Gunakan MimeTex/LaTex untuk menulis simbol dan persamaan matematika.

Welcome to Forum Sains Indonesia. Please login or sign up.

Agustus 19, 2022, 11:50:49 AM

Login with username, password and session length

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
  • Total Anggota: 26,765
  • Latest: KlausKep
Stats
  • Total Tulisan: 139,633
  • Total Topik: 10,390
  • Online today: 41
  • Online ever: 441
  • (Desember 17, 2011, 09:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 36
Total: 36

Aku Cinta ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Kemerdekaan Indonesia?

Dimulai oleh superstring39, Agustus 13, 2009, 08:56:49 AM

« sebelumnya - berikutnya »

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

superstring39

Sebentar lagi kita akan merayakan hari kemerdekaan negara kita. namun yang perlu disadari bahwa telah 64 tahun negara kita merdeka tapi apakah kita telah merasa bahwa kita telah sejajar dengan negara lain? jika diingat masa lalu negara kita saat masih dipimpin oleh presiden pertama kita Ir. Soekarno, betapa hebatnya negara kita saat itu. Negara kita dipandang sebagai negara yang hebat se-ASEAN bahkan sempat memimpin ASEAN. saat diadakannya KTT ASIA-AFRIKA negara kita dipercaya untuk memimpin konferensi tersebut. Pasukan garuda (kalo yang ini mungkin sudah masa pemerintahan Bpk. Soeharto) telah menjelajah bersama pasukan PBB untuk mendamaikan dunia dan memperoleh prestasi yang diakui oleh seluruh negara di dunia. Negara tetangga kita, Malaysia, mengirimkan setumpuk guru-guru mereka untuk belajar di Indonesia. ini hanya sebagian kecil kejayaan kita di masa lalu.

Tapi dimana kita sekarang? Mungkin beberapa negara menganggap kita malas, miskin bahkan negara pencetak teroris. Apakah kita hanya akan diam saja negara kita diremehkan oleh negara lain bahkan oleh negara tetangga kita yang dulunya belajar disini justru sekarang yang terjadi sebaliknya? kita telah kehilangan nilai-nilai yang dulu negara kita miliki. kita telah melupakan jati diri negara kita sesungguhnya.

Apa yang salah? Ideologi-ideologi luar sangat mudah merasuki bangsa ini. begitu banyak ideologi, pemikiran, tren yang masuk ke negara kita namun filter untuk menyaring semua itu hampir tidak ada. sekarang kita lebih mengagung-agungkan negara barat dibandingan negara ini. semua yang berasal dari negara barat kita anggap hebat dan wajib diikuti. semua itu telah menghancurkan ideologi, sifat dan adat-istiadat yang dulu sangat erat melekat di jiwa setiap rakyat Indonesia. Kita telah kehilangan Kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. sebagian besar rakyat kita bahkan menganggap remeh bangsa ini dibandingkan negara barat bahkan negara asia lain.

Sungguh tragis dan ironis. bagaimana bangsa lain akan menghargai negara ini jika rakyatnya tidak bisa menghargai negaranya sendiri. bagaimana bisa kita dipandang oleh negara lain jika kita tidak bangga menjadi seorang warga Indonesia. kita harus mengembalikan harga diri kita sebagai sebuah bangsa dan negara. jangan mau diintimidasi oleh bangsa lain, jangan mau didikte oleh negara lain. kita memiliki semua yang dibutuhkan oleh sebuah bangsa dan negara. kenapa kita harus menggunakan milik bangsa lain yang belum tentu sesuai dengan negara kita?

Walau secara fisik kita telah merdeka namun sesungguhnya kita tidak benar-benar merdeka! kita masih terjajah oleh bangsa lain, terjajah secara ekonomi, politik, ideologi dan masih banyak. bahkan negara kita sedang dikuras jauh lebih banyak dibandingkan sebelum kita merdeka. kita harus bangkit dari keterjajahan ini. HIDUP INDONESIAKU, MERDEKA INDONESIAKU!!!


heru.htl

#1
@ bung superstring39:

Kita Bangsa Indonesia sebenarnya terjajah oleh kebiasaan malas kita sendiri, termasuk malas mempelajari yang jlimet-jlimet atau yang rumit-rumit. Laga kita saja yang pada kayak profesor ber-IQ 200, tetapi bikin alat macam handphone atau flashdisk yang cuma sebesar 2x jari telunjuk saja tidak mampu.
Asal ketemu yang rumit-rumit, otak kita mengalami saturasi seperti rangkaian listrik berimpedansi kawat NYY/NYG tetapi mendapat suplay dari sumber arus dihantar dengan kabel ukuran sebesar rambut == tegangan suplay 42 V tetapi yang sampai ke otak kita yang malas cuma 6.3 V plus arusnya nggak rata lagi sebab kapasitor riple-filter-nya pada ngadat atau mungkin kapasitas kapasitor-kapasitor riple-filter itu pada korup.
Sialnya, asal ketemu sukses, kita jadi lupa diri dan terlalu bangga lupa daratan kayak lampu balon listrik kelebihan tegangan, nyala terang sebentar kayak lampu blitz tetapi terus wolfame-nya putus dan tamat :: Lep - pet!, lep-nya cuma sekali tetapi pet-nya seterusnya. Kita bukannya "HABIS GELAP TERBITLAH TERANG" tetapi "TERANG SEKALI TERUS PADAM MENJADI GELAP TERUS-TERUSAN".

mbah hardjo

Iya. Iya. Tadi lihat upacara 17-an di TV rasanya sedih banget. Dibalik kibaran bendera itu terbayang blingsatannya orang2 ternama yang pakai kedok 'demi rakyat dan bangsa Indonesia'. Padahal aura mereka jelas terlihat bahwa kelakuan mereka itu cuma demi kelompok dan pribadinya sendiri. Di-renung2 kelihatannya ini gara2 demokrasi yang kebablasan, kita belum siap menerima keperkasaan demokrasi, sehingga demokrasi merembes dan menjebol tak terarah ke-mana2 nyaris tanpa aturan. Malah aturan yang adapun kalau perlu dengan dalih demokrasi dicoba untuk dijebol pula.
Jadi ancaman bangsa dan negara Indonesia saat ini yang terbesar menurut saya "demokrasi yang kebablasan". Dari situlah muncul turunannya: ekonomi biaya tinggi, korupsi, bahkan terorisme yang menyelinap lewat jalur agama. Negara ini walau masih tersamar, sudah mulai kehilangan kebangsaannya.
Sungguh, rasanya kita jadi sangat hina dimata para pahlawan yang dengan nyawanya telah diberikan demi Negara dan Bangsa Indonesia ini.
Di hari kemerdekaan ini saya sangat sedih..........   

mbah hardjo

Waktu, biaya, dan energi untuk demokrasi-kebablasan ini membuat Indonesia terkuras habis2an. Pembangunan tersendat, harta budaya tak terurus. Setelah beberapa budaya dan makanan dicuri, bagaimana kalau Panca Sila nantinya dicuri juga?

mbah hardjo

Numpang thread unt Hari Kemerdekaan tetangga.

Kepada tetangga saya mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Kemerdekaan.
Jangan lupa ziarah ke Taman Makam Pahlawan Pejuang yang telah mengorbankan nyawa berperang merebut kemerdekaan dari tangan penjajah Inggris.