Gunakan MimeTex/LaTex untuk menulis simbol dan persamaan matematika.

Welcome to Forum Sains Indonesia. Please login or sign up.

Juni 26, 2022, 12:25:19 AM

Login with username, password and session length

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
  • Total Anggota: 26,754
  • Latest: sainsftw
Stats
  • Total Tulisan: 139,632
  • Total Topik: 10,389
  • Online today: 53
  • Online ever: 441
  • (Desember 17, 2011, 09:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 52
Total: 52

Aku Cinta ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Pendidikan Di Indonesia Mahal?

Dimulai oleh reborn, November 30, 2006, 12:55:06 AM

« sebelumnya - berikutnya »

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

peregrin

KutipEmang bisnis kok 

iya, emang bisnis. Contohnya:

KutipAmerica's Hot New Export: Higher Education
Colleges rush to open degree programs overseas, for both academic and business reasons
[pranala luar disembunyikan, sila masuk atau daftar.]

Kalau nggak bisa akses, bisa baca artikel selengkapnya di:
[pranala luar disembunyikan, sila masuk atau daftar.]
Free software [knowledge] is a matter of liberty, not price. To understand the concept, you should think of 'free' as in 'free speech', not as in 'free beer'. (fsf)

reborn

Kutip dari: peregrin pada Februari 12, 2007, 08:49:28 PM

Kalau nggak bisa akses, bisa baca artikel selengkapnya di:
[pranala luar disembunyikan, sila masuk atau daftar.]


Bagus blognya, apalagi yang ini :

What are your motives of going to higher education program?
If any, what are your short term goals and what are you long term goals by engaging in a higher education program?

Mantap :)

leksanadra

^
gue jawab yang diatas,...

1. Eksistensi Diri.
2. Strata Sosial yang lebih tinggi
3. Pekerjaan yang lebih baik
4. Politis
...

dan mungkin ini yang paling sedikit dipahami
5. Pengabdian . . .

reborn

Di Wall Street Journal, Charles Murray menulis tiga buah artikel

[pranala luar disembunyikan, sila masuk atau daftar.]
[pranala luar disembunyikan, sila masuk atau daftar.]
[pranala luar disembunyikan, sila masuk atau daftar.]

Artikel ini berisi opini Murray mengenai pendidikan di Amerika. Secara singkat dia mengatakan :

1. By definition, 50% of the human race has below average intelligence.

2. Even the highest quality education cannot overcome basic intellectual limitations in individual students

3. We need to simply accept these facts and restructure education to embrace them by (a) recognizing that a large minority of students will never meet basic academic standards for reading, math and science in high school as they are now defined, (b) recognizing that far too many American students go to 4-year-colleges despite the fact that they simply do not possess the basic intellectual capacity to benefit from that experience in any meaningful way (c) dramatically increasing the focus on high-paying, high quality vocational education both in high school and beyond and (d) refocusing advanced education on moral values and responsible action for those of high intelligence who will both benefit from that education and develop a corresponding sense of responsibility to live their lives to a higher standard for the general good of humanity.

Ahazveroz

harusnya ada sistem financial aid kaya di amrik
jadi yang dari kalangan bawah tetap mendapat kesempatan kuliah
tapi yah memang ujung2nya duit2 lagi ;D

peregrin

rada OOT dengan judul topiknya mungkin, tapi keknya isi tulisan ini nyambung dengan diskusi2 sebelumnya  ;)

Salut banget dengan usaha bapak Andy Sutioso dan Semi Palar utk berkontribusi thdp pendidikan di Indo. Ini salah satu tulisan beliau yg menarik:

Kutip
semipalar.net/tulisan/tulisan01.html
Pendidikan Dasar vs Pendidikan Tinggi - menimbang signifikansi di antara keduanya

Tulisan ini dirangkai sebagai sebuah refleksi tentang apa yang dialami setelah terlibat di dua ujung proses pendidikan, sebagai dosen yang menangani mahasiswa dan setelah lebih dari setahun ini saya terlibat intensif di jenjang pendidikan dasar.


