Selamat datang di ForSa! Forum diskusi seputar sains, teknologi dan pendidikan Indonesia.

Welcome to Forum Sains Indonesia. Please login or sign up.

April 15, 2024, 12:50:31 PM

Login with username, password and session length

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139,653
  • Total Topik: 10,405
  • Online today: 58
  • Online ever: 1,582
  • (Desember 22, 2022, 06:39:12 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 39
Total: 39

Aku Cinta ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Anda Bertanya Geocentrist Menjawab

Dimulai oleh nʇǝʌ∀, Desember 23, 2014, 01:02:43 AM

« sebelumnya - berikutnya »

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

nʇǝʌ∀

Kutip dari: ytridyrevsielixetuls pada Desember 27, 2014, 08:22:44 PM
Bener kok. solusi yang diciptakan untuk memecahkan paradox itu tidak meliputi "stellar flare" yang seharusnya bisa saja divonis kepada beberapa bintang yang mengalami redshift. jadi nggak cuma berlandaskan Doppler effect. ini pun bisa jadi hipotesa bahwa alam semesta memuai karena energi panas maha besar yang dihasilkan oleh bintang-bintang yang, anehnya, justru teramati merah. kalau soal lubang hitam saya tidak tahu. yang pasti bintang-bintang masih bertebaran banyak di langit dan akan terus ditemukan bintang2 baru, jauh lebih banyak daripada lubang hitam.

coba jelaskan lagi. masih kurang nangkep soalnya.  :D
juga soal alam semesta makin terang and stuff yang anda bicarakan kemarin-kemarin

Kutip dari: Goen pada Januari 07, 2015, 01:21:50 PM
Entahlah, supranatural mungkin. :)

anda punya bukti ilmiah bahwa lubang hitam tidak ada? model lubang hitam dibuat ilmuwan atas dasar observasi ilmiah. tidak terkait supranatural. penggugat lubang hitam hanya menduga ada mekanisme lain pembentuk lubang hitam bukan menyangkal eksistensinya.

Kutip dari: Pi-One pada Januari 07, 2015, 09:32:35 PM
Masih modal quote mining yang sama.
Gak mau peduli kalau ether yang dimaksud Einstein sama sekali beda dengan ether yang dia usung, dan gak ada tuh ether versi Einstein bakal menyeret obyek langit dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya. Wong ide pergerakan saja gak bisa diaplikasikan ke konsep itu...

konsep ether yang dipakai adalah versi Einstein, tapi prinsip gravitasi yang dipakai malah versi Le Sage.
prinsip gravitasi Le Sage sendiri mirip Newton karena membutuhkan massa-massa sebagai penyebab gravitasi. sehingga tidak menjelaskan bagaimana menarik cahaya.

kecuali kalau dikatakan "ether itu substansi unik dan serba bisa" sehingga bukan cuma jadi medium gravitasi saja, tapi juga medium cahaya, gelombang elektromagnetik, massa diam sebesar matahari, air, api, udara, besi, dll... mudah menyeret segalanya tapi mudah dilawan dengan segalanya.

sehingga prinsip gravitasi yang dipakai adalah "Neo-Le Sagenic Gravity" yang memasukkan cahaya sebagai substansi yang dipengaruhi gravitasi.

pada akhirnya tidak ada counter argumen bisa dipakai untuk membatalkan teorinya :D

                |'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''|
       __/""|"|--------nʇǝʌ∀ inc.------|
> (|__|_|!!|__________________|
      (o)!""""""(o)(o)!"""""""""""(o)(o)!

Pi-One

Dalam bahasa sederhana:
Ether = supranatural :D

mhyworld

Kutip dari: Goen pada Desember 28, 2014, 04:55:37 PM
...
Hal ini dikuatkan dengan bintang yang terletak di poros semesta (celestial pole) tidak mengalami redshift, malah tetap blueshift. Bintang Polaris, contohnya. Karena letaknya, bintang polaris tidak berputar secara signifikan untuk menghasilkan centrifugal force yang cukup untuk menggeser spektrum cahayanya ke arah spektrum merah (redshift).
As I said before, bintang Polaris mengalami blueshift karena terletak persis di sumbu semesta. Nilai redshiftnya: -0,000055. Minus berarti blueshift (sumber: [[pranala luar disembunyikan, sila masuk atau daftar.]])

...
Polaris hanya sementara tampak di sumbu rotasi bumi, dan akan mengalami pergeseran karena adanya presesi.
[pranala luar disembunyikan, sila masuk atau daftar.]
[pranala luar disembunyikan, sila masuk atau daftar.]
once we have eternity, everything else can wait

Goen

Kutip dari: nʇǝʌ∀ pada Januari 11, 2015, 01:26:48 PManda punya bukti ilmiah bahwa lubang hitam tidak ada?
Terbalik. Anda punya bukti ilmiah lubang hitam ada? ;D

Kutipmodel lubang hitam dibuat ilmuwan atas dasar observasi ilmiah.
Ups, Anda keliru. Konsep lubang hitam ditemukan tidak disengaja. Dimana? Di dalam dunia matematika Einstein. It's not for real. ;D

Ceritanya, Karl Schwarzschild lagi otak-atik persamaan Einstein dan menemukan bahwa di dalam persamaan itu bisa menghasilkan black hole. Atau singularitas ruang waktu. Jadi, bukan atas dasar observasi ilmiah.

