Selamat datang di ForSa! Forum diskusi seputar sains, teknologi dan pendidikan Indonesia.

Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?

Maret 10, 2021, 06:36:43 AM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
  • Total Anggota: 26699
  • Latest: Rion
Stats
  • Total Tulisan: 139622
  • Total Topik: 10385
  • Online Today: 37
  • Online Ever: 441
  • (Desember 18, 2011, 12:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 36
Total: 36

Ikuti ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Penulis Topik: Etika Berbicara dalam Islam  (Dibaca 929 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

CHECHEN

  • Pengunjung
Etika Berbicara dalam Islam
« pada: September 07, 2016, 07:39:11 AM »
Berbicara merupakan salah satu media komunikasi sesama manusia yang efektif. Dengan berbicara, Qt dapat menyampaikan maksud, tujuan dan gagasan Qt kepada orang lain . Namun dalam berbicara Qt juga harus memperhatikan etika yang dapat memberikan manfaat kepada orang lain. Selain itu juga, dapat mendatangkan kebaikkan dan keberkahan. Oleh karena itu, ketika berbicara Qt harus memperhatikan isi dari topic yang sedang dibicarakan agar pembicaraan tersebut tidak menjurus kepada hal yang bersifat negatif atau bahkan cenderung membawa kepada keributan.
 
Sebagai seorang muslim (Islam), merupakan keharusan bagi Qt tuk berkata-kata yang dapat membawa kebaikan dan berkah. Mengutip dari sumber koran republika pada tanggal 23 Februari lalu, yang ditulis oleh Ade Muzaini Aziz MA bahwa di dalam Al-Qur’an, setidaknya disebutkan ada tujuh jenis perkataan yang sesuai dengan ajaran Islam. Pertama, qawlun ma’ruf (perkataan yang baik). Perkataan jenis ini identik dengan kesantunan dan kerendahan hati. Al-Qur’an mensinyalir bahwa mengucapkan qawlun ma’ruf lebih baik dari pada bersedekah yang disertai kedengkian (QS. Albaqarah : 236).
 
Kedua, qawlun tsabit (ucapan yang teguh). Perkataan ini punya argumentasi yang kuat serta dilandasi keimanan yang kokoh. Tidak ada keraguan yang menyelimutinya. Kezaliman yang nyata patut dihadapi dengan perkataan jenis ini (QS Ibrahim : 27).
 
Ketiga, qawlun sadid (perkataan yang benar). Tiada dusta dan kebatilan dalam ucapan ini. Kata sadid berasal dari sadda yang berarti menutup, membendung, atau menghalangi. Qawlun sadid yang diucapkan berfungsi untuk mencegah terjadinya kemungkaran dan kezaliman. Bukti ketaqwaan seseorang mukmin diantaranya gemar mengucapkan perkataan ini (QS. Al-ahzab : 70).
 
Keempat, qawlun baligh (ucapan yang efektif dan efesien). Ini adalah ucapan yang cermat, padat berisi, mudah dipahami, dan tepat mengenai sasaran alias tidak ngelantur. Tipe perkataan ini akan berpengaruh kuat bagi pendengarnya (QS An-nisa : 63).
 
Kelima, qawlun karim (perkataan yang mulia) ia adalah tutur kata yang bersih dari kecongkakkan dan nada merendahkan atau meremehkan lawan bicara. Terdapat semangat memuliakan, menghormati, dan menghargai terhadap lawan bicara dalam qawlun karim tersebut (QS. Alisra : 23).
 
Keenam, Qawlun masyur (ucapan yang layak dan pantas) masyur arti asalnya adalah memudahkan. Ucapan ini mengandung unsur memudahkan segala kesukaran yang menimpa orang lain, dan menghiburnya guna meringankan beban kesedihan (QS Al-Isra : 28).
 
Ketujuh, qawlun layyin (tutur kata yang lemah lembut). Kelembutan diharapkan dapat menundukkan kekerasan, sebagaimana air dapat memadamkan api, inilah pesan Allah kepada nabi Musa dan nabi Harun ketika keduanya hendak menghadap Fir’aun yang zalim (QS. Thaha : 44).
 
Rasulallah SAW pun mengingatkan; “(muslim terbaik) ialah yang orang-orang Muslim lainnya selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya (perbuatannya).” HR. Bukhari dan Muslim). Semoga lisan, tulisan dan tindakan kita, senantiasa sesuai dengan tuntunan Ilahi dan para nabi, Amiiin.
 
