Gunakan MimeTex/LaTex untuk menulis simbol dan persamaan matematika.

Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?

September 28, 2021, 12:16:30 PM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139666
  • Total Topik: 10406
  • Online Today: 60
  • Online Ever: 441
  • (Desember 18, 2011, 12:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 34
Total: 34

Ikuti ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Penulis Topik: Frans Magnis Suseno tolak Bakrie Award krn masalah Lapindo  (Dibaca 8441 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline peregrin

  • Global Moderator
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 538
  • IQ: 100
  • Gender: Wanita
  • 'truth' is a lonely thing (J.Gaarder)
Frans Magnis Suseno tolak Bakrie Award krn masalah Lapindo
« pada: September 20, 2007, 03:58:29 PM »
Dari sedikit berita tentang Romo Magnis Suseno yg menolak Bakrie Award, ada satu post menarik yg saya temukan di google.

Salut utk Romo Magnis  :)


Kutip
Frans Magnis Suseno Tolak Bakrie Award karena Masalah Lumpur Sidoarjo

Agt 14th, 2007 by Kang Adhi

Harian Kompas pagi ini, 14/08/2007, memuat dua hal menarik. Satu iklan berwarna penuh, berlatar merah putih dari Freedom Institute tentang pemenang Bakrie Award. Dan satu berita kecil tentang penolakan salah seorang pemenang, Frans Magnis Suseno. Mengapa ia menolak?


Frans Magnis ditetapkan sebagai pemenang karena jasanya membahas masalah bangsa dari sudut etika selama empat puluh tahun. Etika bukanlah ajaran moral, melainkan telaah kritis tentang ajaran moral. Dengan etika, warganegara sanggup mengembangkan moralitas baru maupun memperbaharui moralitas. Etika membebaskan manusia dari moralitas copy paste yang membebek dan mengkangkangi akal budi. Selain 33 buku karya, Magnis menulis ratusan artikel lepas diberbagai media.

Frans Magnis Suseno, rohaniwan, budayawan, kolumnis, dan guru besar etika itu menolak sebuah award yang berlumuran lumpur sidoarjo. Pasalnya, Bakrie anak keturunan yang namanya diabadikan dalam award, dan tentu menjadi penyandang dana Freedom Institute itu, terlibat dalam kasus kemanusiaan lumpur lapindo brantas yang belum selesai juga.

Para budayawan seperti Natan Setiabudi, Chalid Muhammad, Rieke Dyah Pitaloka, Tjuk Kasturi Sukiadi, Bondan Gunawan, Fajroel Rachman dan Benny Susetyo memberi dukungan atas sikap Magnis.

Ada lima alasan dukungan itu diberikan: (1) Bencana lumpur panas di Porong, Sidoarjo adalah kejahatan kemanusiaan (2) Masyarakat intelektual harus mendukung rakyat bukan kaom modal yang menginjak harkat dan martabat rakyat. (3) Masalah lumpur panas adalah masalah Negara yang absen atau membiarkan masyarakat tertindas. (4) Ada pelanggaran konstitusional dalam penyelesaian masalah lumpur panas. (5) kaum intelektual bersama rakyat harus melawan pelanggaran ini dengan menyampaikan mosi tidak percaya terhadap pemerintah.

Nah omong-omong soal pelanggaran konstitusi, beberapa harian ibukota juga memuat berita menarik. Mahkamah Konstitusi yang dikomandoi Jimly Asshiddiqie sedang bersuka ria. Pasalnya gedung kantor baru mereka baru jadi. Gedung kantor megah di atas tanah 4,2 ribu m2 itu bertiang 9, lambang 9 hakim konstitusi, dibangun dengan dana 196 milyar rupiah. Ironis.

Kembali ke Bakrie Award, ketua Freedom Institute, Rizal Mallarangeng berkomentar lucu, menggunakan logika yang sama sekali tidak intelektual bahkan immoral. Katanya, “Penolakan Frans Magnis tetap harus dihargai. Penghargaan Achmad Bakrie 2007 yang disampaikan Freedom Insitute tidak terkait dengan masalah lumpur panas di Sidoarjo.

Lucu, karena logika Rizal mengesahkan semangat yang rumusan sinisnya begini “Mari kita kelola uang dari perampok untuk memperbaiki citra perampok. Uang itu tidak ada hubungannya dengan perampokan kok”.

Lho? Begitukah wajah intelektual Indonesia yang mengabdi modal?

#Sumber: htp://pitoyoadhi.wordpress.com/2007/08/14/magnis/
Free software [knowledge] is a matter of liberty, not price. To understand the concept, you should think of 'free' as in 'free speech', not as in 'free beer'. (fsf)

Offline reborn

  • Founder
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2.256
  • IQ: 322
  • Gender: Pria
  • ForSa
Re: Frans Magnis Suseno tolak Bakrie Award krn masalah Lapindo
« Jawab #1 pada: September 20, 2007, 06:50:22 PM »
“Mari kita kelola uang dari perampok untuk memperbaiki citra perampok. Uang itu tidak ada hubungannya dengan perampokan kok”.

Post of the day nih!!!!!!!!!

peregrin postingannya bagus2 nih, nemu aja sih  ;)
kok gak malu ya penghargaannya ditolak gitu  ???

 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
8 Jawaban
10357 Dilihat
Tulisan terakhir Februari 22, 2007, 08:27:26 AM
oleh reborn
0 Jawaban
3288 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 03, 2007, 02:34:48 PM
oleh reborn
8 Jawaban
30809 Dilihat
Tulisan terakhir Februari 03, 2016, 06:29:57 AM
oleh The Houw Liong
ForSa Award!

Dimulai oleh nash « 1 2 ... 11 12 » Kotak Saran

169 Jawaban
56643 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 27, 2011, 05:51:41 AM
oleh Balya
0 Jawaban
1706 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 24, 2010, 11:54:33 AM
oleh raisuien