itu bukannya soda kue alias sodium bicarbonate?
sepertinya tawas ini kok istilah untuk satu golongan bahan, bukan cuma mengacu pada satu bahan. apa definisi tawas?

bener, tawas itu ada banyak...kalo tawas untuk ngembang roti itu formulanya NaAl(SO4)2. 12H2O....baking soda itu Na-bikarbonat dibikin dari tawas juga. Tawas itu nama lainnya Alum nah, alum ini adalah suatu garam kimia yang merupakan kombinasi logam alkali, logam alkali ada banyak juga dan masing2 punya peranan beda,..kalo ngga percaya coba Monseur beli baking soda dan lihat ada metalik samar2 didalamnya, nah..itu dia tawas
aku mempelajari tawas dengan berbagai manfaat, orang banyak berfikir sempit karena pada umumnya ngomong tawas cuma inget garam Al sufat yang ngejernihin air aja....
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: syx pada Juni 08, 2010, 08:06:06 AM
alum? kalo dari namanya kok sepertinya kombinasi dari garam aluminum...
sorry, melenceng dikit. selama ini yang saya ngerti mengenai pengembangan roti adalah karena terjadinya pembentukan gas CO2 di dalam adonan. gas ini bisa diperoleh dari aktivitas ragi atau dari senyawa carbonate. kalo dari NaAl(SO4)2 gitu gimana mekanisme pengembangannya?
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: nandaz pada Juni 08, 2010, 11:03:51 AM
hmm..,Alum itu tawas, dan tawas itu mengandung unsur garam Al....aku baru dapet referensi baru nih, tentang reaksi alum dalam larutan (ini dia tawas yang memulai kinerjanya pertama sebagai koagulannya)
....Al2S04.11H2O atau 14 H2O atau 18 H2O umumnya yang digunakan adalah 18 H2O. Semakin banyak ikatan molekul hidrat maka semakin banyak ion lawan yang nantinya akan ditangkap akan tetapi umumnya tidak stabil. Pada pH < 7 terbentuk Al ( OH )2+, Al ( OH )2 4+,  Al2 ( OH )2 4+. Pada pH > 7 terbentuk Al ( OH )-4. Flok –flok Al ( OH )3  mengendap berwarna putih.  Gugus utama dalam proses koagulasi adalah senyawa aluminat yang optimum pada pH netral. Apabila pH tinggi atau boleh dikatakan kekurangan dosis maka air akan nampak seperti air baku karena gugus aluminat tidak terbentuk secara sempurna. Akan tetapi apabila pH rendah atau boleh dikata kelebihan dosis maka air akan tampak keputih – putihan karena terlalu banyak konsentrasi alum yang cenderung berwarna putih. Dalam cartesian terbentuk hubungan parabola terbuka, sehingga memerlukan dosis yang tepat dalam proses penjernihan air.  Reaksi alum dalam larutan dapat dituliskan.:

Al_2SO_4 + 6H_2O\rightarrow Al(OH)_3 + 6H^+ + SO_4^{2-}

    Reaksi ini menyebabkan pembebasan ion H+  dengan kadar yang tinggi ditambah oleh adanya ion alumunium. Ion Alumunium bersifat amfoter sehingga bergantung pada suasana lingkungan yang mempengaruhinya. Karena suasananya asam maka alumunium akan juga bersifat asam sehingga pH larutan menjadi turun.

Jika zat-zat ini dilarutkan dalam air, akan terjadi disosiasi garam menjadi kation logam dan anion. Ion logam akan menjadi lapisan dalam larutan dengan konsentrasi lebih rendah dari pada molekul air, hal ini disebabkan oleh muatan posistif yang kuat pada permukaan ion logam (hidratasi) dengan membentuk molekul heksaquo (yaitu 6 molekul air yang digabung berdekatan) atau disebut dengan logam (H2O)63+ , seperti [Al.(H2O)6]3+ .