Tulisan ini saya awali dengan mengutip pernyataan AA Gym yang sangat menarik di sebuah surat kabar tanggal 22 Mei 2003 yang lalu, bahwa seharusnya Perguruan Tinggi memberanikan diri untuk tidak memberikan ijazah kepada lulusannya. Saya sepenuhnya setuju dengan beliau karena proses pendidikan atau proses pembelajaran adalah bukan sesuatu yang bisa diukur dengan selembar kertas. Proses pendidikan adalah proses membantu membentuk seseorang menjadi manusia seutuhnya, dalam pengertian sederhana mengenalinya diri sendiri, siapa saya, apa kebisaan saya, apa kelemahan saya, dan apa potensi diri saya…

Kenyataannya, selama ini, hal itu tidak pernah terjadi, yang terjadi justru sebaliknya. Peserta didik selama ini hanya dibimbing dan dinilai dengan fokus angka-angka-angka ulangan, rapor, NEM, IP… Apapun nama dan istilahnya, tetaplah mereka hanya angka-angka yang tidak merepresentasi proses menemukan diri tersebut.



Masyarakat kita saat ini memang terjebak dalam lomba mengejar ijazah, mengejar gelar… yang akhirnya adalah semata-mata mengejar status. Sudah tidak ada lagi pengertian belajar untuk membangun kemampuan / kompetensi diri untuk berkarya menghasilkan sesuatu, memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Yang ada adalah mencari ijazah untuk bekal bekerja… Timbul pertanyaan lagi, bukankah untuk hidup orang harus bekerja? Bisa ya, bisa juga tidak. Ini terjadi karena pemahaman makna hidup sekarang begitu sempit, dan memang masyarakat kita terjebak dalam pragmatisme yang demikian… belajar untuk bekerja… Bisa kita amati begitu banyak institusi pendidikan yang mempromosikan programnya pendidikannya untuk menghasilkan lulusan siap kerja… Lalu apa yang bisa kita amati setelah sekian lama masyarakat kita ini dibangun sebagai pasukan siap kerja? Hasilnya adalah ketergantungan dan ketidak-mandirian yang luar biasa… dari tingkat pribadi, masyarakat, bahkan negara sekalipun. Tidak sulit mencari jawaban kenapa negara kita tidak berhasil keluar dari krisis selama ini. Negara dengan potensi sumber daya yang begitu luar biasa. Sederhana saja, karena selama ini, masyarakat kita tidak dibentuk menjadi manusia, tetapi difabrikasi menjadi robot… Di 'pabrik'nya, sejak seorang anak masuk sekolah hingga universitas pada saat mahasiswa, anak-anak kita hanya semata-mata diprogram … diisi hafalan ilmu pengetahuan, rumus dan teori. Setelah selesai, tanpa operator, tanpa kendali dari luar, si robot hanya bisa diam tidak bergerak…



Apa yang dihasilkan pendidikan tinggi selama ini adalah hanya sarjana… sekedar manusia-manusia bergelar… Lalu apa yang bisa mereka lakukan memang tanda tanya besar… Karena apa yang mereka hasilkan selama di pendidikan tinggi memang nyaris tidak ada. Kita bisa bertanya kritis, apa sih kontribusi pendidikan tinggi kita ke masyarakat? Apa sih gagasan, solusi, inovasi yang dihasilkan pendidikan tinggi kita untuk masyarakat? Apakah betul pendidikan kita mampu membangun manusia yang seutuhnya. Saya kira tidak, toh mahasiswa hanya kuliah untuk memperoleh nilai, mengejar IP dan kemudian memperoleh gelar… SKS yang banyak diistilahkan Sistem Kebut Semalam saya kira bukan gurauan, karena bagi mahasiswa yang penting toh nilainya… tidak penting apa yang dipelajari… Setelah ujian, entah apa yang dipelajari… Jangankan punya minat dan antusiasme mempelajari sesuatu, kebanyakan mahasiswa kita tidak tahu apa yang harus dipelajari, dan untuk apa harus mempelajarinya… Betulkah pendidikan kita bermasalah? Ah, tidak… toh kita tetap mewisuda begitu banyak sarjana setiap tahun… Betul, tetapi seharusnya kita cari tahu lebih jauh seberapa tinggi kualitasnya…



