Gunakan MimeTex/LaTex untuk menulis simbol dan persamaan matematika.

Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?

November 29, 2021, 12:33:55 PM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139668
  • Total Topik: 10408
  • Online Today: 33
  • Online Ever: 441
  • (Desember 18, 2011, 12:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 21
Total: 21

Ikuti ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Penulis Topik: Krisis Parah Dalam Pendidikan Indonesia  (Dibaca 6993 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline asma

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 34
  • IQ: 8
  • Lady Arwen n Aragon
Krisis Parah Dalam Pendidikan Indonesia
« pada: Agustus 23, 2009, 09:54:31 PM »
         Pada umumnya masyarakat Indonesia dapat merasakan dan menyadari dengan jelas krisis ekonomi dan krisis finansial seperti yang terjadi pada tahun 1998 dan 2008. Namun mereka kurang menyadari krisis yang berdampak lebih besar, yaitu krisis pendidikan Indonesia.
         Krisis Pendidikan semakin parah justru setelah Indonesia berdemokrasi dan bebas memilih apa yang terbaik untuk rakyat dan lepas dari belenggu kediktatoran. Tak seperti krisis ekonomi, krisis pendidikan ini berimplikasi pelan tapi pasti dan kuat pada struktur sosial di masa depan. Biang utama dari krisis pendidikan adalah sistem pendidikan yang mengadopsi sistem pasar dan konsep efisiensi privat atau perusahaan swasta yang dibawa pada ranah pendidikan yang bersifat publik.
          Sistem ini sebenarnya telah melecehkan konstitusi yang menempatkan negara yang berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan ketika konstitusi mengamanatkan dengan jelas alokasi anggaran untuk pendidikan, masih banyak dimaklumi pemunduran penerapannya. Bahkan ketika kesempatan itu ada, maka implementasi alokasi anggaran masih serabutan dan tidak jelas arahnya.
           Ideologi dasar sistem pendidikan Indonesia saat ini tak lain adalah ideologi neoliberal murni, meski masih dibatasi oleh kondisi sosial. Jadi perhatian pada hak rakyat atas pendidikan hanya ditempatkan sebagai kendala, yang dipenuhi agar sistem utama dapat berjalan.
            Dalam sistem seperti ini pendidikan ditempatkan sebagai komoditas, peranan pemerintah dimimalisasi dengan berfokus pada kontrol kurikulum dan standar, melakukan desentralisasi kepada pemerintah daerah atau dengan kata lain negara melempar kewajibannya pada entitas politik lokal. Guru, dosen, dan profesi pendidik dininabobokkan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa atau dengan kata lain ditempatkan dalam status ekonomi dan kondisi kerja yang rendah. Upaya meningkatkan kesejahteraan, seperti kenaikan gaji yang tidak signifikan atau sistem sertifikasi yang tidak masuk akal, memperkuat asumsi itu.
            Indikasi ini dapat dilihat pada semua level pendidikan dari tingkat dasar, sampai pendidikan tinggi. Pada sekolah dasar dan menengah, kesenjangan pada sekolah-sekolah negeri sendiri sangatlah tinggi. Status sekolah menjadi tergantung kondisi sosial ekonomi muridnya. Ada sekolah roboh, ada sekolah yang megah, padahal semua sekolah pemerintah.
          Bahkan di dalam sekolah pun dibedakan, ada yang masuk rintisan sekolah bertaraf internasional dan ada sekolah biasa saja.
Mengapa ada rintisan sekolah bertaraf internasional? Ini adalah wujud dari ketidakpercayaan diri pada sekolah nasional atau inferioritas sebagai bangsa. Kalaupun sekolah bertaraf internasional ini memang dianggap memiliki kualitas yang lebih baik kenapa tidak dijadikan standar nasional untuk semua, kenapa hanya diperuntukkan hanya untuk kelompok tertentu. Diskriminasi terjadi tidak hanya ketika akan masuk sekolah yang tersaring dengan tarif yang mahal, akan tetapi dalamn proses di dalamnyapun terjadi diskriminasi lanjutan.
            Logika pasar benar-benar merebah. Uang masuk mahal, SPP mahal, bahkan sampai para dosennya sendiri tidak akan mampu menyekolahkan anaknya di universitas tempat mengajar. Perguruan tinggi pun sekarang mengejar kelasnya menjadi berkelas dunia (world class university). Daripada berusaha menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi bangsa sendiri, perguruan tinggi mengikuti arus global dengan mengacu pada standar-standar internasional yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan bangsa sendiri.
 
Menurut kalian gimana pendidikan indonesia itu?




Many people will walk in and out of your life.But only true friends will leave footprints in your heart." ^-^"

Offline sukuchi92

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 15
  • IQ: 3
  • Gender: Pria
  • newbie
Re: Krisis Parah Dalam Pendidikan Indonesia
« Jawab #1 pada: September 09, 2009, 01:58:56 PM »
parah gan
banyak bab pelajaran diapus dari kurikulum padahal termasuk penting
esfuerzo y la mejora, hasta que pude romper mi propio límite de

effort et améliorer jusqu'à ce que je pourrait briser mon propre limite

sforzo e migliorare fino a quando ho potuto rompere il mio limite

Offline heru.htl

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 991
  • IQ: 14
  • Gender: Pria
    • Free GNU/Linux Distributions
Re: Krisis Parah Dalam Pendidikan Indonesia
« Jawab #2 pada: September 14, 2009, 03:12:18 PM »
Kebiasaan latah Indonesia rupanya sudah mulai menginfeksi dunia pendidikan sampai ada word class segala.
Sayang sekali, kadang yang ikut word class belum tentu otaknya word class.

Salah satu kunci kemajuan negara adalah pendidikannya.
Jika pendidikan saja sudah jadi sesuatu yang super ekspensif dan high-end bagaikan mobil bmw, hancurlah kita, hancurlah rakyat miskin atau yang baru 3/4 miskin, maka hancurlah juga yang kaya raya sebab mereka akan dikerubuti orang-orang berpendidikan rendah yang tingkat violasinya cenderung tinggi.

Saya curiga, neo-VOC sedang bangkit dinegara kita, mengembalikan kita kemasa kolonial mereka --> ingat sejarah, dulu cuma anak priyayi dan saudagar kaya yang bisa sekolah sampai HIS atau diatasnya. Rakyat jelata hanya boleh sampai skp atau bahkan cuma sr.

Jika diantara rekan Forsa ada yang duduk dipemerintahan dan terkait dengan urusan DIKNAS, maka perhatikan ini baik-baik dan anda harus segera berpikir untuk bertindak dan jadilah patriot untuk selamatkan generasi kita dimasa depan.

The future of our nation depended on how we go on nowadys and how the next generation to be existed to stand for, and therefore if the next generation intellectuality falls then our country could be no more; we could be left as a memorized history.

Offline The Houw Liong

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1.585
  • IQ: 59
  • Gender: Pria
    • Sains, Filsafat dan Teknologi
Re: Krisis Parah Dalam Pendidikan Indonesia
« Jawab #3 pada: September 14, 2009, 10:14:37 PM »
Visi Perguruan Tinggi  untuk mencerdaskan bangsa ialah :

Perguruan Tinggi harus mempunyai kompetensi global yaitu harus bisa bersaing secara global, namun lebih penting lagi ialah harus berperan secara nasional dalam memecahkan berbagai masalah nasional.

Lulusannya harus mempunyai etos kerja keras dan etika luhur untuk menjadi bangsa yang terhormat.
« Edit Terakhir: September 14, 2009, 10:19:26 PM oleh The Houw Liong »
HouwLiong

Offline Monox D. I-Fly

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2.000
  • IQ: 32
  • Gender: Pria
  • 私は理科を大好き
Re:Krisis Parah Dalam Pendidikan Indonesia
« Jawab #4 pada: September 14, 2016, 01:59:50 AM »
banyak bab pelajaran diapus dari kurikulum padahal termasuk penting

Contohnya apa aja?
Gambar di avatar saya adalah salah satu contoh dari kartu Mathematicards, Trading Card Game buatan saya waktu skripsi.

 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
6 Jawaban
9143 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 06, 2009, 03:44:53 AM
oleh The Houw Liong
0 Jawaban
2675 Dilihat
Tulisan terakhir September 06, 2010, 06:43:16 PM
oleh skuler
7 Jawaban
7702 Dilihat
Tulisan terakhir September 16, 2016, 01:57:05 AM
oleh Monox D. I-Fly
13 Jawaban
8850 Dilihat
Tulisan terakhir September 10, 2016, 02:01:38 AM
oleh Monox D. I-Fly
6 Jawaban
15606 Dilihat
Tulisan terakhir September 16, 2016, 02:26:43 AM
oleh Monox D. I-Fly