Ion seperti ini hanya stabil pada media yang sedikit asam , untuk aluminium pada pH < 4, untuk Fe pada pH < 2.
Jika pH meningkat ada proton yang akan lepas dari ion logam yang terikat tadi dan bereaksi sebagai asam.
    Sebelum digunakan satu hal yang harus disiapkan yaitu larutan koagulan. Di dalam larutan, koagulan harus lebih efektif, bila berada pada bentuk trivalen     (valensi 3) seperti Fe3+ atau Al3+, menghasilkan pH < 1,5. Bila larutan alum ditambahkan ke dalam air yang akan diolah terjadi reaksi sebagai berikut :

Reaksi hidrolisa : Al3+ + 3H2O --> Al(OH)3 + 3H+
Jika alkalinitas dalam air cukup, maka terjadi reaksi:
Jika ada CO3 CO32- +H+ --> HCO3- + H2O

Dari reaksi di atas menyebabkan pH air turun.

Kelarutan Al(OH)3 sangant rendah, jadi pengendapan akan terjadi dalam bentuk flok. Bentuk endapan lainnya adalah Al2O3. nH2O seperti ditunjukkan reaksi :

2Al^{3+} + (n+3)H_2O\rightarrow Al_2O_3.nH_2O + 6H^+

Ion H+ bereaksi dengan alkalinitas.

Reaksi-reaksi hidrolisa yang tercantum di atas merupakan persamaan reaksi hidrolisa secara keseluruhan. Reaksi 1) biasanya digunakan untuk menghitung perubahan alkalinitas dan pH.

   Pada kenyataannya ion Al3+ dalam larutan koagulan terhidrasi dan akan berlangsung dengan ketergantungan kepada pH hidrolisa. Senyawa yang terbentuk bermuatan positip dan dapat berinteraksi dengan zat kotoran seperti koloid.

[Al(H2O)6]3+     —>  [Al(H2O)5OH]2+ + H+

[Al(H2O)5OH]2+      —>   [Al(H2O)4(OH)2]+ + H+

[Al(H2O)4(OH)2]+   —>    [Al(H2O)3(OH)3] + H+ endapan

[Al(H2O)3(OH)3]    —>   [Al(H2O)2(OH)4] + H+ terlarut

Tahap pertama terbentuk senyawa dengan 5 molekul air dan 1 gugus hidroksil yang muatan total akan turun dari 3+ menjadi 2+ misalnya : [Al(H2O)5OH]2+.

Jika pH naik terus sampai mencapai ±5 maka akan terjadi reaksi tahap kedua dengan senyawa yang mempunyai 4 molekul air dan 2 gugus hidroksil. Larutan dengan pH >6 (dipengaruhi oleh Ca2+) akan terbentuk senyawa logam netral (OH)3 yang tidak bisa larut dan mempunyai volume yang besar dan bisa diendapkan sebagai flok (di IPA).

Jika alkalinitas cukup ion H+ yang terbentuk akan terlepas dan endapan [Al(H2O)3(OH)3] atau hanya Al(OH)3 yang terbentuk. Pada pH lebih besar dari 7,8 ion aluminat [Al(H2O)2(OH)4]− atau hanya Al(OH)4]− yang terbentuk yang bermuatan negatip dan larut dalam air. Untuk menghindari terbentuknya senyawa aluminium terlarut, maka jangan dilakukan koagulasi dengan senyawa aluminium pada nilai pH lebih besar dari 7,8.

Polimerisasi senyawa aluminium hidroksil berlangsung dengan menghasilkan kompleks yang mengandung ion Al yang berbeda berikatan dengan ion lainnya oleh grup OH−. Contoh :

OH [(H2O)4 Al Al(H2O)4]4+ atau Al2(OH)24+
OH Polinuklir Al kompleks diajukan untuk diadakan, seperti :

[Al7(OH)17]4+ ; [Al8(OH)20]4+ ; [Al13(OH)34]5+

Selama koagulasi pengaruh pH air terhadap ion H+ dan OH− adalah penting untuk menentukan muatan hasil hidrolisa. Komposisi kimia air juga penting, karena ion divalen seperti SO42− dan HPO42− dapat diganti dengan ion-ion OH− dalam kompleks oleh karena itu dapat berpengaruh terhadap sifat-sifat endapan.