Kalau kita mundur ke titik awal dimana seorang anak mulai masuk dunia pendidikan formal, masuk TK… disini adalah titik awal masalah yang sesungguhnya… saat potensi dan talenta manusia yang sedang berkembang dimatikan lewat apa yang diperoleh anak di sekolah. Bagaimana sih seharusnya pendidikan di TK itu? Bagaimana dengan SD? Apa makna sesungguhnya dengan istilah pendidikan dasar? Bukankan di usia dini, di TK dan di SD anak belajar membaca, menulis, belajar berhitung, mengenal musik dan seterusnya… Bukan, sebetulnya yang seharusnya diperoleh anak adalah pengembangan kemampuan untuk belajar. Dimana anak mulai dikenalkan dengan dunia yang harus dieksplorasinya di kemudian hari lewat cara-cara yang sederhana. Dimana anak harus dibangun minatnya untuk bertanya, untuk berpikir kritis, untuk menggali dan mencari tahu tentang lingkungannya. Untuk dibangun minatnya terhadap dunia keilmuan… tentang teknologi sederhana, tentang sains, tentang bahasa dan musik… tentang lingkungan sosialnya… Dan semua ini tidak mungkin dilakukan lewat penjejalan ilmu pengetahuan dari buku-buku paket yang diterima anak sejak dia mulai duduk di bangku sekolah. Bagaimana mungkin minat belajar, kemampuan anak belajar bisa tumbuh apabila alam lingkungan dia yang begitu luar biasa direduksi hanya dalam lembaran-lembaran buku pelajaran yang begitu menyederhanakan dan memilah-milah situasi dunia nyata dimana anak hidup dari hari ke hari. Dimana pelajaran di sekolah, di dalam kelas begitu mengambil jarak dari kenyataan hidupnya sehari-hari. Sekolah akhirnya jadi penjara yang membosankan, membunuh potensi dan antusiasme anak terhadap dunia keilmuan, karena memang tidak bermakna untuk hidupnya sehari-hari… Bayangkan kondisi ini berjalan bertahun-tahun sampai anak menginjak dunia universitas. Bagaimana mungkin anak bisa tumbuh menjadi seorang intelektual yang punya semangat untuk menggali dan mengeksplorasi dunia keilmuannya, bila sudah terpatri bahwa belajar adalah demikian adanya… membosankan dan tidak bermakna… Bahwa belajar adalah memang untuk mencari nilai dan memperoleh tanda kelulusan, hanya itu…



Apa yang dituangkan dalam tulisan ini diharapkan membangun kesadaran tentang pentingnya orang tua menyadari betapa pentingnya pendidikan usia dini dan pendidikan dasar dalam kerangka pendidikan formal seorang anak. Sekolah yang 'salah' bisa sangat membunuh kemampuan anak untuk tumbuh menjadi seorang manusia yang utuh. Dan ini sudah harus menjadi kesadaran orang tua sejak muncul minat untuk memasukkan anaknya ke sebuah sekolah, bahkan untuk jenjang PlayGroup atau Kelompok Bermain sekalipun.

Apabila di tahap awal orang tua berhasil memilihkan sekolah yang tepat, yang bisa membangun kemampuan dan antusiasme anak untuk 'belajar seumur hidup', besar peluang anak akan bisa terus belajar sepanjang hidupnya, walaupun harus berada di luar lingkungan pendidikan formal. Dan sebagai seorang otodidak, dia akan jauh lebih berhasil daripada seorang sarjana yang selama prosesnya di sekolah hanya mengejar nilai…



Bandung, 15 Juni 2003
A Andy Sutioso

tulisan ini pernah dimuat di FORIS buletin edisi khusus pendidikan (Juli 2003)



Free software [knowledge] is a matter of liberty, not price. To understand the concept, you should think of 'free' as in 'free speech', not as in 'free beer'. (fsf)

reborn

Kutip dari: peregrin pada September 11, 2007, 09:02:01 PM
seharusnya Perguruan Tinggi memberanikan diri untuk tidak memberikan ijazah kepada lulusannya.

;D senyam senyum aja deh

skuler

#22
Kutip dari: reborn pada Desember 01, 2006, 09:27:15 PM
Menurut saya pribadi sih, pendidikan memang harus mahal
gaspkat..!!..aku,atas nama, tim mwa km itb 07-08 memandang maslah pendidikan adalah seharusnya digratiskan...
kami lagi nyusun propaganda n gerakan untuk menggratiskan seluruh biaya pendidikan dan menuntut pemerintah untuk mensubsidi peralatan2 pendidikan (such as buku, asrama, etc2)..doain berhasil ya..!?!?... :-*

Kutip dari: reborn pada Februari 10, 2007, 10:42:00 PMJadi masalah pendidikan mahal ini bukan hanya masalah Indonesia ternyata.
coba liat negara2 yg ngaku komunis....toh mreka bisa mendanai pendidikannya...seharusnya:
Kutip'jadi masalah pendidikan mahal ini bukan masalah bagi beberapa negara ternyata'
::)
dana bukan alasan untuk menghindari kewajiban..!..begitu banyak kegiatan ekonomi di indonesia tapi knapa pemerinta gapunya dana? karna negara kerjanya cuman bayar 'bunga' utang doang yang ga abis2nya.!!..smentara liberalisasi ekonomi pasar menjadikan indonesia sebagai negara konsumtif yang ga berpikir untuk produktif...dan mengakibatkan perputaran uang hanya berjumlah kecil didalam negeri dan keuntungan besarnya ditarik lagi keluar negeri ama investornya buat biaya liburan mereka di hawai. sehingga negara menjadi terekayasa gapunya dana.....gmana? spakatkah kawan2?