"Black holes were first discovered as purely mathematical solutions of Einsteins's field equations. This solution, the Schwarzchild black hole, is a nonlinear solution of the Einstein equations of General Relativity. It contains no matter, and exists forever in an asymptotically flat space-time." [Dictionary of Geophysics, Astrophysics and Astronomy, 2011]

Kutiptidak terkait supranatural. penggugat lubang hitam hanya menduga ada mekanisme lain pembentuk lubang hitam bukan menyangkal eksistensinya.
Blackhole dan sejenisnya itu supranatural, meskipun dibungkus sains. Idenya memang bagus untuk mengilhami pembuatan film. Interstellar, contohnya. Ratingnya tinggi, lho, di IMDB nilainya 8,9. Ck..ck..ck...

[pranala luar disembunyikan, sila masuk atau daftar.]

Publik sebagian besar memang masih suka hal-hal yang berbau supranatural. ;D

Note: Saya juga suka film Interstellar. ;D

Kutipkonsep ether yang dipakai adalah versi Einstein, tapi prinsip gravitasi yang dipakai malah versi Le Sage.
Anda salah paham. ;D

Ini bermula ketika heliocentrist berkoar-koar bahwa ether itu tidak ada berdasarkan percobaan Michelson-Morley yang gagal mendeteksi pergerakan bumi di dalam luminiferous ether. Untuk menjawab eksperimen ini, Einstein menciptakan teori Relativitas Khusus. Beliau berkata:

"The introduction of a luminiferous ether will prove to be superfluous, because the view here to be developed will introduce neither a 'space at absolute rest' provided with special properties, nor assign a velocity vector to a point of empty space in which electromagnetic processes take place." ["Zur Elektrodynamik bewegter Körper," Annalen der Physik, 26 Sep 1905]

Perkataan Einstein di tahun 1905 inilah yang dicatut oleh heliocentrists. Jadi, saya terpaksa berbicara dalam sudut pandang Einstein sendiri perihal ether untuk menjawab heliocentrists, bukan sudut pandang gravitasi Le Sage. Geocentrists tidak memakai konsep Relativitas SAMA SEKALI. Geocentrist memandang Relativitas itu omong-kosong. Geocentrist masih lebih respek dengan Newtonian Physics ketimbang Relativitas.

Intinya, saya cuma menunjukkan bahwa Einstein kemudian meralat pernyataannya perihal ether ketika beliau menciptakan teori Relativitas Umum. Einstein bilang:

"...in 1905 I was of the opinion that it was no longer allowed to speak about the ether in physics. This opinion, however, was too radical, as we will see later when we discuss the general theory of relativity. It does remain allowed, as always, to introduce a medium filling all space and to assume that the electromagnetic fields (and matter as well) are its states..." ["Grundgedanken und Methoden der Relativitätstheorie in ihrer Entwicklung dargestellt," Morgan Manuscript, EA 2070]

Kutipprinsip gravitasi Le Sage sendiri mirip Newton karena membutuhkan massa-massa sebagai penyebab gravitasi. sehingga tidak menjelaskan bagaimana menarik cahaya.
Anda menjawabnya sendiri di bawah.

Kutipkecuali kalau dikatakan "ether itu substansi unik dan serba bisa" sehingga bukan cuma jadi medium gravitasi saja, tapi juga medium cahaya, gelombang elektromagnetik, massa diam sebesar matahari, air, api, udara, besi, dll... mudah menyeret segalanya tapi mudah dilawan dengan segalanya.
Ya, inilah jawabannya.

Kutipsehingga prinsip gravitasi yang dipakai adalah "Neo-Le Sagenic Gravity" yang memasukkan cahaya sebagai substansi yang dipengaruhi gravitasi.
Boleh saja dikatakan begitu. Tidak masalah.

Kutippada akhirnya tidak ada counter argumen bisa dipakai untuk membatalkan teorinya :D
Maksudnya?

Kutip dari: mhyworld pada Januari 12, 2015, 11:30:20 AM
Polaris hanya sementara tampak di sumbu rotasi bumi, dan akan mengalami pergeseran karena adanya presesi.
[pranala luar disembunyikan, sila masuk atau daftar.]
[pranala luar disembunyikan, sila masuk atau daftar.]
Itu sebabnya saya sebutkan disitu CELESTIAL POLE, bukan EARTH POLE.

Semesta dalam geocentric itu, bergerak "wobble" naik-turun sebesar 23,5 derajat. Kebalikan dari sistem heliocentric.

ytridyrevsielixetuls

Kutip dari: Goen pada Januari 07, 2015, 01:21:50 PM
Saya masih mempelajari beberapa jurnal yang melibatkan perputaran untuk redshift. Selama ini baru ada keterkaitan dengan kecepatan sudut, belum centrifugal force. Namun, hal ini cukup menjanjikan karena ada beberapa eksperimen yang menunjukkan bahwa perputaran dapat menyebabkan blue/redshift seperti eksperimen Mössbauer (1958), Hay dkk.(1960), Champeney dkk. (1963, 1965), Kündig (1963) [Sumber: [pranala luar disembunyikan, sila masuk atau daftar.]]

saya sendiri masih mempelajari bahwa redshift diluar faktor Doppler effect dan gravitasi bisa juga disebabkan karena elektron bebas dengan densitas tinggi pada bintang. tapi kepercayaan ini masih baru saya kenali. mudah-mudahan saya nggak salah tafsir.

Kutip dari: Goen pada Januari 07, 2015, 01:21:50 PM
Bintang-bintang di pole celestial tidak bisa menggugat Copernican Principle.

Berarti yang ini bukan penggugat copernican principle?

KutipKedua, karena semesta geocentric itu seperti bola besar yang berputar, pada bagian sumbu kutub utara atau selatan semesta tidak mengalami perputaran yang signifikan. Akibatnya, gaya sentrifugal yang keluar terlalu kecil untuk menghasilkan redshift. Di sini, redshift akan bernilai nol atau bahkan terjadi blueshift. Sebagaimana hal ini terjadi pada bintang Polaris yang malah mengalami blueshift sebesar -16,85 Km/det.

http://www.forumsains.com/fisika/usulan-percobaan-pembuktian-bahwa-bumi-berotasi/msg143468/#msg143468

di post anda tsb, anda menyodorkan 4 penggugat copernican principle. sekarang jadi 3 ya?

Kutip dari: Goen pada Januari 07, 2015, 01:21:50 PM
Pertanyaan berikut saya anggap dalam geocentric, ya.

Setelah umur bintang habis, ya, massa dan volumenya juga ikutan habis.

Kutip dari: Goen pada Januari 07, 2015, 01:21:50 PM
Bintang yang sudah mati banyak. Jumlah bintang dalam geocentric terbatas.

OK, berarti jelas ya dalam geocentrism, body-body atau massa-massa di alam semesta jumlahnya terbatas dan terus berkurang atau lenyap.

Kutip dari: Goen pada Januari 07, 2015, 01:21:50 PM
Tidak tahu. Tapi, yang jelas tidak sebesar klaim sains sekarang (sampai miliaran tahun cahaya).

Dalam Islam Geocentrism (ingat, -ism), semesta ada 7 lapis. Jarak pusat ke langit pertama 500 tahun cahaya, tebal lapisan pertama 500 tahun cahaya. Jarak langit pertama ke langit ke dua 500 tahun cahaya, tebal lapisan kedua 500 tahun cahaya. Begitu terus sampai langit ketujuh. Jadi jaraknya sekitar (500 x 7 x 2) = 7000 tahun cahaya.

Berarti pergi ke langit ketujuh memang benar-benar pergi keluar angkasa. Ke luar angkasa tentu tidak bisa dengan sayap seperti sayap burung kan? Karena sayap burung digunakan untuk memompa udara ke bawah. Ingat hukum Newton. dan tentu saja manusia tak bisa keluar angkasa tanpa kendaraan dan pakaian pelindung.

BTW setahu saya itu tidak pakai "cahaya". hanya "tahun" saja. dan bukan "tahun cahaya".

Kutip dari: Goen pada Januari 07, 2015, 01:21:50 PM
Tidak percaya.

Tidak percaya? Bukankah cocok kalau alam semesta terang benderang dan panas karena kebanyakan bintang dihubungkan dengan kepercayaan terhadap padang mahsyar?

Kutip dari: Goen pada Januari 07, 2015, 01:21:50 PM
Entahlah, supranatural mungkin. :)

Semua ilmuwan yang menggugat atau merevisi model black hole, termasuk Hawking, tidak pernah membuktikan black hole tidak ada. Mereka hanya berpendapat black hole tidak seperti yang selama ini digambarkan. ada yang bilang perlu mekanisme lain selain supernova, ada yang bilang tak perlu singularitas, ada yang bilang materi bisa saja keluar. Tapi intinya tetap saja, ada kekuatan penarik super besar di luar angkasa ini yang menyedot bintang dan materi lainnya. dan itu didukung observasi ilmiah.

Kutip dari: Goen pada Januari 07, 2015, 01:21:50 PM
Tidak tahu.

Dalam Samawi Geocentrism (tidak hanya Islam), di balik semesta ada elemen air. Sama halnya dengan lapisan langit, elemen air ini transparan. Tidak ada warna.

OK, berarti dengan demikian, arsy itu ada di balik air yang membungkus alam semesta 'bola' kita.
artinya kerajaan Tuhan satu dimensi dengan planet bumi, karena intinya kalau ingin ke akherat tinggal pergi menembus tepian alam semesta saja dan air yang membungkusnya.
dan artinya juga, kerajaan Tuhan itu bentuknya 3 dimensi, begitu juga dengan singgasana-Nya.
[move]
     -/"|           -/"|           -/"|
<(O)}D     <(O)}D     <(O)}D
     -\_|          -\_|           -\_|

ytridyrevsielixetuls

Kutip dari: nʇǝʌ∀ pada Januari 11, 2015, 01:26:48 PM
coba jelaskan lagi. masih kurang nangkep soalnya.  :D
juga soal alam semesta makin terang and stuff yang anda bicarakan kemarin-kemarin

Redshift selain karena efek Doppler juga bisa karena gravitasi. Tapi menurut saya, redshift juga bisa disebabkan oleh stellar flare (sebutan solar flafe untuk semua bintang). jadi tidak harus menghasilkan blueshift. Justru karena energi panas maha dahsyat juga bisa menghasilkan energi berwarna merah. Kenapa bisa begitu? Karena densitas elektron bebas yang tinggi yang ada di dalam bintang. Jumlah elektron yang berkumpul dan merapat karena gaya sentripetal bisa tak terbatas, mungkin terbatas tapi bisa sangat banyak. jadi redshift pada matahari bukan karena dia bergerak mengelilingi pusat massa alam semesta versi geocentris. lagipula, kata siapa redshift bintang dalam tata surya kita, dalam hal ini, matahari, dihitung dengan formula yang sama dengan bintang2 jutaan-milyaran tahun cahaya ? toh di mata kita juga keliatan si matahari ini selalu merah dan kuning nggak perduli sedang solar flare apa nggak.

untuk alam semesta makin terang.
Ada beberapa alasan mengapa alam semesta akan makin terang :

1. Bintang solo. Bintang yang tak punya galaksi sendiri. Baik itu yang terbentuk dari sumbu putaran di "vakum" (baik itu dari partikel sisa ledakan bintang, tabrakan galaksi, dll) maupun yang lepas dari galaksi. Bintang solo bisa bergerak ke mana-mana tanpa terikat galaksi sehingga radiasi cahaya yang terpancarkan ke alam semesta lebih bebas dari pengaruh gravitasi benda langit.

2. Siklus bintang. Ketika sebuah bintang meledak, sebagian radiasi yang dilepaskannya akan berkumpul dengan radiasi bintang lain atau partikel bebas di luar angkasa, menciptakan sumbu putar dan akhirnya muncul bintang baru. Tidak semua bintang mati jadi bintang lagi. Ada yang jadi black hole atau white dan brown draft. Dan akhirnya lenyap total. (Dan itupun masih ada yang lahir bintang lagi dari radiasi sisa bintang yang lenyap. Bergabung dengan partikel dari sumber lain).

3. Atas alasan yang sama, galaksi pun juga begitu. Setelah lenyap, akan muncul galaksi baru. Berarti akan muncul banyak bintang baru yang mana artinya muncul banyak sumber cahaya baru.

4. Di alam semesta ini ada banyak sekali sumber cahaya ultraviolet. Bintang, quasar, gas yang terionisasi, dll. Proses itu akan terus berkelanjutan hingga seluruh alam semesta benar-benar terang dan panas. Manusia tak bisa menghindar lagi.
[move]
     -/"|           -/"|           -/"|
<(O)}D     <(O)}D     <(O)}D
     -\_|          -\_|           -\_|

ytridyrevsielixetuls

Kutip dari: nʇǝʌ∀ pada Januari 11, 2015, 01:26:48 PM
........."ether itu substansi unik dan serba bisa" sehingga bukan cuma jadi medium gravitasi saja, tapi juga medium cahaya, gelombang elektromagnetik, massa diam sebesar matahari, air, api, udara, besi, dll... mudah menyeret segalanya tapi mudah dilawan dengan segalanya.
........
pada akhirnya tidak ada counter argumen bisa dipakai untuk membatalkan teorinya :D

itu yang tempo hari saya bilang, argumen jalan pintas. kalau sains menunjukkan keanehan pada klaim eksistensi black hole, ya tinggal bilang saja ada "kan ada ether, substansi serba bisa". bisa juga kita ganti saja kata ether dengan aura, roh peri, kekuatan kegelapan, dsb. ether bahasa sains. aura bahasa mistik. kita bisa klaim ini bukti ilmiah tak terbantahkan. black hole jadi bukan supranatural lagi.
[move]
     -/"|           -/"|           -/"|
<(O)}D     <(O)}D     <(O)}D
     -\_|          -\_|           -\_|

Goen

Kutip dari: ytridyrevsielixetuls pada Januari 12, 2015, 09:14:26 PMsaya sendiri masih mempelajari bahwa redshift diluar faktor Doppler effect dan gravitasi bisa juga disebabkan karena elektron bebas dengan densitas tinggi pada bintang. tapi kepercayaan ini masih baru saya kenali. mudah-mudahan saya nggak salah tafsir.
Compton effect?

KutipBerarti yang ini bukan penggugat copernican principle?

KutipKedua, karena semesta geocentric itu seperti bola besar yang berputar, pada bagian sumbu kutub utara atau selatan semesta tidak mengalami perputaran yang signifikan. Akibatnya, gaya sentrifugal yang keluar terlalu kecil untuk menghasilkan redshift. Di sini, redshift akan bernilai nol atau bahkan terjadi blueshift. Sebagaimana hal ini terjadi pada bintang Polaris yang malah mengalami blueshift sebesar -16,85 Km/det.
Bukan.

Kutiphttp://www.forumsains.com/fisika/usulan-percobaan-pembuktian-bahwa-bumi-berotasi/msg143468/#msg143468

di post anda tsb, anda menyodorkan 4 penggugat copernican principle. sekarang jadi 3 ya?
Anda salah paham. ;D

Empat hal yang saya sebutkan di bawah ini:

1. Eksperimen Pound Rebka.
2. Bintang di celestial pole.
3. Spiral galaxies handedness.
4. Axis of evil.

Adalah untuk menyokong klaim saya mengenai semesta yang berputar (Spinning Universe). Bukan untuk menggugat copernican principle. Hanya nomor 3 dan 4 yang menggugat langsung Copernican Principle. Karena pada nomor 3 dan 4 itu menunjukkan bahwa semesta ternyata tidak homogeneous seperti yang diinginkan Copernican Principle.

Sebenarnya ada beberapa hal lagi yang mendukung klaim Spinning Universe. Salah satunya Pioneer Anomaly.

Tapi, yah, memang pada ujungnya jika klaim Spinning Universe benar maka Copernican Principle otomatis salah. Tapi, untuk sampai ke sana harus dibuktikan dulu dan diterima oleh seluruh scientist bahwa Spinning Universe itu benar.

KutipOK, berarti jelas ya dalam geocentrism, body-body atau massa-massa di alam semesta jumlahnya terbatas dan terus berkurang atau lenyap.
Iya.

KutipBerarti pergi ke langit ketujuh memang benar-benar pergi keluar angkasa. Ke luar angkasa tentu tidak bisa dengan sayap seperti sayap burung kan? Karena sayap burung digunakan untuk memompa udara ke bawah. Ingat hukum Newton. dan tentu saja manusia tak bisa keluar angkasa tanpa kendaraan dan pakaian pelindung.
Ini ngomongin Bouraq, ya? Bouraq bukan burung. ;D

Dan bicara hal gaib, saya hanya mengimaninya saja sebagaimana tercantum dalam nash-nash yang shahih.

KutipBTW setahu saya itu tidak pakai "cahaya". hanya "tahun" saja. dan bukan "tahun cahaya".
Benar. Memang hanya disebutkan tahun saja. Tepatnya, 500 tahun perjalanan. Tidak ada penjelasan mengenai tahun perjalanan apa. Bisa perjalanan kuda, unta, burung, kapal laut, angin dan sebagainya. Seperti layaknya variabel, bisa diisi nilai berapa pun.

Berhubung pertanyaan anda, "Berapa tahun cahaya?" Ya, saya isi saja variabel itu dengan tahun cahaya. Namanya juga cocoklogi. ;D

Tapi, seperti jawaban saya sebelumnya, saya sudah bilang, "Tidak tahu."

Yang saya imani, hanya 500 tahun perjalanan dari ini ke itu dan seterusnya dan seterusnya.

KutipTidak percaya? Bukankah cocok kalau alam semesta terang benderang dan panas karena kebanyakan bintang dihubungkan dengan kepercayaan terhadap padang mahsyar?
Cocoklogi, dong, namanya? ;D

Padang masyhar itu 'kan setelah kiamat. ;D

KutipSemua ilmuwan yang menggugat atau merevisi model black hole, termasuk Hawking, tidak pernah membuktikan black hole tidak ada. Mereka hanya berpendapat black hole tidak seperti yang selama ini digambarkan. ada yang bilang perlu mekanisme lain selain supernova, ada yang bilang tak perlu singularitas, ada yang bilang materi bisa saja keluar. Tapi intinya tetap saja, ada kekuatan penarik super besar di luar angkasa ini yang menyedot bintang dan materi lainnya. dan itu didukung observasi ilmiah.
Saya penasaran sekali soal klaim Anda, "Didukung observasi ilmiah." Boleh saya dibantu seperti apa observasi ilmiah itu?

KutipOK, berarti dengan demikian, arsy itu ada di balik air yang membungkus alam semesta 'bola' kita.
artinya kerajaan Tuhan satu dimensi dengan planet bumi, karena intinya kalau ingin ke akherat tinggal pergi menembus tepian alam semesta saja dan air yang membungkusnya.
dan artinya juga, kerajaan Tuhan itu bentuknya 3 dimensi, begitu juga dengan singgasana-Nya.
Dalam Islam, konsep ruang atau dimensi itu hanya dari 'Arsy ke bawah, berarti termasuk tujuh langit sampai ke bumi. Selain itu, nothingness atau ketiadaan. Nah, di situlah Tuhan berada.

Pi-One

Sudah jelas-jelas mencampuradukkan supranatural dalam sains, sudah jadi lelucon ini.

Fariz Abdullah

Wah kok jadi belok ke agama..Tidak soal jika Goen motivasi awalnya adalah supranatural..sepanjang argumennya dibangun atas dasar science ya gak masalah..Apakah geocentrism bisa dipatahkan secara science? Atau kita sepakat bahwa Heliocentrism maupun Geocentrism adalah model dependent realism yang dua dua nya tidak bisa didisprove? Jika demikian ya terserah setiap orang untuk memilih model mana disukai atau dianggap lebih simple..Kalau urusan suka gak suka ya lebih subyektif..Mau supranatural kek atau motif agama kek..

Kembali ke Geocentrism..bisa gak didisprove? Silakan dilanjut..
[move]DOUBT EVERYTHING AND FIND YOUR OWN LIGHT[/move]

Pi-One

Kutip dari: Fariz Abdullah pada Januari 13, 2015, 10:28:29 PMApakah geocentrism bisa dipatahkan secara science?
Terbalik, pertanyaannya mestinya apakah Geocentrism bisa dijabarkan secara ilmiah.
Kalau modal quote mining, nolak teori yang lebih baru semata karena gak cocok dengan pandangan dia, juga nolak data yang lebih baru dengan dalih yang sama, lalu makai supranatural untuk menjawab hal yang gak masuk akal atau gak diketahui, apa yang mau diharap?

ytridyrevsielixetuls

Kutip dari: Goen pada Januari 13, 2015, 02:30:34 PM
Compton effect?

Sepertinya. Masih sedikit yang saya tahu. Saja juga lagi mencari-tahu alasan mengapa bintang-bintang pada distant galaxies divonis berbeda oleh para ilmuwan mainstream. Dan kenapa tidak blur penampakannya. Sebenarnya ada 2 solusi disebutkan di Wikipedia. Cuma saya masih belum paham. Compton effect sendiri malah bisa dipakai sebagai alasan pembenaran alam semesta terbatas.

Kutip dari: Goen pada Januari 13, 2015, 02:30:34 PM
Sebenarnya ada beberapa hal lagi yang mendukung klaim Spinning Universe. Salah satunya Pioneer Anomaly.

Baru dengar Pioneer Anomaly. Pas di google malah langsung ketemu "Pioneer Anomaly solved". Masih belum paham tapi. Menurut anda sudah solved belum?

Kutip dari: Goen pada Januari 13, 2015, 02:30:34 PM
Iya.

Baiklah. Ke pertanyaan lain. Apakah ether itu penuh mengisi alam semesta atau tidak? Dan apakah dia bisa berubah jadi massa atau massa berubah jadi ether?

Kutip dari: Goen pada Januari 13, 2015, 02:30:34 PM
Ini ngomongin Bouraq, ya? Bouraq bukan burung. ;D

Dan bicara hal gaib, saya hanya mengimaninya saja sebagaimana tercantum dalam nash-nash yang shahih.

Kan saya bilang sayap seperti sayap burung. Prinsipnya tetap sama. Pakai Newtonian. Masak pake awan kintoun. ;D

OK, jadi intinya ke langit ketujuh itu keluar angkasa ya.
Sekarang ke pertanyaan lain...

Kutip dari: Goen pada Januari 13, 2015, 02:30:34 PM
Benar. Memang hanya disebutkan tahun saja. Tepatnya, 500 tahun perjalanan. Tidak ada penjelasan mengenai tahun perjalanan apa. Bisa perjalanan kuda, unta, burung, kapal laut, angin dan sebagainya. Seperti layaknya variabel, bisa diisi nilai berapa pun.

Berhubung pertanyaan anda, "Berapa tahun cahaya?" Ya, saya isi saja variabel itu dengan tahun cahaya. Namanya juga cocoklogi. ;D

Tapi, seperti jawaban saya sebelumnya, saya sudah bilang, "Tidak tahu."

Yang saya imani, hanya 500 tahun perjalanan dari ini ke itu dan seterusnya dan seterusnya.

...Nah pertanyaan selanjutnya, berapa kecepatan cahaya?

Kutip dari: Goen pada Januari 13, 2015, 02:30:34 PM
Cocoklogi, dong, namanya? ;D

Padang masyhar itu 'kan setelah kiamat. ;D

Ya nggak apa-apa. Masih cocok kok. Gravitasi dan gaya sentripugal bintang2 yang ada dimana-mana di alam semesta itulah yang bikin kiamat. Alam semesta berantakan. Pas manusia dibangkitkan, tinggal radiasi panas bintang2 tsb yang dirasakan. Tapi yang beriman akan dipayungi oleh ether. Jadi nggak kepanasan. ;D

Ether ada dimana-mana dan serba bisa. Tuhan ada dimana-mana dan serba bisa.
Bagi yang percaya pada-Nya akan mendapat perlindungan dari-Nya, bukan?

Kutip dari: Goen pada Januari 13, 2015, 02:30:34 PM
Saya penasaran sekali soal klaim Anda, "Didukung observasi ilmiah." Boleh saya dibantu seperti apa observasi ilmiah itu?

Bukti black hole ada lewat observasi ilmiah kan ada dimana-mana. Mungkin pengetahuan ilmuwan akan black hole masih belum sempurna dan masih masih ada paradox. Tapi tinggal didalami saja lagi. Siapa tahu ada mekanisme baru. Tapi observasi ilmiah jelas mengindikasikan ada kekuatan super besar penarik benda/materi di luar angkasa sana melebihi gravitasi bintang. Mereka menyebutnya black hole.

[pranala luar disembunyikan, sila masuk atau daftar.]

Kutip dari: Goen pada Januari 13, 2015, 02:30:34 PM
Dalam Islam, konsep ruang atau dimensi itu hanya dari 'Arsy ke bawah, berarti termasuk tujuh langit sampai ke bumi. Selain itu, nothingness atau ketiadaan. Nah, di situlah Tuhan berada.

Konsep alam semesta yang anda yakini itu kan 3 dimensi. Apakah langit ketujuh itu tidak dibungkus oleh apa-apa?
[move]
     -/"|           -/"|           -/"|
<(O)}D     <(O)}D     <(O)}D
     -\_|          -\_|           -\_|

ytridyrevsielixetuls

#42
Oh ya bagi yang merasa kurang jelas pada diskusi ini... mari sejenak kita renungkan :D

Teori-teori sains mainstream seperti Big Bang, Expanding Universe Theory, dan Copernican Principle tidak diterima oleh sebagian ilmuwan dan penyuka fisika/astronomi-kosmologi. Ketiga teori itu "satu paket". Karena digunakan penganutnya dari kalangan ilmuwan untuk saling mendukung satu sama lain.

Umumnya orang awam fisika/astronomi-kosmologi kalau ditanya :

"Mengapa alam semesta dianggap mengembang?"

Jawab mereka simple :

"Karena bintang-bintang bergerak ke spektrum merah (mengalami redshift), alias karena Doppler effect".

Tapi terus kalau ditanya :

"Ada beberapa sebab mengapa bintang mengalami redshift. Kalau matahari pastinya bukan karena faktor gravitasi karena hitungannya tidak cukup. Dan anda tidak percaya itu karena faktor Doppler effect karena anda tidak percaya matahari bergerak menjauhi bumi. Jadi karena apa?"

Jawabnya mungkin seperti ini :

"Karena densitas elektron pada matahari. Terjadi ketika solar flare."

Terus kalau ditanya :

"Lalu kenapa alasan itu atau gravitasi tidak berlaku pada distant galaxies? Malah selalu Doppler effect yang dipakai? Memang semua bintang disana redshift pasti gara-gara Doppler effect? Memukul rata milyaran bintang?"

Jawab mereka :

"karena alam semesta mengembang. Jadi bintang-bintang itu ikut tertarik menjauhi pengamat sehingga mengalami redshift."

Tanya lagi :

"Tahu darimana alam semesta mengembang?"

Lihat masalahnya kan? A menyebabkan B dan B menyebabkan A.
Doppler effect pada bintang digunakan untuk menilai benda langit yang bergerak mendekat/menjauhi pengamat. Dalam hal ini teleskop. Dengan demikian matahari tidak dimasukkan ke dalam Doppler effect karena tidak dianggap menjauhi bumi. Artinya diyakini dulu alam semesta mengembang. Dengan demikian pengembangan alam semesta itulah yang menyebakan mengapa faktor Doppler effect yang dipakai ketika menilai red shift bintang2 distant galaxies. Mereka diperlakukan berbeda daripada matahari. Tapi ketika ditanya kenapa alam semesta mengembang, malah balik mengatakan red shift Doppler effect sebagai penyebabnya. Jadi siapa yang jadi penyebab dan siapa yang jadi akibat?

Apa yang sebenarnya terjadi?

Alam semesta mengembang itu hipotesa lewat pengamatan teleskop raksasa dan sebagai hasil observasi yang mengarah pada Big Bang. Namun pengamatan terhadap bintang2 distant galaxies itu tidak memperlihatkan cahayanya "blur" atau gangguan penglihatan lainnya. Pengamat meyakini cahaya dari bintang distant galaxies merambat ke penglihatan pengamat dalam ruang angkasa yang vakum absolut. Again, meyakini.

Pertanyaannya, apakah cahaya itu yang bergerak jutaan/milyaran/trilyunan tahun cahaya pasti sampai dengan "selamat" ke lokasi yang dijangkau oleh penglihatan teleskop ? Padahal jarak itu akan semakin jauh karena bintang2 tsb dipercaya bergerak menjauh dari pengamat bahkan hingga melebihi kecepatan cahaya! Nah, kan diyakini ruang yang ditempuh cahaya itu vakum absolut. Jadi mereka percaya, ruang angkasa yang dilalui cahaya yang berjarak jutaan atau milyaran atau bahkan trilyunan tahun cahaya itu tidak berisi materi apapun yang mempendarkannya!

Menurut teori Tired Light, cahaya bintang2 distant galaxies tsb selama perjalanan pasti akan menemui dan melalui partikel2 yang mempendarkannya. Karena menurutnya, mustahil ruang angkasa yang dilalui cahaya tsb yang berjarak dan selebar jutaan/milyaran/trilyunan tahun cahaya tidak terisi materi atau partikel sama sekali. Sama seperti atmosfer kita yang dipenuhi partikel aerosol seperti Nitrogen dan Oksigen yang mempendarkan cahaya. jadi seharusnya cahaya itu benar-benar "tercecer" atau bahkan tidak sampai pengamat (apalagi kalau galaksi2 tsb makin menjauhi pengamat melebihi kecepatan cahaya). Mengapa di luar angkasa, cahaya tsb tidak bertemu partikel2 semacam itu sama sekali? (partikel yang mempendarkan/meleburkan cahaya. tidak harus oksigen dan nitrogen)

Namun tentu saja teori itu ditolak oleh penganut Big Bang, Expanding Universe, dan Copernican Principle. TAPI masalahnya, kalau anda tidak percaya ada tempat istimewa di alam semesta, kenapa anda percaya ruang angkasa nun jauh dan luas di sana vakum absolut sedangkan ruang angkasa di tata surya kita tidak ?

Geocentrist menawarkan teorinya sebagai penjawab paradox tsb. Menurut geocentrist, alam semesta terbatas, bumi diam, dll. Motifnya memang iman. Tapi sebenarnya setiap teori itu ada paradoxnya tidak terkecuali geocentrism sendiri. Tinggal anda mau yang mana. Tapi soal bukti, heliocentrism punya lebih banyak.

Saya sendiri tetap berpaham heliocentrism tapi hanya dalam cakupan tata surya. Menurut saya bumi itu mengelilingi pusat massa yang dekat sekali dengan matahari sehingga jadi mengelilingi matahari (jadi cukup dikatakan : bumi mengelilingi matahari). Untuk cakupan alam semesta saya punya teori sendiri namanya fairycentrism. ;D Dan saya masih percaya black hole.

[move]
     -/"|           -/"|           -/"|
<(O)}D     <(O)}D     <(O)}D
     -\_|          -\_|           -\_|

Pi-One

Kutip dari: ytridyrevsielixetuls pada Januari 14, 2015, 09:06:40 PM
Oh ya bagi yang merasa kurang jelas pada diskusi ini... mari sejenak kita renungkan :D

Teori-teori sains mainstream seperti Big Bang, Expanding Universe Theory, dan Copernican Principle tidak diterima oleh sebagian ilmuwan dan penyuka fisika/astronomi-kosmologi. Ketiga teori itu "satu paket". Karena digunakan penganutnya dari kalangan ilmuwan untuk saling mendukung satu sama lain.
Penganut...
Macam aliran kepercayaan aja...

Kutip dari: ytridyrevsielixetuls pada Januari 14, 2015, 09:06:40 PM"Karena bintang-bintang bergerak ke spektrum merah (mengalami redshift), alias karena Doppler effect".
Alih-alih bintang, lebih cocok dibilang galaksi.

Kutip dari: ytridyrevsielixetuls pada Januari 14, 2015, 09:06:40 PMPengamat meyakini cahaya dari bintang distant galaxies merambat ke penglihatan pengamat dalam ruang angkasa yang vakum absolut. Again, meyakini.
Meyakini apa?
Sedang kondisi absolut vakum itu tak bisa ditemukan di alam semesta. Di luar angkasa sekalipun.
Ahli fisika, astronom dan kosmolog pasti tahu itu.
Jadi, kepercayaan ruang angkasa itu vakum itu milik siapa?

Goen

Kutip dari: ytridyrevsielixetuls pada Januari 14, 2015, 08:51:45 PMSepertinya. Masih sedikit yang saya tahu. Saja juga lagi mencari-tahu alasan mengapa bintang-bintang pada distant galaxies divonis berbeda oleh para ilmuwan mainstream. Dan kenapa tidak blur penampakannya. Sebenarnya ada 2 solusi disebutkan di Wikipedia. Cuma saya masih belum paham. Compton effect sendiri malah bisa dipakai sebagai alasan pembenaran alam semesta terbatas.
Great. You did your homework. ;D

Compton Effect (atau Tired Light) sudah tereliminasi dari kemungkinan penyebab redshift-nya galaksi-galaksi. Sebabnya, karena tidak dukung oleh observasi ilmiah. Di antaranya, seperti yang Anda katakan sendiri, galaksi redshift nun jauh di sana tidak terlihat blur dari teleskop.

Dalam laboratorium, Compton Effect atau Compton Scattering memang menyebabkan redshift, tapi juga menyebabkan foton mengalami perubahan orientasi. Sehingga, cahaya yang mengalami Compton Effect akan menyemburat kemana-mana. Layaknya, melihat cahaya dari kaca yang terkena uap.