Presipitasi dari hidroksida menjamin adanya ion logam yang bisa dipisahkan dari air karena koefisien kelarutan hidroksida sangat kecil. Senyawa yang terbentuk pada pH antara 4 – 6 dan yang terhidrolisa, dapat dimanfaatkan untuk polimerisasi dan kondensasi (bersifat membentuk senyawa dengan atom logam lain) misalnya Al6(OH)153+

Aluminium sering membentuk komplek 6 s/d 8 dibandingkan dengan ion Fe (III) yang membentuk suatu rantai polimer yang panjang. Senyawa itu disebut dengan cationic polynuclier metal hydroxo complex dan sangat bersifat mengadsorpsi dipermukaan zat-zat padat. Bentuk hidrolisa yang akan terbentuk didalam air , sebagian besar tergantung pada pH awal, kapasitas dapar (buffer), suhu, maupun konsentrasi koagulan dan kondisi ionik (Ca2+ dan SO42–) maupun juga dari kondisi pencampuran dan kondisi reaksi.

Senyawa Al yang lainnya adalah sodium aluminat, NaAlO2 atau Na2Al2O4. Kelebihan NaOH yang ditambahkan (rasio Na2O/Al2O3 dalam Na2Al2O4 adalah : 1,2 − 1,3/1) untuk menaikkan stabilitas sodium aluminat. Penambahan zat ini dalam bentuk larutan akan menghasilkan reaksi berikut :

AlO2− + 2H2O → Al(OH)4−

Al(OH)4− → Al(OH)3 + OH

Reaksi kedua hanya mungkin bila asiditas dalam air cukup untuk menghilangkan ion OH− yang terbentuk sehingga menyebabkan kenaikan pH.

CO2 + OH → HCO3

HCO3 + OH− → CO3 2− + H2O

Kadang-kadang bila air tidak mengandung alkalinitas, perpaduan antara sodium aluminat dan alum digunakan untuk menghindari perubahan pH yang besar dan untuk membuat pH relatif konstan.

2Al3+ + 3SO42− + 6H2O → 2Al(OH)3 + 3SO2− + 6H+

6AlO2 + 6Na+ + 12H2O → 6Al(OH)3 + 6Na+ + 6OH

_________________________________________________________
2Al3+ + 3SO42− + 6Na+ + 6AlO2+ 12H2O → 8Al(OH)3 + 6Na++3SO42−


bersambung....
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: nandaz pada Juni 08, 2010, 11:05:31 AM

....Pada prakteknya satu hal dipertimbangkan memberikan kelebihan asam dari larutan alum (pH 1,5) yang ditambahkan dan yang lainnya kelebihan NaOH di dalam sodium aluminat (untuk stabilitas).

Pada kekeruhan yang disebabkan tanah liat sangat baik dihilangkan dengan batas pH antara 6,0 sampai dengan 7,8; penghilangan warna umumnya dilakukan pada pH yang sedikit asam, lebih kecil dari 6, bahkan di beberapa daerah harus lebih kecil dari 5. Dari beberapa penelitian (untuk air gambut dari daerah Riau), efisiensi penghilangan warna akan baik bila pH lebih kecil dari 6 untuk setiap dosis koagulan alum sulfat yang digunakan. Walaupun demikian efisiensi penghilangan warna masih tetap tinggi dihasilkan pada koagulasi dengan pH sampai 7, tetapi dengan dosis alum sulfat yang lebih tinggi (sampai 100 mg/l), tetapi bila dosis alum sulfat lebih kecil (60 mg/l) pada pH yang sama (sampai dengan 7), terjadi penurunan efisiensi penghilangan warna secara drastis (sampai dengan 10 %).