INGET.!!...UU BHP diujicoba maret..!!..saatnya kita berpikir apakah pendidikan adalah komoditas yang dipasarkan untuk dibeli oleh generasi muda bangsanya sendiri?

kalo propaganda kami uda jadi, aku janji kirimin linknya ke forumsains...ok bro...!!??!..c.u
"Who controls the present now controls the past. Who controls the past now controls the future."-- RATM, 1999.

peregrin

Universitas2 di Malaysia, Korea, China, dan beberapa negara Asia lainnya sekarang mulai dipandang (atau minimal dikenal) di US dan Eropa, karena pemerintah negara2 tsb mulai memberikan dana yg sangat besar utk pendidikan dan riset. Kapan Indonesia?

sukses bro widy  :D
Free software [knowledge] is a matter of liberty, not price. To understand the concept, you should think of 'free' as in 'free speech', not as in 'free beer'. (fsf)

skuler

Kutip dari: peregrin pada Maret 04, 2008, 01:53:18 AM
negara2 tsb mulai memberikan dana yg sangat besar utk pendidikan dan riset. Kapan Indonesia?
nah..!!..itu maksud saya....
analogi:
ktika saya menganggap pacar saya adalah berharga, saya akan melakukan apa saja untuk dia...bahkan untuk tidak tidur..tidak makan...dan tidak ngerokok :D
karna saya berharap banyak dari pacar saya...bahwa dia akan menemani saya jika saya nanti kesepian ato membantu saya jika saya nanti ada kesulitan.
back to topic:
di indonesia, kapan pendidikan dan ilmu pengetahuan akan dianggap berharga?
"Who controls the present now controls the past. Who controls the past now controls the future."-- RATM, 1999.

eky

kapan pendidikan dan pengetahuan dianggap berharga??
ans:
sebenarnya udah dianggap berharga dari dulu kala, tapi Indonesianya aja yang tidak mampu untuk 'menurunkan kepala' untuk sedikit memberikan sokongan bantuan!!

loser1942

utk om skuler, cia yooooo, semangat yaaaaaa, gua dukung 100%!!!!!!!!!

gua emg di kelas nilai IPS gua jelek banget, tapi gua niat banget di bidang IPA, semoga nanti gua bisa kuliah di bidang IPA!!!!!!

maju om skuler!!!!!!!!!!!!!!!
pantang menyerah!!!!!!!!!!!!!!
aku doain om!!!!!!!!!!!!!!

Nabih

Dari pada kita diskusi soal US gini... Jerman gini ... Belanda gini ...


Aku dan kawan2 punya gawe ...
Ada ngga yang punya filosofi keren yang bisa mbangkitin niat anak jalanan buat hidup, belajar mat, english, n komputer
(dengan bahasa yang dimengerti mereka tentunya)

Meskipun kami ngga sanggup menguliahkan mereka, kami ingin mereka cinta belajar, sehingga mereka bisa belajar sendiri, sehingga mereka termotivasi untuk punya keturunan yang cerdas, tidak seperti mereka

loser1942

hmmmm
kalo filosofi gua gak ada, kalo kata2 boleh gak?
kalo kata2 gua gini, ampuh gak ya?

"saudara-saudaraku, mungkin kalian tak pernah dilihat di masyarakat, mungkin kalian tdk mempunyai apa-apa, tapi masih ada beberapa hal yg kalian dpt miliki , yaitu sebuah ILMU PENGETAHUAN!, uang dpt hilang dalam hitungan jam, tapi ilmu pengetahuan tdk akan mudah hilang jika anda mempunyai semangat yg tinggi. bahkan bisa2 ilmu pengetahuan akan abadi di dlm diri kamu."

Nabih

Kutip dari: loser1942 pada Mei 30, 2009, 11:29:44 PM
"saudara-saudaraku, mungkin kalian tak pernah dilihat di masyarakat, mungkin kalian tdk mempunyai apa-apa, tapi masih ada beberapa hal yg kalian dpt miliki , yaitu sebuah ILMU PENGETAHUAN!, uang dpt hilang dalam hitungan jam, tapi ilmu pengetahuan tdk akan mudah hilang jika anda mempunyai semangat yg tinggi. bahkan bisa2 ilmu pengetahuan akan abadi di dlm diri kamu."

I like this, ada lagi ???