Tambah lagi, sudah ada observasi terhadap objek bercahaya yang melalui galaxy's dense medium. Tapi, tidak ada penambahan redshit sama sekali. Sebagaimana dikatakan oleh Halton Arp:

The first is that as we look to lower galactic latitudes in our own galaxy, we see objects through an increasing density of gas and dust until they are almost totally obscured. No increase of redshift has ever been demonstrated for objects seen through this increased amount of material. [Seeing Red, hal. 97]

KutipBaru dengar Pioneer Anomaly. Pas di google malah langsung ketemu "Pioneer Anomaly solved". Masih belum paham tapi. Menurut anda sudah solved belum?
Belum. Masih misteri.

Jadi, begini. Kita tahu, baik Newtonian Physics maupun Relativity, makin jauh dari suatu massa maka makin lemah gravitasinya. Dalam Newtonian Physics dikenal sebagai Inverse Square Law, atau Hukum Akar Kuadrat.

Nah, Pioneer ini kakak-beradik, Pioneer 10 dan Pioneer 11. Diluncurkan di tahun yang berbeda, 1972 dan 1973. Saat ini posisi mereka sudah keluar dari tata surya kita. Tapi anehnya, kedua Pioneer ini mengalami perlambatan seolah-olah gravitasi matahari dari tata surya semakin kuat. Aneh, bukan?

Besar perlambatan yang tercatat dari keduanya adalah sekitar 8E-8 cm/det^2.

Nah, Pioneer Anomaly inilah yang saya maksud mendukung klaim saya untuk Spinning Universe. Karena efek dari Spinning Universe selain redshift-nya distant galaxies adalah gaya sentripetal yang diterima semua massa di dalam semesta, tidak terkecuali dengan Pioneer. Maka tidak mengherankan Pioneer melambat.

KutipBaiklah. Ke pertanyaan lain. Apakah ether itu penuh mengisi alam semesta atau tidak?
Iya, bahkan sampai level quantum.

KutipDan apakah dia bisa berubah jadi massa atau massa berubah jadi ether?
Ether itu objek TER-kecil. Dialah subnya sub-sub...-sub partikel yang sudah tak bisa lagi dibagi-bagi. Otomatis, punya massa.

Dulu orang bilang materi tersusun atas atom-atom. Atom di bagi-bagi lagi jadi proton, neutron, elektron. Proton dkk di bagi-bagi lagi menjadi fermion, boson dan semacamnya. Ether adalah objek terakhir yang tak bisa dibagi lagi.

Dengan binding energy yang tepat tentu akan tersusun sub-sub partikel di atasnya, dan seterusnya, dan seterusnya. Begitu pula sebaliknya dengan release energy yang tepat dia dapat di bagi lagi menjadi sub-sub partikel di bawahnya.

Kutip...Nah pertanyaan selanjutnya, berapa kecepatan cahaya?
Like I said before, "Tidak tahu."

Yang jelas, tidak sebesar klaim ilmuwan sekarang yang katanya 13,5 miliar tahun cahaya.

KutipEther ada dimana-mana dan serba bisa. Tuhan ada dimana-mana dan serba bisa.
Bagi yang percaya pada-Nya akan mendapat perlindungan dari-Nya, bukan?
Kok, jadi malah nyamain ether dengan Tuhan. ;D

Dalam Islam, pernyataan Tuhan ada dimana-mana itu termasuk kesesatan. Kecuali, Anda sedang tidak membicarakan dalam sudut pandang Islam. Silahkan saja berasumsi begitu.

KutipBukti black hole ada lewat observasi ilmiah kan ada dimana-mana. Mungkin pengetahuan ilmuwan akan black hole masih belum sempurna dan masih masih ada paradox. Tapi tinggal didalami saja lagi. Siapa tahu ada mekanisme baru. Tapi observasi ilmiah jelas mengindikasikan ada kekuatan super besar penarik benda/materi di luar angkasa sana melebihi gravitasi bintang. Mereka menyebutnya black hole.

[pranala luar disembunyikan, sila masuk atau daftar.]
Contoh observasinya?

KutipKonsep alam semesta yang anda yakini itu kan 3 dimensi. Apakah langit ketujuh itu tidak dibungkus oleh apa-apa?
Dalam Islam, berdasarkan nash-nash shahih, di atas tujuh langit ada qursiy, air, surga, `arsy dan setelah itu tidak ada apa-apa lagi (nothingness).

Kutip dari: ytridyrevsielixetuls pada Januari 14, 2015, 09:06:40 PM"Mengapa alam semesta dianggap mengembang?"

Jawab mereka simple :

"Karena bintang-bintang bergerak ke spektrum merah (mengalami redshift), alias karena Doppler effect".
Koreksi, ya.

Kalau pertanyaannya mengapa, harusnya dijawab karena ada Dark--supranatural--Energy. Tapi kalau pertanyaannya, "Apa buktinya alam semesta dianggap mengembang?" Baru jawabannya nyambung.

KutipGeocentrist menawarkan teorinya sebagai penjawab paradox tsb. Menurut geocentrist, alam semesta terbatas, bumi diam, dll. Motifnya memang iman. Tapi sebenarnya setiap teori itu ada paradoxnya tidak terkecuali geocentrism sendiri. Tinggal anda mau yang mana. Tapi soal bukti, heliocentrism punya lebih banyak.
Banyak kalau enggak telak ya, buat apa? ;D ;D ;D

Dari sejak awal join ForSa saya belum dikasih bukti telak yang kira-kira bisa men-disprove Geocentrism. Sementara, di pihak saya sendiri, meski tidak banyak, tapi lumayan telak.

Jangan jauh-jauh, coba dulu flashback ke eksperimen Michelson-Morley.  8)