Air setelah diolah dengan koagulasi – flokulasi untuk menghilangkan warna, pH harus ditetapkan diatas 6,5 (kurang dari 7,8) sebelum air disaring, karena pada pH tersebut bentuk aluminium tidak larut, jadi residu Al3+ terlarut didalam air dapat dihilangkan/dikurangi, pada pH > 7,8 bentuk Al adalah Al terlarut yaitu ion aluminat, [Al(H2O)2(OH)4] Untuk hal ini dilakukan penambahan kapur sebelum proses filtrasi, dan biarkan aluminium berubah bentuk menjadi bentuk tidak larut/endapan supaya dapat dihilangkan dengan penyaringan. Dengan cara ini residu Al3+ dapat ditekan sampai tingkat yang diijinkan. Setelah itu baru boleh dilakukan penambahan kembali kapur atau soda abu untuk proses Stabilisasi dengan harapan tidak akan terjadi perubahan alum terlarut menjadi alum endapan. Bila cara diatas tidak dilakukan, kemungkinan akan terjadi pengendapan alum di reservoir atau pada jaringan pipa distribusi, akibat penambahan kapur atau soda abu untuk proses stabilisasi dilakukan setelah air keluar dari filter, seperti halnya yang dilakukan pada pengolahan air yang biasa ( tidak berwarna ).

Proses koagulasi dengan koagulan lain seperti halnya garam Fe (III) yang mempunyai rentang pH lebih besar (4–9) dan penggunaan koagulan Polyaluminium chloride (PAC), tanpa penetapan pH pun proses koagulasi – flokulasi tetap dapat berlangsung, tetapi pembentukan flok tidak optimum, hanya flok-flok halus yang terbentuk, sehingga beban filter akan bertambah.

Jika kehadiran alkalinitas didalam air cukup, pada koagulasi dengan koagulan garam Al ion H+ yang terbentuk akan diambil dan terbentuk endapan [Al(H2O)3(OH)3] atau hanya Al(OH)3, dimana bentuk ini bermanfaat pada pertumbuhan flok ( mekanisme adsorpsi ). Adanya alkalinitas didalam air jika pH air > 4,5. Jadi jika pH air baku < 4,5 perlu penambahan bahan alkali (kapur atau soda abu)....  :'((capek!)
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: nandaz pada Juni 08, 2010, 11:17:40 AM
soal mekanisme tawas Na, aku belum dapet referensinya :-\...serbuk granular yang terdapat dalam baking soda kata guruku dari tawas ini buatnya...
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: syx pada Juni 08, 2010, 02:47:20 PM
IQ+1 buat nandaz...

Kutip dari: nandaz pada Juni 08, 2010, 11:03:51 AMApabila pH tinggi atau boleh dikatakan kekurangan dosis maka air akan nampak seperti air baku karena gugus aluminat tidak terbentuk secara sempurna.
apa definisi air baku?