Sumber Koran Republika (23 februari 2010)

CHECHEN

  • Pengunjung
Re:Etika Berbicara dalam Islam
« Jawab #1 pada: September 07, 2016, 07:43:53 AM »

Berbicara merupakan salah satu media komunikasi sesama manusia yang efektif. Dengan berbicara, Qt dapat menyampaikan maksud, tujuan dan gagasan Qt kepada orang lain . Namun dalam berbicara Qt juga harus memperhatikan etika yang dapat memberikan manfaat kepada orang lain. Selain itu juga, dapat mendatangkan kebaikkan dan keberkahan. Oleh karena itu, ketika berbicara Qt harus memperhatikan isi dari topic yang sedang dibicarakan agar pembicaraan tersebut tidak menjurus kepada hal yang bersifat negatif atau bahkan cenderung membawa kepada keributan.
 
Sebagai seorang muslim (Islam), merupakan keharusan bagi Qt tuk berkata-kata yang dapat membawa kebaikan dan berkah. Mengutip dari sumber koran republika pada tanggal 23 Februari lalu, yang ditulis oleh Ade Muzaini Aziz MA bahwa di dalam Al-Qur’an, setidaknya disebutkan ada tujuh jenis perkataan yang sesuai dengan ajaran Islam. Pertama, qawlun ma’ruf (perkataan yang baik). Perkataan jenis ini identik dengan kesantunan dan kerendahan hati. Al-Qur’an mensinyalir bahwa mengucapkan qawlun ma’ruf lebih baik dari pada bersedekah yang disertai kedengkian (QS. Albaqarah : 236).
 
Kedua, qawlun tsabit (ucapan yang teguh). Perkataan ini punya argumentasi yang kuat serta dilandasi keimanan yang kokoh. Tidak ada keraguan yang menyelimutinya. Kezaliman yang nyata patut dihadapi dengan perkataan jenis ini (QS Ibrahim : 27).
 
Ketiga, qawlun sadid (perkataan yang benar). Tiada dusta dan kebatilan dalam ucapan ini. Kata sadid berasal dari sadda yang berarti menutup, membendung, atau menghalangi. Qawlun sadid yang diucapkan berfungsi untuk mencegah terjadinya kemungkaran dan kezaliman. Bukti ketaqwaan seseorang mukmin diantaranya gemar mengucapkan perkataan ini (QS. Al-ahzab : 70).
 
Keempat, qawlun baligh (ucapan yang efektif dan efesien). Ini adalah ucapan yang cermat, padat berisi, mudah dipahami, dan tepat mengenai sasaran alias tidak ngelantur. Tipe perkataan ini akan berpengaruh kuat bagi pendengarnya (QS An-nisa : 63).
 
Kelima, qawlun karim (perkataan yang mulia) ia adalah tutur kata yang bersih dari kecongkakkan dan nada merendahkan atau meremehkan lawan bicara. Terdapat semangat memuliakan, menghormati, dan menghargai terhadap lawan bicara dalam qawlun karim tersebut (QS. Alisra : 23).
 
Keenam, Qawlun masyur (ucapan yang layak dan pantas) masyur arti asalnya adalah memudahkan. Ucapan ini mengandung unsur memudahkan segala kesukaran yang menimpa orang lain, dan menghiburnya guna meringankan beban kesedihan (QS Al-Isra : 28).
 
Ketujuh, qawlun layyin (tutur kata yang lemah lembut). Kelembutan diharapkan dapat menundukkan kekerasan, sebagaimana air dapat memadamkan api, inilah pesan Allah kepada nabi Musa dan nabi Harun ketika keduanya hendak menghadap Fir’aun yang zalim (QS. Thaha : 44).
 
Rasulallah SAW pun mengingatkan; “(muslim terbaik) ialah yang orang-orang Muslim lainnya selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya (perbuatannya).” HR. Bukhari dan Muslim). Semoga lisan, tulisan dan tindakan kita, senantiasa sesuai dengan tuntunan Ilahi dan para nabi, Amiiin.
 Oleh : Ade Muzaini Aziz, Lc, MA.
Sumber Koran Republika (23 februari 2010)
[/quote]

 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
43 Jawaban
26268 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 31, 2010, 09:58:05 PM
oleh The Houw Liong
232 Jawaban
75705 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 02, 2012, 10:09:35 AM
oleh mhyworld
0 Jawaban
4386 Dilihat
Tulisan terakhir Februari 07, 2011, 09:22:13 PM
oleh familycode
2 Jawaban
3985 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 05, 2011, 03:27:40 AM
oleh Farabi
0 Jawaban
2521 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 03, 2012, 03:57:00 AM
oleh sayang