Member baru? Bingung? Perlu bantuan? Silakan baca panduan singkat untuk ikut berdiskusi.

Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?

Juni 18, 2021, 12:22:07 AM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139653
  • Total Topik: 10396
  • Online Today: 34
  • Online Ever: 441
  • (Desember 18, 2011, 12:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 30
Total: 30

Ikuti ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Penulis Topik: DUSTA SEJARAH KISAH KEN AROK, PERANG BUBAT & SUMPAH PALAPA  (Dibaca 1705 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline ezankthea

  • Siswa Baru
  • *
  • Tulisan: 0
  • IQ: 0
  • ForSa!
DUSTA SEJARAH KISAH KEN AROK, PERANG BUBAT & SUMPAH PALAPA
« pada: Oktober 31, 2016, 11:58:11 AM »
DUSTA SEJARAH KISAH KEN AROK, PERANG BUBAT & SUMPAH PALAPA
(Analisa Penelusuran Isi Kitab Pararaton)
Bagian I
Created : Ejang Hadian Ridwan



Dari statistik yang coba dikumpulkan, berdasarkan nama-nama orang atau para pelaku dalam Kitab Pararaton, terlihat hampir 85% nama-nama dalam nuansa yang biasa dalam pelafalan dan keseharian orang-orang Sunda, dari jumlah nama yang ada. Sekitar 55% nama-nama dalam nuansa yang biasa dalam pelafalan dan keseharian orang-orang jawa. Maka, ada selisih 30% adalah ada nama-nama yang biasa dipakai oleh kedua suku bangsa itu.

Berdasarkan data ini, dicoba untuk disimpulkan bahwa yang membuat kitab Pararaton adalah mereka yang kental sekali atau paham/fasih berbahasa Sunda. Dilihat dari daftar jumlah para pelaku yang terlibat dalam kitab Pararaton sungguh fantastis, terlihat dengan jumlah total lebih dari 200 nama, dengan nama-nama berbeda, walau pun dalam kitab Pararaton sendiri sering mengambil nama alias, artinnya 1 orang bisa mendapat nama 2 atau lebih nama, atau bisa juga 1 orang hanya mewaliki 1 nama.

Statistik ini memberikan ukuran jumlah nama, bukan jumlah orang, untuk sebuah buku yang hanya berjumlah 35-an lembar dengan format tulisan misal Tahoma dan skala font 11, sungguh fantastis bisa menghasilkan lebih dari 200 nama, sementara isi dari kitab pararaton sendiri bersifat semi fiksi, artinya si pengarang akan ada kesulitan besar dalam membuat dan menyesuaikan nama-nama tersebut sesuai urutan waktu kejadian dan tempat, dan diyakini akan muncul deviasi atau penyimpangan dari pemilihan-pemilihan nama-nama itu.

Penyimpangan-penyimpangan nama itu adalah keuntungan untuk para penganalisa, soalnya kecendrungan nama yang diberikan akan sangat terpengaruh oleh latarbelakang si pengarang atau pembuat, keuntungannya itu yaitu untuk menganalisa identitasnya walaupun hanya secara garis besar.

Dilihat dari nama-nama yang muncul dan hasil prosentase yang coba dilakukan, terlihat nama-nama dalam nuansa Sunda yang paling dominan, seperti yang tadi disampaikan, bahwa si pembuat adalah mereka yang paham dan terbiasa dengan nama-nama keseharian dari orang Sunda.

Dalam hal ini bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa ini rekayasa dari orang-orang suku Sunda, tapi bisa jadi oknum, yang mungkin dari para sastrawan Sunda atau pihak lain yang sangat paham tentang adat dan kebiasaan dari orang Sunda.

Bahkan satu hal yang tidak dipahami logika sama sekali, mengapa Raja Majapahit yaitu Maharaja Sri Rajasanegara hanya terkenal dengan sebutan Hayam Wuruk, dan nama ini berasal dari kitab Pararaton, bukan terkenal dengan nama aslinya.

Kata hayam dalam bahasa Sunda mempunyai pengertian ayam dan wuruk dalam bahasa Sunda mempunyai pengertianya adalah jago lebih ke arah jagoan atau jantan secara pertarungan atau perkelahian, kalau disatukan artinya adalah ayam yang jagoan dalam hal bertarung atau berkelahi, itulah pengertian Hayam Wuruk yang menjadi sebutan nama bagi pemilik kerajaan besar Majapahit. Hayam dan wuruk adalah kata yang dalam pelafalan dan arti dalam bahasa Sunda yang sudah biasa.

Seluruh bangsa Indonesia sangat fasih kalau ditanya tentang nama raja Majapahit, pasti dengan sepontan mereka menjawab Hayam Wuruk. Ini membuktikan sebegitu besar pengaruh kitab Pararaton untuk untuk memberikan warna sejarah kebangsaan.

Nama Hayam Wuruk selain dari kitab Pararaton tidak ada nama referensi dari bukti sejarah lainnya, selain dari kitab kidung Sunda yang dicurigai merupakan penguat keberadaan kitab Pararaton, tapi spesifikasi atau khusus untuk mendukung terjadinya peristiwa Perang Bubat, tetapi untuk bukti sejarah lainya yang bisa dipertangugjawabkan nama Hayam Wuruk belum ada bukti otentiknya. Menurut catatan sejarah penerbitan kitab Kidung Sunda sendiri tidak lama berselang setelah kitab Pararaton diterbitkan.

Satu hal lagi, ada beberapa nama yang ditemukan yang biasanya nama-nama itu terdapat dalam kehidupan masa kini suku Sunda (red, penulis asli Sunda juga), seperti : Cucu, Kebayan, Tita, Tati, dan Macan Kuping. Paling tidak nama-nama itu, nama-nama yang diperkirakan muncul dan biasa tersebar pada kisaran abad sekarang ini atau satu abad sebelumnya paling tidak.

Apakah ini salah penerjemahan atau memang begitu adanya. Kalau memang begitu adanya berarti kitab ini belum lama diciptakan atau dibuat, masih dalam kisaran 1 sampai dengan 2 abad sebelumnya atau sekitar abad 19 dan abad 20.

Analisa lainya yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas yaitu mengenai perihal status dan motif yang mendasari kitab ini ditulis. Di akhir naskah kitab Pararaton terdapat petikan sebagai berikut :

Kutip
"Demikian itulah kitab tentang para datu. Selesai ditulis di Itcasada di desa Sela Penek, pada tahun saka: Keinginginan Sifat Angin Orang, atau: 1535.

Diselesaikan ditulis hari Pahing, Sabtu, minggu Warigadyan, tanggal dua, tengah bulan menghitam, bulan kedua.

Semoga ini diterima baik oleh yang berkenan membaca, banyak kekurangan dan kelebihan huruf hurufnya, sukar dinikmati, tak terkatakan berapa banyaknya memang rusak, memang ini adalah hasil dari kebodohan yang meluap luap berhubung baharu saja belajar.

Semoga panjang umur, mudah mudahan demikian hendaknya, demikianlah, semoga selamat bahagia, juga sipenulis ini."

Kalau dilihat dari tahun saka 1535, tahun yang dinyatakan sebagai perlambang "Keinginginan Sifat Angin Orang", dan bisa jadi ini adalah bahasa isyarat (secret code) yang ingin coba disampaikan pengarang untuk menyatakan bahwa ketika dia menulis pada dasarnya adalah atas dasar perintah atau keinginan orang lain, yaitu dengan mencoba menafsirkan maksud dari "sifat arah angin" yang bisa saja dapat diartikan bahwa tulisannya yang dibikin, harus berdasarkan keinginan seseorang, sekelompok orang atau pihak tertentu.

Si pengarang memberi tanda atau kode isyarat sebagai informasi tersirat, karena bisa jadi apa yang ditulis merupakan kebohongan besar atau jauh dari kebenaran, walau pun ada fakta sejarah yang sama, disitu juga pengarang ingin memberitahukan bahwa dia bukanlah penulis yang layak.

Keterbatasan keilmuan dan sumber sejarah yang dimiliknya, yang juga dalm kondisi masih dalam tarap belajar atau baru saja mempelajarinya, ini artinya memang dia sadar apa yang ditulis dengan kemampuann yang dimilikya itu akan banyak celah untuk dipertanyakan kebenaranya.

Tapi kemampuan dia paling utama yang sangat diperlukan pada waktu itu adalah kemampuan menulis, membaca dan berbahasa satra kuno, sesuai dengan tujuan yang diperlukan oleh untuk kitab itu supaya kelihatan bukan hal yang direkayasa.

Kata-kata terakhir adalah ucapan doa panjang umur, seolah-olah bahwa ada bayang-bayang ketakutan, bahwa dengan menulis kitab Pararaton itu dia sadar akan resiko yang akan dihadapi setelahnya. Bisa jadi si pengarang dibawah bayang-bayang ancaman kematian, yaitu dari pihak yang menyuruh.

Hal ini sejalan dengan teori pembuktian, maksudnya untuk menghilangkan jejak, karena si pengarang tahu bahwa ada kepentingan besar atas kebohongan sejarah yang dibuat, sehingga kata-kata "juga si penulis ini" pada akhir kalimat adalah penegasan dari doa panjang umur yang dia panjatkan di awal kalimat, kemungkinan ini timbul akibat rasa ketakutan itu.

"Demikian itulah kitab tentang para datu” petikan ini sering diartikan, bahwa kitab Pararaton sebagai kitab yang berisi kisah para raja Wangsa Rajasa. Kata “datu” sendiri tidaklah biasa digunakan oleh orang-orang yang mempunyai latar belakang kesukuan Sunda atau Jawa, ini adalah istilah dalam bahasa Melayu.

Terlihat bahasa sastra yang digunakan adalah bahasa campuran bukan bahasa asli, dan bahasa campuran dengan melayu hanya terjadi pada abad-abad yang belum lama. Bisa jadi ini untuk mengkaburkan dan memberikan alibi bahwa orang Melayu yang membuat, tehnik memberikan jejak palsu.

Untuk sementara itu yang bisa disampaikan penulis, nanti lebih jauh akan dibahas mengenai urutan waktu mulai dari penemuan dan asal muasal kitab Pararaton ini diterbitkan. Urutan waktu dan asal usul kitab bisa dijadikan bahan untuk menhanalisa lebih jauh, latar belakang pembuatan dan kesimpulan yang merupakan justifikasi tentang kitab Pararaton ini. (bersambungke bagian II). Di bagian II bahas kesimpulan tentang dusta sejarah kisah Ken Arok < Perang bubat & Sumpah Palapa

Kelengkapan artikel di sini

Wassalam
Penulis

 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
4 Jawaban
8108 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 30, 2008, 03:27:26 AM
oleh Melnick
9 Jawaban
15049 Dilihat
Tulisan terakhir November 02, 2009, 04:11:48 PM
oleh am20
28 Jawaban
215575 Dilihat
Tulisan terakhir Februari 26, 2017, 08:19:05 AM
oleh AttaZ
4 Jawaban
10591 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 28, 2016, 12:03:57 AM
oleh Monox D. I-Fly
16 Jawaban
7215 Dilihat
Tulisan terakhir September 16, 2014, 02:07:33 AM
oleh mynick