Kutip dari: nandaz pada Juni 08, 2010, 11:05:31 AM
Pada kekeruhan yang disebabkan tanah liat sangat baik dihilangkan dengan batas pH antara 6,0 sampai dengan 7,8; penghilangan warna umumnya dilakukan pada pH yang sedikit asam, lebih kecil dari 6, bahkan di beberapa daerah harus lebih kecil dari 5. Dari beberapa penelitian (untuk air gambut dari daerah Riau), efisiensi penghilangan warna akan baik bila pH lebih kecil dari 6 untuk setiap dosis koagulan alum sulfat yang digunakan.
penghilangan warna di sini dari sistem dispersi partikel (koloid) kan? bukan berasal dari zat warna atau bahan yang memberi warna yang terlarut (dispersi molekuler) dalam air tersebut?
kalo penghilangan warna terlarut biasanya yang dipake adalah adsorben seperti carbon aktif.
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: nandaz pada Juni 09, 2010, 12:53:25 PM
..makasih :)
...kalo air baku itu air didapat dari sumbernya, dimana air itu masih sedikit kurang baik tetapi harus diolah secara sederhana lagi...
soal warna itu, ya dari dispersi koloid, kan tadinya keruh...
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: syx pada Juni 24, 2010, 05:48:58 PM
pas beli tawas ternyata ada dua varian: tawas butek (keruh?) dan tawas bening... apa bedanya secara kimia?
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: nandaz pada Juni 25, 2010, 02:39:53 PM
..bedanya secara bentuk sih ya ;D..kalo dalam segi kimia produk butek itu mengandung Al2(SO4)3.H2O, sedangkan tawas bening Al2(SO4)3 (NH4)2SO4.H2O
KutipKandungan besi dalam larutan aluminium sulfat yang dihasilkan direduksi dengan Al atau Na2S, selanjutnya diuapkan sampai kekentalan tertentu menghasilkan tawas butek (keruh). Sedangkan tawas bening dihasilkan dengan menambahkan larutan amonia ke dalam larutan aluminium sulfat. Untuk mendapatkan tawas bening sebanyak 175 gram, volume larutan yang diperlukan sebanyak 200 ml (densitas 1,32 g/ml), 30 ml amonia (konsentrasi 21 %) dan 0,84 gram logam aluminium. Sedangkan untuk mendapatkan tawas butek sebanyak 98 gram diperlukan 200 ml larutan aluminium sulfat, 5 ml larutan Na2S (konsentrasi 10 %). Produk tawas butek yang dihasilkan mempunyai kadar Al2O3 9,49-12,55 % dan Fe2O3 2-2,4 %. Sedangan tawas bening yang dihasilkan mempunyai kadar Al2O3 9,92-11,53 % dan Fe2O3 0,5-2,71 %

kebetulan aku punya linknya lewat jurnal galian  ;D, lebih lengkapnya ada disana...
[pranala luar disembunyikan, sila masuk atau daftar.]
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: syx pada Juni 25, 2010, 05:54:54 PM
saya udah coba keduanya... sepertinya untuk sampel yang saya pake hasil penjernihan dari tawas butek lebih baik ketimbang tawas bening. dengan bobot tawas yang sama, air keruh yang diberi tawas butek lebih jernih ketimbang yang diberi tawas bening.
Judul: Re: tentang pengolahan limbah
Ditulis oleh: pHCl05 pada Juli 04, 2013, 03:24:17 PM
Kutip dari: nandaz pada Juli 08, 2009, 07:19:29 PM
penentuan apa maksudnya kamu ngga ngerti gitu?...COD itukan chemical oxygen demand, artinya oksigen yang dibutuhkan dalam kegiatan oksidasi dalam bahan buangan dalam air
BOD singkatan dari Biological Oxygen Demand, kebutuhan oksigen biologis untuk memecah bahan buangan di dalam air oleh mikroorganisme...keduanya bila tinggi mengakibatkan buruknya sanitasi air tanah, soal penanganan ada banyak prosesnya bisa dengan penyaringan residu sampah pabrik baru dibuang kelaut, dan bisa dengan menggunakan resin(pengawaionan)....diskusinya disini ja yah....
Penentuan COD itu bisa dengan menggunakan spektrofotometer ataupun dengan titrimetri. Kalo penentuan BOD bisa dengan titrimetri dengan mengukur DO (Dissolved  Oxygen) segera (lapangan). begitu dapat hasilnya, maka di lakukan aerasi dengan menggukan larutan FeCl3, MgSO4, Bufer Phospat, CaCl2. dengan perbandingan setiap 1 liter aquadest : 1 ml reagen pereaksi. baru kita ukur DO setelah di aerasi. kemudian kita inkubasi botol winkler (yang isinya sampel yg diaerasi) selama 5 hari pada suhu 20 C.
Selisih antara DO nol hari dengan DO lima hari ituadalah BOD.
:kribo: